Kebuntuan terkait Selat Hormuz menunjukkan bahwa Iran sedang menggunakan kartu as terakhirnya untuk melawan tekanan "Maximum Pressure" AS. Bagi Teheran, membuka kembali selat tersebut secara sukarela tanpa konsesi ekonomi yang nyata dianggap sebagai kekalahan diplomatik. Sebaliknya, bagi Washington, membiarkan selat tetap terancam berarti membiarkan ekonomi global disandera oleh keputusan satu negara.
Rencana "dua tahap" ini sebenarnya sangat rapuh. Tanpa adanya kepercayaan (trust) antar kedua belah pihak, tahap pertama (gencatan senjata militer) bisa hancur sewaktu-waktu oleh satu insiden drone kecil. India Today menyoroti bahwa India, sebagai importir energi besar, sangat berkepentingan agar kesepakatan ini tercapai, mengingat cadangan minyak strategis global mulai menipis akibat ketegangan berminggu-minggu di Teluk.
β’ Faktor Hormuz: Iran menegaskan selat adalah kedaulatan mereka; pembukaan jalur internasional hanya akan terjadi jika sanksi perbankan dilonggarkan.
β’ Risiko "False Flag": Intelijen khawatir adanya aktor ketiga yang sengaja memicu konflik di selat guna menggagalkan rencana gencatan senjata ini.
β’ Tekanan Pasar: Trader minyak menanti hasil perundingan ini dengan napas tertahan; kegagalan hari ini bisa mendorong harga Brent melampaui $120 per barel.
β’ Pesan Utama: "Dalam diplomasi energi, perdamaian sering kali harus dibeli dengan komoditas, bukan sekadar kata-kata."




