Gaya Hidup Tanpa Sewa: Perempuan Ini Tinggal di New York dengan Rp13 Juta per Bulan
Baca dalam 60 detik
- Alanna Parrish, 34 tahun, menjalani hidup sebagai house sitter penuh waktu dan mengaku hanya mengeluarkan sekitar 800 dolar AS per bulan untuk tinggal di New York.
- Dengan lebih dari 100 penugasan di 22 kota, ia menukar kenyamanan memiliki rumah tetap dengan kebebasan menjelajah dan fleksibilitas jadwal.
- Meski menghemat biaya sewa, ketidakpastian jadwal dan kebutuhan beradaptasi cepat menjadi harga mahal yang harus dibayar.

Alanna Parrish mungkin satu dari sedikit orang yang bisa menyebut New York sebagai rumah tanpa pernah membayar sewa. Perempuan 34 tahun ini menjalani hidup sebagai house sitter—menjaga rumah dan hewan peliharaan orang lain—sehingga pengeluaran bulanannya hanya sekitar 800 dolar AS atau setara Rp13 juta. Angka itu jauh di bawah rata-rata biaya hidup di salah satu kota termahal dunia tersebut.
Parrish memulai karier ini pada 2023 sebagai cara menghemat uang saat bepergian. Setahun setengah lalu, ia memutuskan menjadikan New York sebagai basis utama. Ia menghabiskan sekitar 85% waktunya di sana, namun tak pernah menyentuh pos biaya sewa. “Setiap kali saya memberi tahu orang bagaimana saya hidup, pertanyaan yang muncul selalu sama: ‘Serius, kamu bisa melakukan itu?’” tuturnya, seperti dikutip dari kisah pribadinya.
Sebelum terjun ke gaya hidup ini, Parrish bekerja sebagai manajer proyek di kantor real estat di San Francisco Bay Area. Pandemi mengubah rutinitasnya, dan pada 2022 ia memutuskan berhenti dari pekerjaan tetap, membeli tiket sekali jalan ke Italia, dan menghabiskan dua tahun berkeliling Eropa, Asia Tenggara, serta Amerika Tengah dengan biaya sekitar 50.000 dolar AS. Ketika tabungan mulai menipis, ia mencari cara bepergian lebih hemat. House sitting menjadi jawabannya.
Mayoritas penugasan yang dijalani Parrish bersifat sukarela—ia tidak menerima upah, melainkan imbalan berupa akomodasi gratis. Namun, ketika ada penugasan berbayar, tarifnya berkisar 50 hingga 100 dolar AS per hari. Tantangan terbesar bukanlah soal uang, melainkan ketidakpastian. “Terkadang saya pindah hingga delapan kali dalam sebulan,” ujarnya. Ia harus selalu siap menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, rutinitas gym yang berbeda, jadwal pengambilan sampah, hingga kebiasaan hewan peliharaan yang ia jaga.
Meski demikian, Parrish menikmati sisi lain dari gaya hidup ini: kesempatan merasakan tinggal seperti penduduk lokal di berbagai kota. Ia telah menjelajahi Edinburgh, Los Angeles, Montreal, Philadelphia, dan San Francisco. “Saya suka memberi ketenangan bagi orang-orang yang sedang berlibur, mengetahui rumah dan hewan mereka aman,” katanya. Baginya, menjadi orang yang dipercaya merawat makhluk hidup paling berharga milik orang lain adalah kebahagiaan tersendiri.
“Saya tidak punya rumah sendiri, dan struktur kalender saya tidak biasa. Tapi hidup saya kaya akan perjalanan dan orang-orang serta hewan yang saya temui. Menurut saya, itu pertukaran yang cukup baik.” — Alanna Parrish
Di Indonesia, gaya hidup house sitting memang belum populer. Namun, fenomena ini menyiratkan pergeseran cara pandang generasi muda terhadap kepemilikan rumah dan stabilitas finansial. Di tengah harga properti yang melambung, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bali, konsep hidup tanpa sewa tetap menjadi kemewahan tersendiri. Bagi sebagian orang, kebebasan finansial justru diukur dari seberapa kecil pengeluaran rutin, bukan dari seberapa besar aset yang dimiliki.
Parrish sendiri tak menampik bahwa gaya hidup ini menuntut mental baja. Ia harus rajin membangun jaringan, aktif menghadiri acara sosial, dan tak segan menghubungi teman dari teman untuk memperluas lingkaran. Rasa kesepian kadang menghampiri, terutama saat berada di kota asing tanpa kenalan. “Saya harus proaktif menciptakan komunitas,” akunya. Kini ia juga bekerja jarak jauh sebagai spesialis dukungan pasien di perusahaan telemedis, sehingga bisa bekerja dari mana saja.
Ke depan, Parrish berharap bisa memiliki tempat tinggal sendiri dan hidup berpindah di dua hingga tiga kota setiap tahun. Namun, ia belum menetapkan tenggat waktu. “Saya tahu ini tidak bisa selamanya,” ujarnya. Pertanyaannya kemudian: apakah model hidup seperti ini akan menjadi tren baru di kota-kota mahal dunia, atau justru sekadar solusi sementara di tengah gejolak biaya hidup yang tak kunjung surut?



