Abdul Khan: Dari Bayang-Bayang Sepupu Legendaris Menuju Puncak Tinju Inggris
Baca dalam 60 detik
- Petinju kelas bulu Abdul Khan akan bertarung di Wembley dalam laga yang menandai kebangkitan petinju Asia Selatan di Inggris.
- Meski nama besar sepupunya, Amir Khan, membuka jalan, Abdul menegaskan prestasinya adalah hasil kerja keras sendiri.
- Laga ini menjadi ajang pembuktian bagi Abdul untuk lepas dari label 'sepupu Amir Khan' dan meraih pengakuan.

Sabtu ini, Wembley Arena akan menjadi saksi babak baru dalam sejarah tinju Inggris, ketika petinju kelas bulu Abdul Khan (23 tahun) naik ring melawan Liam Fitzmaurice. Lebih dari sekadar pertarungan biasa, malam ini dianggap sebagai titik balik bagi komunitas Asia Selatan di Inggris, dengan lima petinju keturunan Asia Selatan bertarung dalam satu kartu yang sama.
Abdul, yang belum terkalahkan dalam 14 pertarungan profesional dengan tiga kemenangan KO, sadar betul bahwa nama besarnya—sepupu dari legenda tinju Amir Khan—telah membuka banyak pintu. Namun, ia juga tahu bahwa pintu itu hanya akan terbuka lebar jika ia mampu membuktikan diri. "Saya bersyukur atas semua yang telah Amir lakukan untuk membuka pintu, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita bertahan di dalam ruangan itu," ujarnya kepada BBC Sport.
Perjalanan Abdul tidak semulus yang dibayangkan. Di balik sorotan lampu ring, ia menyimpan kisah pahit. Orang tuanya bercerai saat ia berusia 10 tahun, dan sejak saat itu ia menjadi tulang punggung keluarga. "Saya adalah laki-laki di rumah saya sejak usia 10 tahun. Ayah saya tidak pernah memberikan sepeser pun. Tinju memberi saya pelarian dari dunia nyata," kenangnya. Gelar juara nasional ABA junior diraihnya sebelum pandemi Covid memaksanya beralih ke profesional lebih awal.
Hubungan dengan Amir Khan, yang baru terjalin erat saat Abdul berusia 13 tahun, menjadi sumber inspirasi dan bimbingan. "Dia selalu ada di ujung telepon. Nasihatnya: kelilingi dirimu dengan orang yang tepat, kerja keras setiap hari, dan berkomitmen 100%," kata Abdul. Berkat koneksi itu, ia bahkan pernah berlatih tanding dengan petinju pound-for-pound, Terence Crawford. "Itu pengalaman tak ternilai. Meski dia hanya mengeluarkan 20% kemampuannya, saya belajar banyak tentang jarak, kecepatan, dan membaca pertandingan," tambahnya.
Bagi Abdul, pertarungan ini bukan sekadar ajang unjuk gigi. Ia ingin menjadi inspirasi bagi anak-anak dari keluarga broken home, tidak hanya di Inggris tetapi juga di Pakistan, negara yang sangat ia cintai. "Saya ingin semua anak—bukan hanya Asia Selatan—yang berasal dari keluarga berantakan, melihat saya dan tahu bahwa dengan tujuan yang jelas dan orang-orang yang tepat, segalanya mungkin," tegasnya. Ia bermimpi suatu hari bertarung di stadion kriket Pakistan, yang menurutnya akan laris manis.
Laga di Wembley ini juga menjadi sorotan karena menandai kebangkitan petinju Asia Selatan di panggung tinju Inggris. Selain Abdul, ada nama Adam Azim yang tak terkalahkan di kelas ringan junior, serta tiga prospek lainnya. Bagi Abdul, inilah saatnya untuk melepaskan diri dari bayang-bayang sepupunya dan membuktikan bahwa ia layak mendapat tempat di jajaran petinju top. Pertanyaannya, mampukah ia memanfaatkan momentum ini untuk melangkah lebih jauh, menuju gelar dunia yang diimpikannya dalam dua hingga tiga tahun ke depan?



