Amazon Anjlok 7%, Intel Ambruk 25%: Pasar Mulai Meragukan Belanja AI Raksasa Teknologi
Baca dalam 60 detik
- Saham Amazon dan Intel jatuh di perdagangan pra-pasar setelah laporan keuangan mengecewakan, memicu kekhawatiran atas besarnya belanja AI.
- Amazon mencatat arus kas bebas negatif dua kuartal berturut-turut, sementara Intel memberi panduan lemah akibat pasar PC yang lesu.
- Investor kini mempertanyakan apakah investasi modal besar di AI akan membuahkan hasil, meski fundamental jangka panjang masih dianggap solid.

Tekanan jual menimpa saham raksasa teknologi pada Jumat (30/10/2026) setelah Amazon dan Intel merilis kinerja kuartalan yang mengecewakan. Saham Amazon merosot 7% di perdagangan pra-pasar, sedangkan Intel ambruk 25%—penurunan harian terburuk dalam beberapa tahun terakhir—setelah produsen chip itu memberikan proyeksi yang lebih lemah dari perkiraan.
Amazon membukukan pendapatan dan laba kuartal ketiga di bawah konsensus analis. Yang lebih mengkhawatirkan, perusahaan kembali mencatat arus kas bebas negatif untuk periode kedua berturut-turut, dengan defisit yang jauh lebih besar dibanding kuartal sebelumnya. Meski demikian, Amazon mempertahankan rencana belanja modal (capex) sebesar US$220 miliar untuk tahun 2026—angka yang mencerminkan taruhan besarnya pada infrastruktur kecerdasan artifisial (AI).
Intel, di sisi lain, menghadapi tantangan berbeda: lemahnya permintaan pasar PC global membuat pendapatan dan laba perusahaan tertekan. Manajemen Intel memberikan panduan yang mengecewakan untuk kuartal mendatang, memicu aksi jual besar-besaran. Efek domino langsung terasa pada saham produsen chip lain seperti Micron, Nvidia, dan Arm yang ikut melemah.
Kombinasi ini memperpanjang pekan buruk bagi sektor teknologi. Indeks Nasdaq-100 berjangka turun 2% pada awal perdagangan, berpotensi menyeret indeks berbasis teknologi itu ke wilayah negatif untuk pekan ini. Meski begitu, secara year-to-date hingga Kamis lalu, Nasdaq Composite masih mencatat kenaikan lebih dari 12%.
Di balik angka-angka itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah gelombang belanja AI yang masif—yang telah menguras kas perusahaan-perusahaan raksasa—akan membuahkan imbal hasil yang sepadan? Kekhawatiran ini kian nyata setelah Alphabet dan Microsoft juga melaporkan hasil kuartalan yang tidak sepenuhnya memuaskan, menambah tekanan pada sentimen investor.
"Saya tidak melihat ini sebagai momen perhitungan, tetapi momen di mana investor perlu berpikir panjang tentang bagaimana posisi di sektor ini masih padat meskipun fundamentalnya kuat," ujar Matt Orton, kepala strategi pasar Raymond James, kepada CNBC.
Orton menambahkan bahwa meskipun situasi saat ini bisa menyakitkan, fundamental pasar secara umum masih terjaga, terutama di segmen yang diuntungkan oleh belanja modal AI. Ia juga menilai wajar jika perusahaan-perusahaan tersebut untuk sementara mencatat arus kas bebas negatif, asalkan bersifat sementara.
Bagi Indonesia, gejolak ini menjadi cermin penting. Teknologi AI telah menjadi tulang punggung transformasi digital di berbagai sektor, dari perbankan hingga e-commerce. Penurunan belanja AI global—jika berlanjut—dapat memperlambat adopsi teknologi di negara berkembang, termasuk akses terhadap layanan cloud dan komputasi canggih. Investor domestik yang memiliki eksposur pada saham teknologi AS melalui reksa dana atau portofolio global perlu mencermati dinamika ini.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada rilis kinerja perusahaan teknologi lain dan isyarat dari Federal Reserve mengenai arah suku bunga. Jika arus kas bebas negatif berlanjut di banyak perusahaan, tekanan jual bisa semakin dalam. Namun, jika belanja AI mulai menunjukkan hasil nyata dalam beberapa kuartal mendatang, koreksi ini mungkin hanya menjadi koreksi sehat. Pertanyaannya: apakah investor cukup sabar menunggu?



