Tiga Analis Wall Street Serukan Beli Saham Kripto di Tengah Panik Peretasan Binance Rp100 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Peretasan Binance senilai US$6,3 miliar memicu aksi jual saham kripto, tetapi Cantor Fitzgerald, TD Cowen, dan Compass Point menilai reaksi pasar berlebihan.
- Sekitar US$3 miliar dana curian telah dibekukan oleh Tether, Circle, dan Ripple, sementara Binance disebut memiliki likuiditas cukup untuk mengganti kerugian nasabah.
- Fokus pasar kini tertuju pada level US$75.000–77.000 untuk bitcoin; penembusan ke bawahnya berpotensi menggagalkan reli yang sedang berlangsung.

Peretasan yang menguras US$6,3 miliar dari Binance pada Kamis malam waktu Amerika Serikat langsung mengguncang pasar aset digital. Namun tiga rumah sekuritas terkemuka di Wall Street—Cantor Fitzgerald, TD Cowen, dan Compass Point—menilai kepanikan investor belum tentu beralasan. Dalam catatan riset Jumat, ketiganya justru mengisyaratkan peluang akumulasi bagi saham-saham yang terpukul.
Reaksi pasar memang keras. Saham Coinbase dan Strategy anjlok sekitar 12% pada Jumat, sedangkan Robinhood turun hampir 9%. Penurunan itu mencerminkan kekhawatiran bahwa insiden di bursa kripto terbesar dunia tersebut dapat merembet ke seluruh ekosistem. Akan tetapi, para analis memisahkan antara masalah keamanan internal Binance dan kesehatan teknologi blockchain yang mendasarinya.
Analis Cantor Fitzgerald, Ramsey El-Assal, menyoroti respons industri yang dinilainya cepat. Tether membekukan lebih dari US$1,5 miliar aset curian, Circle memblokir sekitar US$800 juta, dan Ripple menahan sekitar US$200 juta. Binance mengklaim sekitar US$3 miliar dari total dana yang dicuri telah dibekukan, meski pembekuan itu belum berarti uang tersebut sudah kembali utuh. "Ekosistem terus beradaptasi," tulis El-Assal, seraya menambahkan bahwa para investor sebaiknya memanfaatkan pelemahan harga untuk membeli.
Senada dengan El-Assal, analis TD Cowen Lance Vitanza menegaskan bahwa serangan tersebut mengekspos celah pada infrastruktur penandatanganan transaksi Binance, bukan pada jaringan bitcoin. Ia menganalogikan insiden itu dengan perampokan bank yang tidak membuat orang berhenti memakai dolar, atau pencurian mobil yang tidak membatalkan keberadaan mobil itu sendiri. Menurut Vitanza, koreksi harga saat ini bisa menjadi kesempatan menambah posisi bitcoin maupun saham perusahaan yang menyimpan kripto di neraca mereka.
Dari Compass Point, Ed Engel dan Michael Donovan memperkirakan Binance mampu menutup kerugian nasabah. Mereka merujuk pada laporan kepemilikan aset bursa tersebut, termasuk kelebihan cadangan USDT, cadangan bitcoin, dan aset treasury USDC. "Kami yakin Binance memiliki likuiditas lebih dari cukup untuk menutup lubang," tulis keduanya. Meski demikian, mereka mengingatkan bahwa dampaknya tidak sepenuhnya bebas rasa sakit.
Compass Point memperkirakan tekanan pada pasokan stablecoin akan muncul saat Binance mengganti dana nasabah. Selain itu, penarikan dari platform pinjaman terdesentralisasi berpotensi meningkat begitu pasar dibuka kembali. Insiden ini juga bisa mengalihkan bisnis ke pesaing Binance, seperti Coinbase dan Bullish—induk perusahaan CoinDesk—serta bursa terdesentralisasi seperti Hyperliquid yang memungkinkan pengguna memegang kustodi aset sendiri.
"Secara keseluruhan, ini menyakitkan, tetapi bukan 2022," ujar El-Assal, merujuk pada tahun runtuhnya sejumlah platform kripto besar.
Bagi pasar domestik, guncangan ini menjadi ujian bagi ketahanan investor kripto Indonesia yang selama ini dominan bertransaksi di bursa global. Regulator dalam negeri menghadapi pertanyaan soal perlindungan aset nasabah jika bursa asing menjadi sasaran serangan berskala besar. Namun, karena peretasan menyasar infrastruktur internal Binance dan bukan protokol bitcoin, dampak langsung terhadap jaringan blockchain yang diperdagangkan di Indonesia diperkirakan terbatas.
Ke depan, perhatian pasar tertuju pada rentang US$75.000–US$77.000 untuk bitcoin. Jika level tersebut jebol, reli yang sedang berlangsung bisa berada dalam bahaya. Sebaliknya, kemampuan Binance menutup kerugian nasabah dan memperkuat sistem keamanannya akan menentukan apakah kepercayaan investor pulih secepat yang diyakini ketiga analis Wall Street itu.



