Wabah Ebola di Kongo Tewaskan 90 Jiwa, WHO Tetapkan Darurat Kesehatan Global
Baca dalam 60 detik
- Status darurat internasional: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia—level siaga tertinggi kedua.
- Strain mematikan tanpa vaksin: Wabah disebabkan oleh strain Bundibugyo yang belum memiliki vaksin atau pengobatan spesifik, berbeda dengan strain Zaire yang sudah tersedia vaksinnya.
- Penyebaran lintas batas: Kasus telah terdeteksi di kota Goma (DRC timur) dan Uganda, dengan otoritas setempat mengonfirmasi satu kematian serta satu kasus positif pada warga Kongo yang bepergian ke Uganda.

KINSHASA, REPUBLIK DEMOKRATIK KONGO — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi menyatakan wabah baru virus Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) sebagai "darurat kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia" (public health emergency of international concern) pada Minggu (18/5). Pernyataan ini menyusul laporan dari Menteri Kesehatan DRC, Samuel-Roger Kamba, yang mengungkapkan bahwa 91 kematian diduga disebabkan oleh wabah tersebut, dengan sekitar 350 kasus suspek—sebagian besar menyerang kelompok usia 20 hingga 39 tahun dan lebih dari 60 persen adalah perempuan.
Strain Bundibugyo: Musuh Lama yang Kembali
Berbeda dengan wabah Ebola besar sebelumnya yang disebabkan oleh strain Zaire (tersedia vaksin), wabah saat ini dipicu oleh strain Bundibugyo—jenis virus yang belum memiliki vaksin ataupun pengobatan spesifik. Strain ini sebelumnya pernah menyebabkan dua wabah: di Uganda pada 2007 dan di DRC pada 2012, dengan tingkat fatalitas antara 30 hingga 50 persen. Pusat wabah berada di provinsi Ituri timur laut, yang berbatasan dengan Uganda dan Sudan Selatan. Wilayah kaya emas ini mengalami mobilitas penduduk harian yang intens terkait aktivitas pertambangan, serta dihantui oleh kekerasan dari beberapa kelompok bersenjata yang mempersulit akses petugas kesehatan. Ahli virologi Jean-Jacques Muyembe—salah satu penemu virus Ebola pada 1976—mengungkapkan kekhawatirannya: "Ini adalah wabah yang akan menyebar sangat cepat, terlebih lagi karena meletus di provinsi yang padat penduduk."
Muyembe, yang kini mengepalai lembaga penelitian Kongo yang mengonfirmasi kemunculan kembali virus tersebut, menambahkan bahwa jika semua kasus suspek yang dilaporkan terkonfirmasi, wabah ini akan menempati peringkat ketujuh terbesar sepanjang sejarah untuk semua strain Ebola, dan yang kedua terbesar untuk strain non-Zaire. Wabah Ebola paling mematikan di DRC terjadi antara 2018 dan 2020, yang merenggut hampir 2.300 jiwa dari 3.500 kasus. Sementara itu, wabah sebelumnya sebelum periode saat ini (September-Desember 2025) menewaskan 45 orang menurut data WHO.
📊 DATA KUNCI WABAH
Kematian dilaporkan: 91 jiwa
Kasus suspek: ±350
Kelompok usia terdampak: 20-39 tahun
Proporsi perempuan: >60%
Strain: Bundibugyo (tanpa vaksin)
Tingkat fatalitas historis: 30-50%
Penyebaran Lintas Batas dan Tantangan Respons
Virus telah menyebar keluar dari provinsi Ituri. Satu kasus dilaporkan di Goma, kota besar di DRC timur yang sejak awal tahun lalu berada di bawah kendali kelompok anti-pemerintah AFC/M23 yang didukung Rwanda. Selain itu, pemerintah Uganda mengonfirmasi satu kasus positif dan satu kematian pada dua warga Kongo yang bepergian dari DRC—meskipun sejauh ini belum dilaporkan adanya kluster wabah lokal di Uganda. Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Afrika (CDC Africa) memperingatkan risiko penyebaran tinggi ke negara-negara Afrika timur yang berbatasan dengan DRC. Tantangan respons semakin kompleks karena faktor sosial budaya: Menteri Kesehatan Kamba mengungkapkan bahwa komunitas yang terkena dampak awalnya menganggap penyakit ini sebagai "penyakit mistis" atau "sihir", sehingga mereka pergi ke "pusat doa" alih-alih berkonsultasi dengan profesional kesehatan. Hal ini menyebabkan keterlambatan pelaporan wabah.
Prospek ke Depan: Antara Pengalaman dan Keterbatasan
Meskipun DRC memiliki pengalaman panjang dalam mengelola wabah Ebola (ini adalah wabah ke-17 di negara berpenduduk lebih dari 100 juta jiwa tersebut), karakteristik spesifik wabah saat ini membuat para ahli khawatir. Tidak adanya vaksin untuk strain Bundibugyo berarti respons harus mengandalkan langkah-langkah perlindungan tradisional—seperti mencuci tangan, menghindari kontak dengan cairan tubuh, dan karantina kasus—yang seringkali sulit diterapkan secara konsisten di daerah konflik dan sulit dijangkau. Selain itu, keterlambatan pelaporan karena kepercayaan lokal pada "penyakit mistis" telah memungkinkan virus menyebar lebih luas sebelum respons internasional dimobilisasi. Ke depan, keberhasilan penanganan wabah ini akan sangat bergantung pada seberapa cepat komunitas lokal bersedia bekerja sama dengan petugas kesehatan, serta seberapa efektif koordinasi lintas batas antara DRC, Uganda, dan negara-negara tetangga lainnya. Bagi investor dan organisasi kemanusiaan, wabah ini menyoroti pentingnya pendanaan berkelanjutan untuk sistem surveilans penyakit menular di Afrika Sub-Sahara, serta perlunya pendekatan komunikasi risiko yang sensitif terhadap budaya setempat.
"It's an outbreak that will spread very rapidly, all the more so because it has broken out in a densely populated province." — Jean-Jacques Muyembe, virologi, salah satu penemu virus Ebola (1976) dan kepala lembaga penelitian Kongo.



