Klaim kemenangan sepihak dari Teheran yang dilaporkan Middle East Monitor menunjukkan bahwa gencatan senjata ini bukan hanya soal militer, melainkan "perang persepsi". Di bulan April 2026, memenangkan narasi di media sosial dan berita internasional sama pentingnya dengan memenangkan pertempuran di Selat Hormuz.
Strategi Iran sangat jelas: dengan mengeklaim bahwa mereka "memaksa" AS ke meja perundingan, Teheran berusaha menutupi kerentanan yang terekspos akibat serangan siber dan ledakan kilang. Bagi pasar global, retorika ini justru meningkatkan kewaspadaan; jika salah satu pihak merasa terlalu dominan, stabilitas gencatan senjata dua minggu ini akan menjadi sangat sangat rapuh.
β’ Konsumsi Domestik: Meyakinkan rakyat Iran bahwa pemerintah tetap memegang kendali penuh.
β’ Posisi Tawar: Menggunakan klaim kemenangan untuk menekan konsesi lebih lanjut dalam perundingan permanen.
β’ Provokasi Diplomatik: Menantang narasi Gedung Putih guna memancing reaksi yang bisa digunakan sebagai alasan pembatalan gencatan senjata.
β’ Pesan Utama: "Dalam diplomasi modern, kebenaran sering kali kalah penting dibandingkan siapa yang berteriak 'menang' paling keras."




