Perang perbatasan antara dua negara bertetangga ini telah bergeser dari sekadar kontak senjata di pegunungan menjadi serangan presisi terhadap aset ekonomi. Laporan dari TimesLIVE menyoroti bagaimana depo bahan bakar Kam Air menjadi korban dalam upaya Islamabad untuk memutus urat nadi logistik Afghanistan.
Secara analitis, penargetan fasilitas di Bandara Kandahar memiliki implikasi ganda. Pertama, ini adalah serangan psikologis terhadap jantung kekuasaan Taliban. Kedua, secara teknis, tanpa bahan bakar pesawat, kemampuan pemerintah Afghanistan untuk memindahkan pasukan atau menerima pasokan mendesak dari luar negeri kini terbatas hanya lewat jalur darat yang rawan blokade. Jika serangan semacam ini berlanjut ke bandara lain seperti Kabul, Afghanistan akan benar-benar terisolasi secara total dari jalur udara internasional.
• Aset Terdampak: Depo Bahan Bakar Kam Air.
• Status Bandara: Operasi Sipil dihentikan sementara.
• Risiko Sekunder: Kelangkaan bahan bakar untuk PBB/Bantuan Kemanusiaan.
Komunitas internasional kini mendesak kedua pihak untuk menghindari penargetan infrastruktur sipil. Namun, dengan retorika perang terbuka yang dikumandangkan oleh Menteri Pertahanan Pakistan, jalan menuju de-eskalasi tampak semakin terjal. Fokus saat ini adalah memastikan jalur bantuan kemanusiaan tetap terbuka sebelum stok pangan dan medis di wilayah selatan Afghanistan habis total akibat blokade udara ini.




