China Perketat Ekspor Bahan Kimia Prekursor ke Amerika Utara, Respons atas Tekanan Tarif AS
Baca dalam 60 detik
- Beijing mewajibkan izin khusus untuk ekspor tiga jenis prekursor narkotika ke AS, Kanada, dan Meksiko guna menekan produksi fentanil ilegal.
- Langkah ini muncul setelah Washington mempertahankan tarif 10% pada barang China sebagai tuduhan keterlibatan Beijing dalam rantai pasok fentanil.
- Kerja sama penegakan hukum kedua negara mulai terlihat, seperti operasi bersama lintas provinsi dan negara bagian pada April lalu.

Pemerintah China secara resmi memberlakukan pembatasan ekspor terhadap tiga jenis bahan kimia prekursor yang dikirim ke kawasan Amerika Utara, Jumat (22/5). Keputusan ini menandai babak baru dalam upaya bersama Washington dan Beijing memerangi perdagangan gelap narkotika, khususnya fentanilโopioid sintetis yang memicu krisis kesehatan masyarakat di Amerika Serikat.
Melalui pernyataan resmi, Kementerian Perdagangan China mengumumkan bahwa ekspor bahan-bahan tersebut kini memerlukan lisensi dari instansi pemerintah terkait jika ditujukan ke Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Langkah ini diambil di tengah tekanan Washington yang sebelumnya memberlakukan tarif 10% pada sejumlah produk China sebagai bentuk sanksi atas dugaan peran Beijing dalam rantai pasokan prekursor fentanil.
Pengumuman ini muncul hanya sepekan setelah pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump di Beijing, yang bertujuan meredakan ketegangan hubungan bilateral yang fluktuatif. Isu pemberantasan penyelundupan narkoba kini menjelma menjadi salah satu bidang kerja sama konkret antara dua kekuatan global yang kerap bersaing.
Sebelumnya, pada April lalu, otoritas kedua negara berhasil melakukan investigasi bersama dalam kasus perdagangan gelap narkotika yang melibatkan provinsi Guangdong dan Liaoning di China, serta negara bagian Florida dan Nevada di AS, sebagaimana dilaporkan kantor berita Xinhua. Kolaborasi semacam ini menunjukkan adanya titik temu kepentingan meskipun hubungan politik secara umum masih diwarnai persaingan.
Ke depan, efektivitas pembatasan ekspor ini akan sangat bergantung pada konsistensi penegakan aturan di lapangan serta kesediaan kedua pihak untuk terus berbagi intelijen. Jika berhasil, langkah ini bisa menjadi model kerja sama penanganan masalah global lain yang membutuhkan koordinasi lintas batas.



