Mengupas Mitos dan Fakta Seputar Sindrom Iritasi Usus (IBS)
Baca dalam 60 detik
- IBS adalah gangguan kronis pada interaksi otak-usus yang memengaruhi sekitar 11% populasi dewasa global, namun penyebab pastinya belum diketahui secara pasti.
- Diagnosis IBS dapat ditegakkan dengan akurasi 97% melalui kriteria klinis Rome IV tanpa perlu tes mahal, dan penanganannya meliputi kombinasi serat, probiotik, olahraga, serta manajemen stres.
- Tidak ada diet tunggal yang cocok untuk semua penderita IBS; pendekatan individual dan dinamis, termasuk diet rendah FODMAP dan eliminasi makanan pemicu, sangat dianjurkan.

Berikut adalah beberapa data dan fakta kunci yang perlu diketahui tentang Irritable Bowel Syndrome (IBS).
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Prevalensi Global | Sekitar 11% populasi dewasa di dunia |
| Prevalensi di Amerika Utara | 10–15% |
| Akurasi Diagnosis (Rome IV) | 97% dalam 5 tahun |
| Dampak Kualitas Hidup | Pasien rela kehilangan 10–15 tahun harapan hidup untuk kesembuhan instan |
Sindrom iritasi usus atau Irritable Bowel Syndrome (IBS) adalah gangguan gastrointestinal kronis yang memengaruhi sekitar 11% populasi dewasa di seluruh dunia. Meskipun cukup umum, kondisi ini sering disalahpahami. Untuk mengklarifikasi mitos yang beredar, Medical News Today berbincang dengan Dr. Ashkan Farhadi, gastroenterolog dari MemorialCare Orange Coast Medical Center, California, dan Dr. Mollie J. Jackson, gastroenterolog dari University of Kansas Health System.
Penyebab dan Faktor Risiko IBS
Dr. Farhadi menjelaskan bahwa meskipun penelitian terus berkembang, penyebab pasti IBS belum diketahui. Makanan tertentu seperti produk susu atau makanan pedas dapat memicu gejala, tetapi bukan penyebab kondisi tersebut. Namun, ia mencatat bahwa IBS pasca-infeksi dapat disebabkan oleh bakteri seperti Campylobacter jejuni. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tingkat stres mental memengaruhi komposisi bakteri usus dan berperan penting melalui poros otak-usus. Dr. Farhadi menambahkan bahwa orang dengan dan tanpa IBS menghadapi tingkat stres yang serupa; yang membedakan adalah cara mengelola stres. Stres tidak hanya meningkatkan pelepasan hormon dan mediator di usus, tetapi juga mengubah anatomi usus sehingga lebih sensitif terhadap stres. Akibatnya, gejala IBS yang dipicu stres dapat bertahan meskipun stres sudah hilang.
Diagnosis dan Penanganan IBS
“IBS dapat didiagnosis tanpa tes mewah,” kata Dr. Farhadi. “Dengan kriteria klinis yang tepat, dokter dapat mendiagnosis IBS dengan akurasi 97% dalam 5 tahun. Tidak ada tes lain di bidang medis yang memiliki akurasi seperti itu.” Dr. Jackson menambahkan bahwa diagnosis didasarkan pada kriteria Rome IV: pasien harus melaporkan nyeri perut setidaknya sekali seminggu rata-rata, terkait dengan perubahan frekuensi buang air besar, perubahan bentuk tinja, dan/atau perbaikan atau perburukan nyeri setelah buang air besar. Ada subtipe IBS dengan dominasi diare, konstipasi, atau pola campuran. Penanganan IBS meliputi kombinasi obat resep dan perubahan gaya hidup yang disesuaikan. “Pada sebagian besar kasus, penanganannya sangat murah dan sederhana: serat, probiotik, reassurance, dan olahraga,” ujar Dr. Farhadi. Namun, ia menekankan bahwa tidak ada obat untuk IBS; obat hanya berfungsi seperti plester untuk meredakan gejala.
Peran Stres, Olahraga, dan Meditasi
Stres memainkan peran besar dalam IBS. Dr. Farhadi menyebutkan sebuah studi yang menunjukkan bahwa persepsi subjektif tentang kesejahteraan berkaitan dengan lebih sedikit gejala IBS. Olahraga kompetitif justru dapat memicu stres, bukan meredakannya. Lari jarak jauh juga dapat menyebabkan diare pada pelari (runner's run) dan memicu gejala IBS. Meditasi dan mindfulness, di sisi lain, dapat membantu merangsang perubahan di otak dan meningkatkan persepsi sinyal dari usus. Dr. Farhadi merekomendasikan “meditasi tanpa pikiran” (mindless meditation), seperti berjalan di rute yang sama selama 30 menit setiap hari hingga menjadi membosankan, sebagai cara untuk memulai ulang sistem saraf.
Mitos tentang Makanan dan Diet
Banyak pasien IBS melaporkan intoleransi susu, namun tinjauan terbaru tidak menemukan hubungan pasti antara IBS dan intoleransi laktosa. Karena sekitar dua pertiga populasi dunia intoleran laktosa, kemungkinan seseorang memiliki kedua kondisi tersebut cukup besar. Diet eliminasi dan diet rendah FODMAP adalah pendekatan yang paling banyak diteliti. Makanan tinggi FODMAP dapat menyebabkan gas berlebih dan kembung. Namun, Dr. Farhadi menegaskan bahwa tidak ada diet spesifik untuk IBS. “Diet tidak hanya bersifat individual, tetapi juga dinamis. Satu orang mungkin bisa minum kopi saat liburan, tetapi bermasalah saat ujian. Tidak ada diet spesifik untuk individu yang berbeda, juga tidak ada diet spesifik untuk individu sepanjang waktu.”
Pengobatan Alami dan Serat
Beberapa pengobatan alami seperti minyak peppermint dan kapulaga hitam menunjukkan potensi meredakan gejala. Dr. Farhadi menjelaskan bahwa biji kapulaga hitam dan spearmint adalah relaksan otot untuk usus. Namun, penelitian tentang pengobatan alami masih terbatas. Ia juga mengingatkan bahwa serat dapat membantu konstipasi kronis, tetapi jika berlebihan justru menyebabkan kembung. Ia merekomendasikan konsumsi serat larut psyllium (prebiotik) dengan yogurt Yunani (probiotik).
Wawasan Redaksi: IBS adalah kondisi kompleks yang memerlukan pendekatan holistik dan personal. Diagnosis dini dengan kriteria Rome IV dapat menghemat biaya dan waktu. Manajemen stres, olahraga yang tepat, dan diet individual adalah kunci utama. Meskipun belum ada obat, banyak pasien dapat mencapai kualitas hidup yang baik dengan kombinasi terapi yang tepat.
Dr. Farhadi mengibaratkan IBS seperti mesin yang bermasalah: jika dimatikan (misalnya dengan mengurangi frekuensi makan), gejala mungkin berkurang, tetapi bukan solusi jangka panjang. Puasa baik untuk hal lain seperti penurunan berat badan dan memori, tetapi bukan untuk IBS. Pada akhirnya, setiap penderita IBS perlu bekerja sama dengan dokter dan ahli gizi untuk menemukan strategi yang paling efektif bagi mereka.



