Halloween Tanpa Sampah: Kostum Kilat dari Barang Rumah Tangga
Baca dalam 60 detik
- Pakar kostum menyarankan memanfaatkan isi lemari dan peralatan rumah tangga untuk merakit kostum Halloween tanpa membeli bahan baru.
- Tren DisneyBounding dan kostum berbasis kertas, kardus, hingga perban bekas menjadi alternatif murah yang mengurangi limbah tekstil sekali pakai.
- Kreativitas berkelanjutan dinilai lebih mendidik anak dan memperkuat ikatan keluarga dibanding kostum plastik komersial yang hanya dipakai sekali.

Perayaan Halloween identik dengan kostum baru yang mengkilap dan permen bertumpuk, tetapi para praktisi teater dan desain kostum menegaskan bahwa kemeriahan tidak harus dibeli. Menjelang perayaan akhir Oktober, mereka mendorong keluarga merakit kostum dari bahan yang sudah ada di rumah—mulai dari kertas, kardus bekas, hingga pakaian sehari-hari—sebagai jalan pintas yang ramah lingkungan sekaligus hemat biaya.
Cat Sewell, spesialis permainan dan direktur artistik Polyglot Theatre, menilai esensi Halloween bukan pada kostum mahal atau sekantong besar permen. Menurutnya, nilai sesungguhnya terletak pada waktu bermain bersama, keberanian mengetuk pintu rumah tetangga, dan rasa komunitas yang terbangun ketika anak-anak kembali menguasai jalanan perumahan. “Ada rasa takut dan senang yang membuat pengalaman itu berkesan,” ujarnya.
Pandangan senada datang dari Kristen Ahern, pendiri Conscious Costume. Ia menyoroti komodifikasi Halloween sebagai akar persoalan lingkungan: kostum plastik dibeli baru, dipakai sekali, lalu dibuang. Ahern mendorong orang keluar dari pakem karakter waralaba dan menciptakan tokoh versi sendiri. “Cukup pikirkan esensi karakter yang ingin diperankan, lalu cari cara mewujudkannya dengan apa yang sudah dimiliki,” katanya.
Contoh konkret datang dari Ahern yang pernah menghadiri pesta kostum bertema pernikahan. Salah satu tamu mengenakan kaus putih bertuliskan “I’m fine” dengan efek darah palsu, cukup dibuat dari kaus polos dan spidol atau cat akrilik. Bagi yang buntu ide, ia menyarankan menghubungi teman untuk bertukar aksesori. “Tukar beberapa potong, semua orang mendapat sesuatu yang baru tanpa harus membeli,” tuturnya.
Polyglot Theatre memang sengaja memakai material sehari-hari dalam setiap pertunjukan agar keluarga terinspirasi melanjutkan kreativitas di rumah. Sewell menyebut kertas, kain perca, syal, dan serbet sebagai bahan serbaguna. Kertas dapat dilipat, dipilin, atau diremas menjadi telinga dan ekor; tisu memberi warna dan volume; kardus tebal membentuk struktur. Kotak sereal yang dicat atau dilapisi aluminium foil bisa menjadi kepala robot, sementara selotip, karet gelang, dan peniti menjadi perekat serba bisa. “Semakin banyak yang bisa dibuat dari barang di rumah, semakin besar rasa kemanusiaannya,” kata Sewell.
Desainer kostum Nick Wakerley dari Cospro menambahkan bahwa satu item dasar dapat menjelma karakter berbeda tergantung aksesorinya. Jubah hitam berkerudung bisa menjadi penyihir atau tokoh reaper hanya dengan tambahan kacamata bulat atau sabit. Syal bisa berubah menjadi ikat kepala atau selempang, dan ikat pinggang mengubah siluet pakaian yang sudah ada. Ia menekankan pentingnya tidak merusak pakaian: kaus putih, celana hitam, rambut disisir rapi, dan sedikit lipstik merah di sudut mulut sudah cukup untuk tampil sebagai vampir. “Cara bergerak dan berakting juga menentukan,” ujarnya.
Desainer kostum Paula Levis menawarkan pendekatan yang lebih berani: memadukan isi kotak kostum dengan perlengkapan dari lemari obat atau perkakas. Anak berpakaian biasa yang dililit perban medis bekas langsung berubah menjadi mumi. Sweter oranye dengan mata, hidung, dan mulut dari selotip listrik menjadi labu jack-o’-lantern yang seram. Pakaian hitam dengan selotip putih membentuk kerangka. Lipstik atau pewarna makanan bisa menjadi darah atau memar, sementara wajah penuh eyeshadow dan kemeja kebesaran menghasilkan zombie. “Orang tua sering merasa tidak kreatif lalu memilih toko diskon, padahal mereka hanya perlu percaya pada apa yang sudah ada,” kata Levis.
Bagi anak-anak, lapisan pakaian, topi besar, atau jaket kebesaran milik orang tua dapat memperkuat karakter. Ahern mencontohkan kostum bajak laut yang dimulai dari kemeja putih, celana ketat, dan sepatu bot, lalu dilengkapi bandana, riasan mata, kalung berlapis, dan sarung tangan tanpa jari. Payung pun bisa disulap menjadi ubur-ubur dengan hiasan menjuntai di tepinya.
Lebih dari sekadar penghematan, Sewell menegaskan bahwa memakai ulang bahan yang ada memberi manfaat bagi perkembangan otak anak, kesejahteraan mereka, hubungan orang tua-anak, dan tentu saja planet ini. Di tengah gelombang konsumerisme musiman, pesan itu relevan bagi keluarga di mana pun, termasuk di Indonesia yang kian akrab dengan perayaan Halloween di pusat perbelanjaan dan komunitas. Pertanyaannya kini: apakah kreativitas rumah tangga mampu menggeser kebiasaan belanja kostum sekali pakai, atau justru menjadi tren sesaat sebelum konsumsi kembali seperti semula?



