Perimenopause: Jendela Kritis untuk Mencegah Penyakit Jantung pada Wanita
Baca dalam 60 detik
- Studi baru mengungkap bahwa wanita pada fase perimenopause memiliki risiko dua kali lipat lebih tinggi mengalami skor kesehatan kardiovaskular rendah dibandingkan sebelum menopause.
- Penurunan kadar estrogen selama transisi menopause memicu perubahan metabolik yang merugikan, seperti resistensi insulin dan akumulasi lemak visceral, yang meningkatkan risiko penyakit jantung.
- Para ahli menekankan perimenopause sebagai momen strategis untuk intervensi gaya hidup, terutama perbaikan pola makan, guna mencegah penyakit kardiovaskular di masa depan.

Penyakit kardiovaskular masih menjadi pembunuh nomor satu wanita di seluruh dunia, menyumbang sekitar 30 persen dari total kematian. Meskipun risiko ini dapat muncul di segala usia, penelitian terbaru menyoroti fase perimenopause sebagai periode kritis yang sering terabaikan. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of the American Heart Association menemukan bahwa wanita yang memasuki masa transisi menopause memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk memiliki skor kesehatan jantung yang rendah berdasarkan indikator Life's Essential 8 dari American Heart Association, terutama dalam hal pola makan.
Penelitian yang menganalisis data lebih dari 9.200 wanita berusia 18 hingga 80 tahun dari National Health and Nutrition Examination Survey (2007–2020) ini mengelompokkan partisipan menjadi tiga kategori: premenopause (rata-rata usia 34 tahun), perimenopause (rata-rata 50,5 tahun), dan pascamenopause (rata-rata 60 tahun). Temuan utama menunjukkan bahwa penurunan kesehatan kardiovaskular paling signifikan terjadi pada fase perimenopause, bukan setelah menopause seperti yang selama ini diasumsikan. Garima Arora, MD, profesor kardiologi di University of Alabama at Birmingham dan penulis senior studi, menegaskan bahwa temuan ini mengubah paradigma penanganan risiko jantung pada wanita.
Menurut Jennifer Wong, MD, seorang kardiolog dari MemorialCare Heart and Vascular Institute, perubahan fisiologis selama perimenopause—seperti penurunan kadar estrogen—berkontribusi langsung terhadap profil risiko kardiovaskular yang memburuk. Estrogen diketahui berperan dalam menjaga fleksibilitas pembuluh darah, sensitivitas insulin, dan profil lipid yang sehat. Ketika kadarnya menurun, wanita mengalami peningkatan resistensi insulin, akumulasi lemak visceral, serta dislipidemia yang mempercepat perkembangan plak aterosklerotik. Wong menekankan bahwa masa transisi ini merupakan jendela kritis untuk modifikasi risiko, bukan sekadar fase menunggu menuju pascamenopause.
Aspek pola makan menjadi sorotan utama karena skor diet secara konsisten paling rendah di antara wanita perimenopause. Monique Richard, seorang ahli gizi terdaftar, menyarankan agar wanita tidak mengurangi porsi makan secara drastis, melainkan makan secara lebih strategis. Ia merekomendasikan pendekatan piring yang menyehatkan hormon, otot, tulang, otak, dan mikrobioma secara bersamaan. "Ini bukan saatnya makan lebih sedikit, tetapi makan lebih cerdas," tegasnya. Richard juga mendorong peningkatan asupan protein, lemak sehat, serat, serta mikronutrien seperti kalsium dan vitamin D untuk mendukung transisi tubuh.
Para peneliti dan ahli sepakat bahwa perimenopause harus dipandang sebagai "jendela peluang" untuk intervensi dini. Alih-alih menunggu hingga wanita memasuki masa pascamenopause, upaya pencegahan penyakit jantung sebaiknya dimulai lebih awal. Arora menegaskan, "Perimenopause bukanlah ruang tunggu menuju pascamenopause—ini adalah fase berisiko tinggi yang membutuhkan perhatian serius terhadap kesehatan jantung." Dengan deteksi dini dan perubahan gaya hidup yang tepat, wanita dapat secara signifikan menurunkan risiko serangan jantung, stroke, dan komplikasi kardiovaskular lainnya di kemudian hari.
"Perimenopause bukanlah ruang tunggu menuju pascamenopause—ini adalah fase berisiko tinggi yang membutuhkan perhatian serius terhadap kesehatan jantung." – Garima Arora, MD
Ke depan, para ahli berharap temuan ini mendorong perubahan dalam praktik klinis, termasuk memasukkan skrining risiko kardiovaskular secara rutin pada wanita perimenopause. Edukasi mengenai pentingnya pola makan seimbang, aktivitas fisik, dan manajemen berat badan perlu diperkuat sejak awal transisi menopause. Dengan pendekatan yang lebih proaktif, angka kematian akibat penyakit jantung pada wanita dapat ditekan secara bermakna.



