Kadar Hemoglobin Tak Normal Bisa Jadi Penanda Awal Risiko Demensia
Baca dalam 60 detik
- Studi kohort Korea pada 316.542 orang dewasa menemukan bahwa hemoglobin sangat rendah atau sangat tinggi berkorelasi dengan peningkatan risiko demensia.
- Kelompok hemoglobin terendah memiliki risiko demensia 16% lebih tinggi, sedangkan kelompok tertinggi 7% lebih tinggi; risiko demensia vaskular melonjak hingga 19% pada kadar rendah.
- Temuan ini menegaskan hemoglobin sebagai penanda biologis murah yang dapat memicu skrining dini, tetapi bukan penyebab langsung demensia.

Kadar hemoglobin yang menyimpang dari rentang normal—baik terlalu rendah maupun terlalu tinggi—dikaitkan dengan probabilitas lebih besar terkena demensia di kemudian hari. Kesimpulan itu berasal dari analisis terhadap 316.542 warga Korea Selatan berusia 40 tahun ke atas yang dipantau selama 15 tahun, dan dipublikasikan di Journal of Alzheimer’s Disease serta dipresentasikan pada Kongres ECNP ke-39 di Munich, Oktober lalu.
Penelitian ini menyoroti sisi lain dari pemeriksaan darah rutin yang selama ini lebih akrab dengan diagnosis anemia. Selama ini, hemoglobin dipandang sekadar indikator status gizi atau fungsi ginjal. Kini, data longitudinal menunjukkan bahwa angka hemoglobin dapat menjadi sinyal peringatan awal bagi kesehatan otak—sesuatu yang belum masuk dalam panduan skrining demensia arus utama.
Tim peneliti dari Dong-A University College of Medicine, Busan, membagi peserta ke dalam lima kelompok berdasarkan kadar hemoglobin. Mereka yang berada di kelompok terendah memiliki risiko demensia 16% lebih tinggi dibanding kelompok referensi, sementara kelompok tertinggi mencatat kenaikan risiko 7%. Angka ini merupakan hazard ratio yang telah disesuaikan dengan berbagai faktor perancu, bukan peningkatan absolut.
Menariknya, risiko demensia vaskular—yang disebabkan gangguan aliran darah ke otak—melonjak pada kedua ujung spektrum hemoglobin. Sebaliknya, penyakit Alzheimer yang merupakan demensia neurodegeneratif hanya meningkat pada mereka dengan hemoglobin rendah. Pola ini mengisyaratkan mekanisme yang berbeda: hemoglobin rendah mengganggu pasokan oksigen ke otak, sedangkan hemoglobin tinggi meningkatkan kekentalan darah dan berpotensi memicu sumbatan pembuluh.
“Temuan ini tidak membuktikan hemoglobin menyebabkan demensia, melainkan menunjukkan bahwa kadar yang tidak normal bisa menjadi penanda kerentanan fisik yang lebih luas dan relevan bagi kesehatan otak,” ujar Hyun Soo Kim, PhD, peneliti utama studi tersebut, dalam siaran pers.
Dung Trinh, MD, internis dari MemorialCare Medical Group yang tidak terlibat dalam studi, menilai angka 16% patut diperhatikan mengingat tingginya prevalensi anemia pada lansia. Namun ia menekankan bahwa peningkatan tersebut bersifat relatif, bukan absolut. “Pada tingkat populasi, dampaknya bisa berarti, tetapi untuk individu, kenaikannya tergolong modest,” katanya kepada Medical News Today.
Trinh juga menyoroti perbedaan gender. Menurutnya, perempuan lebih rentan mengalami hemoglobin rendah akibat kehilangan darah menstruasi, terutama sebelum menopause. “Ini menunjukkan adanya perbedaan berbasis jenis kelamin yang perlu diteliti lebih lanjut,” tambahnya. Namun, studi tidak merinci apakah perempuan pascamenopause menunjukkan pola yang sama.
Yang membuat temuan ini praktis adalah kesederhanaannya. Hemoglobin diukur lewat tes darah rutin yang sudah menjadi standar di hampir semua fasilitas kesehatan, termasuk di Indonesia. Dokter layanan primer dapat memanfaatkan hasil pemeriksaan darah lengkap—yang mencakup hemoglobin—sebagai pintu masuk untuk menilai risiko kognitif jangka panjang, tanpa perlu alat tambahan.
Meski demikian, kausalitas belum terbukti. Hemoglobin abnormal bisa menjadi penanda kondisi lain yang secara independen memengaruhi otak, seperti defisiensi besi, penyakit ginjal kronis, sleep apnea, atau gangguan darah. “Banyak dari kondisi ini juga berdampak pada kesehatan kardiovaskular, yang erat kaitannya dengan kesehatan otak,” jelas Trinh.
Bagi Indonesia, yang tengah menghadapi transisi demografi menuju populasi menua, implikasi kebijakan cukup nyata. Prevalensi anemia pada perempuan usia subur dan lansia masih tinggi, sementara cakupan skrining demensia belum menjadi prioritas. Jika hemoglobin dapat diintegrasikan dalam deteksi dini, biaya yang dikeluarkan relatif kecil dibanding potensi penghematan dari perawatan demensia jangka panjang.
Pertanyaan yang tersisa: apakah intervensi untuk menormalkan hemoglobin—misalnya suplementasi besi atau pengobatan polisitemia—akan menurunkan risiko demensia, ataukah hemoglobin hanya penumpang yang menandai kerentanan yang sudah ada? Uji klinis jangka panjang diperlukan sebelum rekomendasi skrining berbasis hemoglobin dapat dimasukkan ke dalam pedoman praktik. Sementara itu, pesan Trinh sederhana: “Menjaga kesehatan otak dimulai dari menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan—aktivitas fisik, gizi seimbang, tidur cukup, dan kendali tekanan darah serta diabetes.”



