Stabilitas moneter Korea Selatan kini sedang diuji oleh badai ekonomi yang datang dari luar wilayahnya. Laporan dari Anadolu Agency mengenai jatuhnya Won ke level terendah dalam 17 tahun pada 16 Maret 2026 ini adalah alarm bagi seluruh ekonomi Asia yang berorientasi ekspor.
Secara analitis, korelasi negatif antara harga minyak dan Won sangat kuat karena Korea Selatan mengimpor hampir seluruh kebutuhan energinya. Ketika harga minyak melonjak akibat konflik Iran, permintaan terhadap Dolar AS untuk membayar kontrak energi meningkat drastis, yang secara otomatis menekan nilai Won. Fenomena ini menciptakan lingkaran setan: mata uang yang lemah membuat harga barang impor semakin mahal, yang kemudian memperparah inflasi. Di tahun 2026, ketahanan ekonomi Seoul bergantung pada seberapa cepat mereka bisa beralih ke cadangan energi non-minyak atau seberapa efektif langkah intervensi pasar yang dilakukan oleh otoritas moneter untuk membendung spekulasi jangka pendek.
β’ Status KRW: Level Terlemah sejak 2009.
β’ Pemicu Utama: Minyak Mentah & Risiko Iran.
β’ Dampak Langsung: Defisit Neraca Perdagangan Korea Selatan.
β’ Respons Pemerintah: Intervensi Pasar & Pemantauan Darurat.
Langkah selanjutnya bagi Anda adalah memantau pernyataan dari Bank of Korea terkait kemungkinan kenaikan suku bunga darurat. Apakah Anda ingin saya membantu meninjau **bagaimana kinerja Won dibandingkan dengan Yen Jepang dan Yuan China selama krisis energi Maret 2026 ini** untuk melihat tren regional yang lebih luas?




