Piala Dunia 2026 di AS: Antara Semangat Pertukaran Budaya dan Ketegangan Imigrasi
Baca dalam 60 detik
- Piala Dunia 2026 yang akan digelar di AS, Kanada, dan Meksiko menjadi ajang paling multikultural dalam sejarah, namun kebijakan imigrasi AS yang ketat berpotensi menghambat kunjungan penggemar global.
- Tingkat pemesanan hotel di 11 kota tuan rumah AS jauh di bawah ekspektasi, sementara harga tiket dan transportasi melonjak drastis, memicu kekhawatiran akan rendahnya partisipasi penonton.
- FIFA belum mencapai kesepakatan hak siar dengan China dan India, dua pasar terbesar, yang dapat mengurangi dampak budaya global turnamen ini.

Piala Dunia 2026 akan menjadi edisi paling beragam secara budaya dalam sejarah turnamen sepak bola pria, dengan 48 tim peserta dan pertandingan yang tersebar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Namun, penyelenggaraan di AS terjadi di tengah meningkatnya sentimen anti-imigran dan kebijakan imigrasi yang ketat, menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana acara ini dapat menjadi wahana pertukaran budaya global.
Turnamen yang akan berlangsung mulai 11 Juni 2026 ini diperkirakan menarik sekitar 1,2 juta pengunjung internasional, lebih rendah dibandingkan 1,4 juta pengunjung di Piala Dunia 2022 Qatar. Penurunan ini sebagian disebabkan oleh operasi penegakan imigrasi oleh Immigration and Customs Enforcement (ICE) yang gencar diberitakan. Human Rights Watch bahkan mendesak FIFA untuk menekan pemerintah AS memberlakukan "gencatan senjata ICE" selama kompetisi.
Dari perspektif komunikasi antarbudaya, Piala Dunia seharusnya menjadi ajang pertemuan budaya yang memperkuat toleransi dan pemahaman. Sejarawan mencatat bagaimana tradisi seperti "gelombang stadion" yang populer sejak Piala Dunia 1986 di Meksiko atau vuvuzela dari Afrika Selatan pada 2010 menyebar ke seluruh dunia. Namun, suasana tidak ramah di AS dapat menghambat interaksi interpersonal yang menjadi inti dari pertukaran budaya tersebut.
FIFA membela harga tiket tinggi sebagai konsekuensi bisnis di pasar AS, namun perbandingan dengan Qatar menunjukkan lonjakan hingga lima kali lipat. Biaya transportasi juga menjadi sorotan; misalnya, tarif kereta pulang-pergi ke New Jersey semula direncanakan US$150, namun setelah protes publik diturunkan menjadi US$105, masih jauh dari tarif normal US$18. Kondisi ini, ditambah dengan kekhawatiran akan penegakan imigrasi, diperkirakan menjadi penyebab lesunya pemesanan hotel.
"Pertandingan di lapangan memiliki kekuatan untuk mengatasi politik sehari-hari dan menyatukan budaya," tulis profesor komunikasi antarbudaya dalam analisisnya. Namun, realitas di luar stadion justru menunjukkan potensi perpecahan.
Selain itu, FIFA belum menandatangani kesepakatan hak siar dengan China dan India, dua negara dengan populasi terbesar yang menyumbang 22,6% jangkauan televisi global pada Piala Dunia 2022. China sendiri menyumbang 49,8% jam tontonan digital. Tanpa akses siaran, dampak budaya turnamen ini bisa berkurang signifikan.
Piala Dunia 2026 menjadi ujian bagi kemampuan olahraga untuk menjembatani perbedaan di tengah iklim politik yang memanas. Meskipun potensi pertukaran budaya tetap besar, hambatan biaya dan kebijakan imigrasi dapat mengubah narasi dari perayaan global menjadi ajang yang justru mempertegas ketimpangan dan ketegangan.