Allegri Menangis Saat Beri Penghormatan untuk Sang Mentor, Giovanni Galeone
Baca dalam 60 detik
- Massimiliano Allegri tak kuasa menahan air mata saat memberikan pidato penghormatan untuk Giovanni Galeone, mantan pelatih sekaligus mentornya, dalam sebuah acara di Pescara.
- Galeone, yang meninggal pada November 2025 di usia 84 tahun, disebut Allegri sebagai pelatih visioner yang ide-idenya masih relevan hingga kini.
- Acara tersebut juga menjadi momen pertama pemberian penghargaan Galeone Award, yang diterima langsung oleh Allegri.

Massimiliano Allegri, pelatih yang baru saja dipecat AC Milan, tak mampu membendung haru saat memberikan penghormatan terakhir untuk Giovanni Galeone, sang mentor yang wafat pada November 2025. Dalam sebuah acara di Pescara, Allegri menangis tersedu-sedu saat mengenang sosok yang telah membentuk karier kepelatihannya.
Galeone, yang meninggal pada 2 November 2025 di usia 84 tahun, bukan sekadar pelatih bagi Allegri. Keduanya bekerja sama di Pescara (1987β1991), Perugia (1991β1992), dan Napoli (1997β1998). Hubungan mereka melampaui relasi profesional; Galeone dianggap sebagai figur ayah dan panutan dalam dunia sepak bola Italia.
Dalam pidatonya, Allegri menggambarkan Galeone sebagai seorang pionir yang selalu selangkah lebih maju dari zamannya. βCiri khasnya adalah ia seorang pelopor, di depan yang lain. Hal-hal yang ia katakan 30 atau 40 tahun lalu masih berlaku hari ini, dan dalam beberapa hal, masih inovatif,β ujar Allegri, seperti dikutip Gazzetta dello Sport.
Allegri juga menekankan pelajaran berharga yang ia petik dari Galeone: βTidak menganggap diri terlalu serius, tetapi menanggapi segala sesuatu dengan sangat serius. Itu adalah pelajaran lain yang saya bawa dan berharap tidak pernah hilang.β Ia menambahkan bahwa semakin bijak seseorang, semakin besar risiko kehilangan keberanian yang selalu dimiliki Galeone hingga akhir hayatnya.
Momen emosional itu terjadi di tengah kabar bahwa Allegri tengah dalam pembicaraan untuk kembali menangani Napoli. Kesepakatan dua tahun disebut sudah hampir final, hanya beberapa hari setelah ia didepak dari kursi pelatih Milan. Jika terealisasi, ini akan menjadi reuni Allegri dengan klub yang pernah ia bela sebagai pemain dan asisten pelatih di era 1990-an.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Allegri dan Galeone mengingatkan pada pentingnya hubungan mentor-mentee dalam dunia olahraga. Di Indonesia, tradisi penghormatan terhadap pelatih senior juga kerap terlihat, seperti saat pelatih legendaris seperti Rahmad Darmawan atau Benny Dollo mendapat apresiasi dari anak didiknya. Namun, jarang ada momen setulus dan seintens yang diperlihatkan Allegri.
Acara di Pescara itu juga menjadi ajang pemberian Galeone Award yang pertama. Allegri menerima penghargaan tersebut dengan penuh haru, menandai bahwa warisan Galeone akan terus hidup melalui para pelatih yang pernah ia bimbing. βSaya bertemu dia terakhir kali di Udine tahun lalu. Bahkan di sana, ia tersenyum, selalu siap dengan kata-kata yang tepat. Dan saya percaya, dari mana pun ia melihat kita, ia pasti bisa melihat betapa kota ini mencintainya,β tutup Allegri.
Ke depan, publik sepak bola Italia akan menanti apakah Allegri mampu menerapkan nilai-nilai yang diajarkan Galeone di Napoli. Akankah ia membawa kembali kejayaan seperti yang pernah diraih bersama Juventus? Atau justru tekanan di klub yang sedang dalam masa transisi akan menguji ketangguhannya? Satu hal yang pasti, jejak Galeone akan selalu menyertai langkah Allegri.



