Kedaulatan Pangan Berbasis Hutan: Pelajaran dari Masyarakat Adat Boti di Tengah Ancaman Iklim
Baca dalam 60 detik
- Masyarakat Adat Boti di NTT menerapkan diversifikasi tanaman dan aturan adat ketat untuk menjaga ketahanan pangan, bahkan saat El Nino melanda.
- Sistem pertanian polikultur dan konservasi hutan yang dijalankan suku Boti terbukti lebih adaptif terhadap perubahan iklim dibandingkan monokultur modern.
- Kemandirian pangan ini terancam oleh proyek strategis nasional seperti food estate dan hutan tanaman energi yang berpotensi merusak ekosistem adat.

Di tengah lahan kapur dan kemarau panjang yang kerap melanda Nusa Tenggara Timur, Masyarakat Adat Boti di Desa Boti, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan, justru menunjukkan ketahanan pangan yang luar biasa. Mereka tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi juga menjaga kelestarian hutan dan sumber daya alam secara turun-temurun. Praktik ini menjadi contoh nyata bagaimana kearifan lokal dapat menjadi solusi adaptif terhadap perubahan iklim.
Seo Neolaka, salah seorang perempuan adat Boti, dengan cekatan memanen jagung, sorgum, ubi jalar, dan berbagai jenis kacang-kacangan di ladangnya. Hasil panen tersebut kemudian disimpan dalam ume kbubu, lumbung tradisional yang menjadi simbol kemandirian pangan. "Kalau jagung kurang, masih ada sorgum, ubi, labu, pisang, atau kacang. Karena itu kami tidak boleh tanam satu jenis saja," ujarnya. Prinsip diversifikasi ini menjadi kunci utama ketahanan pangan mereka.
Raja Boti, Nama Benu, menegaskan bahwa alam yang terjaga menjadi alasan utama masyarakatnya tidak pernah mengalami kekurangan pangan. "Karena alam di sekitar tempat ini dijaga, sejak dulu sampai sekarang kami tidak alami kesusahan makanan," katanya. Hutan adat dijaga dengan aturan ketat: penebangan pohon hampir sepenuhnya dilarang, kecuali untuk kebutuhan material bangunan yang telah melalui upacara adat. Sistem ini menciptakan konservasi berbasis komunitas yang efektif.
Perempuan adat Boti, seperti Molo Benu, memegang peran sentral dalam mengelola pangan dan sumber daya alam. Setiap pagi dan petang, mereka memilah hasil panen dan menakar jumlah yang akan dikonsumsi. "Kami harus tahu kapan makan banyak dan makan sedikit. Jika semua dimakan sekarang, besok kami tidak punya apa-apa lagi," jelas Molo. Selain bertani, mereka juga menenun kain dari kapas yang diwarnai dengan akar mengkudu, kunyit, dan daun tarumโsemua bahan berasal dari hutan. "Tanpa hutan, kami tidak bisa menenun. Tidak ada benang, tidak ada warna, tidak ada kehidupan di sini," kata Heka Banoet, anggota Kelompok Tenun Tai Matani.
Agnes Natalya Boimanu, Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Kie, mengapresiasi strategi diversifikasi pangan yang diterapkan masyarakat Boti. "Praktik yang dilakukan di Boti Dalam sudah begitu baik. Bapak Raja dan warganya memiliki kebun dengan tanaman yang beragam. Untuk peternakan ada aturan kalau ternak wajib dikandangkan," ungkapnya. Ia juga mencatat bahwa masyarakat Boti Dalam tetap setia pada benih lokal dan menolak bantuan beras dari pemerintah, sementara benih hibrida lebih banyak digunakan oleh warga Boti Luar.
Siti Maimunah, Direktur Mama Aleta Fund, menilai pengetahuan lokal masyarakat Boti sebagai bentuk adaptasi ekologis yang lahir dari pengalaman kolektif menghadapi paceklik. "Model pertanian seperti di Boti justru lebih adaptif terhadap perubahan iklim dibanding sistem monokultur yang bergantung dari komoditas tertentu," katanya. Namun, ia memperingatkan bahwa kemandirian pangan ini terancam oleh pengembangan proyek strategis nasional (PSN) di Timor, seperti food estate dan hutan tanaman energi. Pembukaan kawasan hutan dan eksploitasi sumber daya alam berpotensi merusak daerah tangkapan air dan mengganggu basis penghidupan masyarakat adat.
Muke Benu, perempuan adat Suku Boti, menggambarkan hubungan erat mereka dengan hutan: "Hutan itu mama. Ibarat kalau mama dilukai, kami akan merasakan getahnya." Pernyataan ini menegaskan bahwa perlindungan tidak hanya pada hutan adat, tetapi juga pada pengetahuan lokal yang menjaga keseimbangan antara pangan, air, dan alam. Di tengah ancaman perubahan iklim dan tekanan pembangunan, model Boti menawarkan alternatif yang berkelanjutan dan patut menjadi perhatian para pemangku kepentingan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7240734/original/036437200_1780025633-IMG_0164.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7244269/original/047100000_1780030180-IMG_0582.jpeg)
