Debat mengenai efektivitas Video Assistant Referee (VAR) kembali memanas menyusul serangkaian keputusan kontroversial yang merugikan Newcastle United. Laporan dari FourFourTwo pada Februari 2026 menyoroti pembelaan vokal legenda Inggris, Alan Shearer, yang menyebut bahwa teknologi tersebut kini justru merusak esensi permainan. Meskipun tujuan awal VAR adalah untuk menghilangkan kesalahan fatal, Shearer berpendapat bahwa ketidakkonsistenan dalam interpretasi justru menciptakan rasa ketidakadilan yang mendalam, terutama bagi klub-klub yang sedang berjuang di papan atas seperti The Magpies.
Teknologi di Tengah Krisis Subjektivitas
Argumen utama Shearer berfokus pada fakta bahwa VAR tidak lagi menjadi alat bantu objektif, melainkan panggung bagi interpretasi wasit yang seringkali membingungkan. Fokus kritik ini muncul setelah insiden penalti dan kartu merah yang dianggap "lunak" dalam laga-laga terbaru Newcastle. Menurut Shearer, masalahnya bukan pada kamera atau teknologinya, melainkan pada protokol yang memungkinkan wasit di balik layar untuk melakukan intervensi pada kontak-kontak minimal yang seharusnya merupakan bagian alami dari fisik sepak bola Premier League.
Bagi Newcastle United, dampak dari kesalahan-kesalahan ini bukan sekadar statistik, melainkan kerugian poin yang krusial dalam perburuan zona Liga Champions. Fokus manajemen klub dan para penggemar kini tertuju pada transparansi audio antara wasit lapangan dan petugas VAR. Alan Shearer menegaskan bahwa selama proses pengambilan keputusan tetap tertutup dan memakan waktu lama tanpa hasil yang lebih akurat, VAR hanya akan terus menjadi "iklan buruk" bagi kemajuan teknologi di dunia olahraga. Kesalahan manusia mungkin bisa dimaafkan, namun kesalahan yang "dibantu" oleh teknologi canggih justru sulit diterima oleh publik sepak bola modern.
Mencari Keseimbangan Baru
Kritik Shearer mencerminkan keresahan yang lebih luas di antara para pelaku sepak bola Inggris. Fokus utama otoritas liga (PGMOL) di sisa musim 2026 adalah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar penggunaan teknologi ini. Jika tidak ada perubahan signifikan dalam cara kerja VAR, integritas kompetisi bisa terancam. Bagi Alan Shearer dan Newcastle, solusinya bukan dengan menghapus teknologi, melainkan dengan mengembalikan otoritas penuh kepada wasit di lapangan dan hanya menggunakan bantuan video untuk kesalahan yang benar-benar nyata dan mutlak, bukan drama di area abu-abu.




