Harga Tiket Melambung, FIFA Diprediksi Raup Rp240 Triliun di Siklus Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Penerapan harga dinamis membuat tiket Piala Dunia 2026 melonjak drastis, dengan tiket final mencapai lebih dari US$32.000.
- Proyeksi pendapatan FIFA pada siklus 2023-2026 bisa menembus US$15 miliar, didorong oleh penjualan tiket yang diperkirakan mencapai US$7,44 miliar.
- Meski mengklaim sebagai organisasi nirlaba, alokasi FIFA untuk pengembangan sepak bola justru menurun secara proporsional, memicu pertanyaan tentang transparansi keuangan.

FIFA diprediksi akan mencetak rekor pendapatan baru pada siklus Piala Dunia 2026, dengan estimasi mencapai US$15 miliar atau sekitar Rp240 triliun. Lonjakan ini terutama didorong oleh kebijakan harga tiket dinamis yang membuat harga tiket melambung jauh di atas edisi sebelumnya, bahkan menuai kritik dari berbagai kalangan termasuk Presiden AS Donald Trump.
Dalam analisis yang dilakukan oleh profesor emeritus keuangan, Robert A. Baade, penerapan dynamic pricing untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia menjadi faktor utama di balik kenaikan pendapatan tersebut. Tiket Kategori 1 untuk pertandingan final, misalnya, yang semula dibanderol US$6.000, kini telah melonjak hingga lebih dari US$32.000 per awal Mei 2025. Sementara itu, tiket untuk laga pembuka di Mexico City juga tembus di atas US$2.500 untuk kategori tertinggi.
FIFA sendiri telah merevisi target pendapatan siklus 2023-2026 dari US$11 miliar menjadi US$13 miliar pada 2024. Namun, Baade memperkirakan angka aktual bisa jauh lebih tinggi, berkisar antara US$14 miliar hingga US$19 miliar, dengan pendapatan dari tiket dan hospitality minimal US$7,44 miliar โ lebih dari dua kali lipat anggaran resmi FIFA sebesar US$3,1 miliar.
Meski FIFA memperkenalkan tiket pendukung seharga US$60 yang dialokasikan melalui asosiasi nasional, jumlahnya sangat terbatas โ kurang dari 600 tiket per pertandingan โ sehingga tidak mampu meredam gelombang kritik. Sebagian besar tiket justru dijual dalam fase-fase dengan harga yang terus meningkat, dan kursi termahal mendominasi alokasi tempat duduk.
FIFA adalah organisasi nirlaba yang terdaftar sebagai badan amal di Swiss. Dalam siklus 2019-2022, pendapatan aktual mencapai US$7,57 miliar, melampaui anggaran US$6,44 miliar, dengan cadangan dana membengkak dari US$2,81 miliar menjadi US$3,89 miliar. Namun, pola konservatif dalam proyeksi pendapatan dan akumulasi surplus yang besar menimbulkan tanda tanya: mengapa FIFA membutuhkan cadangan lebih dari US$4 miliar, yang setara dengan setengah total biaya operasional siklus sebelumnya?
Lebih mengkhawatirkan lagi, alokasi untuk pengembangan sepak bola justru menurun secara proporsional. Pada siklus 2023-2026, anggaran kompetisi naik 130% menjadi US$5,62 miliar, sementara anggaran pengembangan hanya naik 44%, sehingga porsinya terhadap total pendapatan turun dari 44% menjadi 36%. Tren ini diproyeksikan berlanjut pada siklus 2027-2030, di mana porsi pengembangan diperkirakan hanya 29% dari total biaya.
FIFA memang telah meluncurkan berbagai program seperti FIFA Foundation yang bertujuan menggunakan sepak bola untuk perubahan sosial. Namun, dengan latar belakang tata kelola yang kerap disorot, termasuk kasus korupsi dan kurangnya transparansi, publik berhak mempertanyakan apakah pendapatan tambahan dari tiket benar-benar akan digunakan untuk memajukan sepak bola global atau justru menumpuk sebagai cadangan yang tidak jelas tujuannya.



