Gempa Magnitudo 3,2 Guncang Morowali, BMKG Rilis Peringatan Dini
Baca dalam 60 detik
- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa bumi dangkal berkekuatan magnitudo 3,2 di wilayah Morowali, Sulawesi Tengah, pada Selasa pagi.
- Pusat gempa berada di darat, 14 km tenggara Morowali, dengan kedalaman hanya 5 km, menandakan potensi guncangan terasa di permukaan.
- BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan, meski magnitudo kecil, mengingat karakteristik seismik aktif Sulawesi.
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 3,2 mengguncang wilayah Morowali, Sulawesi Tengah, pada Selasa (26/5/2026) pukul 10:26:59 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa pusat gempa berada di koordinat 2,79 Lintang Selatan dan 121,99 Bujur Timur, tepatnya 14 km di tenggara Morowali, dengan kedalaman sangat dangkal, yakni 5 km.
Meskipun magnitudo tergolong kecil, kedalaman yang rendah membuat guncangan berpotensi dirasakan oleh masyarakat di sekitar lokasi. BMKG menegaskan bahwa informasi awal ini mengutamakan kecepatan, sehingga data masih dapat berubah seiring kelengkapan informasi. Gempa dangkal seperti ini kerap terjadi di Sulawesi karena aktivitas tektonik di sesar-sesar aktif, termasuk Sesar Matano dan Sesar Lawanopo yang melintasi wilayah tersebut.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan atau korban jiwa. Namun, pihak berwenang setempat diminta untuk terus memantau perkembangan, terutama di daerah rawan longsor dan bangunan tidak tahan gempa.
Wilayah Sulawesi memang dikenal sebagai salah satu zona seismik paling aktif di Indonesia. Pertemuan beberapa lempeng mikro dan sesar lokal membuat kawasan ini kerap diguncang gempa kecil hingga menengah. Gempa Morowali kali ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan bencana, terutama bagi masyarakat yang tinggal di dekat pusat gempa.
Ke depan, masyarakat diharapkan terus mengakses informasi resmi dari BMKG dan tidak menyebarkan berita palsu. Pemantauan aktivitas seismik secara real-time oleh BMKG menjadi kunci dalam mitigasi risiko gempa bumi di Indonesia.



