Duel Dua Raksasa Rugby: Wigan vs Hull KR, 'Unofficial World Club Challenge' di Final Piala Challenge
Baca dalam 60 detik
- Hull KR dan Wigan Warriors, dua tim terkuat Super League, akan bertemu di final Piala Challenge setelah Hull KR memenangi treble domestik musim lalu.
- Pertandingan ini disebut sebagai 'Unofficial World Club Challenge' karena kedua tim telah mengalahkan juara NRL, mempertegas dominasi rugby Inggris.
- Pelatih Hull KR, Willie Peters, akan memimpin timnya untuk terakhir kalinya sebelum pindah ke Papua Nugini, menambah drama laga di Wembley.

Dua kekuatan dominan rugby liga Inggris, Hull KR dan Wigan Warriors, akan saling berhadapan dalam final Piala Challenge di Stadion Wembley, Sabtu (14.00 BST). Pertemuan ini bukan sekadar perebutan trofi domestik, melainkan juga ajang pembuktian siapa yang layak menyandang gelar 'juara dunia tak resmi' setelah kedua tim sukses mengalahkan jawara NRL dalam dua musim terakhir.
Hull KR datang ke Wembley dengan status juara bertahan Super League dan pemegang World Club Challenge, setelah pada Februari lalu mereka mengalahkan Brisbane Broncos, juara NRL. Prestasi ini semakin mengesankan mengingat klub tersebut baru promosi dari divisi dua sepuluh tahun lalu. Sementara itu, Wigan Warriors, yang telah 21 kali memenangi Piala Challenge, tengah berusaha mengakhiri paceklik trofi setelah musim lalu gagal di semua ajang.
Legenda Wigan, Martin Offiah, menyebut laga ini layaknya 'Unofficial World Club Challenge'. "Kedua tim telah mengalahkan tim Australia yang dianggap terbaik di dunia, Penrith Panthers dan Brisbane Broncos. Ini seperti mempertemukan dua tim terbaik rugby domestik untuk memperebutkan kejayaan," ujarnya kepada BBC Radio Manchester. Offiah juga mengingatkan bahwa kejutan bisa terjadi, seperti saat Sheffield Eagles mengalahkan Wigan di final 1998.
Bagi Hull KR, final ini menjadi momentum untuk membuktikan konsistensi. Setelah finis puncak klasemen dan memenangi Grand Final musim lalu, tim asuhan Willie Peters menargetkan gelar ganda. Namun, perjalanan mereka tidak mulus. Awal musim ini mereka mencatat tiga kekalahan dari tujuh pertandingan, meski kemudian bangkit dengan sembilan kemenangan beruntun menjelang final. "Kami butuh melalui banyak kesulitan untuk menjadi kelompok spesial. Kami membeli para pemenang dan mereka tahu cara menang," kata Peters.
Di sisi lain, Wigan memicu kontroversi dengan merotasi 10 pemain pada laga Super League terakhir melawan Hull KR, yang berakhir dengan kekalahan telak 62-4. Keputusan pelatih Matt Peet itu dianggap sebagai langkah taktis untuk menjaga kebugaran pemain inti di final. "Saya tumbuh besar di kota ini dan berharap Wigan menang. Saya tidak bisa membayangkan melatih klub tanpa ekspektasi tinggi," ujar Peet. Ia juga menekankan tanggung jawab tim terhadap penggemar yang telah mendukung.
Final ini juga menjadi panggung perpisahan bagi Willie Peters. Pelatih asal Australia itu akan meninggalkan Hull KR pada akhir musim untuk menangani Papua Nugini Chiefs, tim ekspansi NRL. Peters mengakui bahwa performa timnya di dua final sebelumnya belum maksimal, meski berhasil memenangi Piala Challenge musim lalu. "Kami belum menampilkan performa terbaik. Jika kami bisa melakukannya pekan ini, itu akan menempatkan kami dalam posisi kuat," katanya.
Bagi penggemar rugby di Indonesia, pertandingan ini bisa menjadi tontonan menarik untuk menyaksikan kualitas rugby Inggris yang tengah naik daun. Dengan dominasi Super League atas NRL dalam dua tahun terakhir, laga ini juga menjadi indikator kekuatan rugby Eropa menjelang Piala Dunia 2025. Akankah Wigan kembali ke jalur juara, atau Hull KR mempertahankan supremasinya? Jawabannya akan ditentukan di Wembley.



