Gelombang PHK Tech 2026: Oracle Pangkas 21.000, Microsoft Buyout 60.000 Karyawan
Baca dalam 60 detik
- Oracle memangkas 21.000 posisi atau 13% tenaga kerja global, menjadi PHK terbesar sepanjang 2026.
- Microsoft menawarkan buyout sukarela kepada 60.000 karyawan, sementara Meta mengurangi 8.000 orang untuk membiayai ekspansi AI.
- Tekanan efisiensi akibat adopsi AI membuat perusahaan teknologi global mengurangi lapangan kerja, dengan implikasi bagi sektor teknologi Indonesia.

Oracle menjadi perusahaan teknologi dengan pemutusan hubungan kerja (PHK) terbesar sepanjang 2026 setelah memangkas 21.000 posisi, atau sekitar 13% dari total tenaga kerjanya, menurut laporan keuangan tahunan yang diajukan pada 23 Juni. Angka ini menempatkan Oracle di depan deretan raksasa teknologi lain seperti Microsoft, Meta, dan Amazon yang juga melakukan pengurangan besar-besaran tahun ini.
Gelombang PHK di sektor teknologi global terus berlanjut. Data dari TrueUp menunjukkan lebih dari 195.000 pekerja teknologi kehilangan pekerjaan sepanjang 2026 hingga saat ini, setelah tahun lalu mencapai 245.000. Microsoft, misalnya, memangkas 4.800 posisi pada Juli, dengan divisi Xbox sebagai yang paling terdampak (3.200 peran). Perusahaan juga menawarkan buyout sukarela kepada 60.000 karyawan di divisi Xbox, Windows, Copilot, dan keuangan. Meta memulai pemangkasan 10% tenaga kerja atau sekitar 8.000 orang dan menutup 6.000 lowongan terbuka untuk memberi ruang bagi belanja AI. Sementara itu, Netflix dikabarkan akan memberhentikan sekitar 1.000 karyawan (6% dari tenaga kerja global), dan Electronic Arts (EA) memangkas 400 posisi sekaligus menutup studio BioWare serta membatalkan judul Mass Effect berikutnya.
Alasan utama di balik gelombang ini adalah meningkatnya adopsi kecerdasan buatan (AI). Oracle dalam laporannya menyatakan bahwa penerapan dan penggelaran teknologi AI di seluruh operasinya "telah menyebabkan, dan mungkin terus menyebabkan, pengurangan tenaga kerja." Perusahaan lain seperti Dropbox, eBay, dan Workday juga melakukan efisiensi serupa. Dropbox memangkas 9% staf (sekitar 200 orang) dan CTO Ali Dasdan mengundurkan diri. eBay mengurangi 9% tenaga kerja setelah sebelumnya memangkas 800 posisi pada Februari. Workday akan memberhentikan 140 karyawan di Bay Area sebagai bagian dari rencana pengurangan 2,5% tenaga kerja global.
Di sektor game, Xbox mengeliminasi 268 peran di Halo Studios dan studio pihak pertama lainnya sebagai bagian dari "reset" yang diumumkan musim panas ini, setelah sebelumnya memangkas 1.600 orang pada Juli dan berencana mengurangi 1.600 lagi. Apple dikabarkan memangkas sejumlah karyawan di layanan Fitness+ dan tim Vision Group (setidaknya 60 orang) serta Intelligent Systems Experience, total lebih dari 200 orang. Langkah ini terkait dengan persiapan arsitektur teknis Siri yang baru berbasis AI. TikTok akan menutup kantor Nashville dan memberhentikan 250 orang pada Oktober. Zillow memangkas lebih dari 500 karyawan, dan Etsy mengurangi 220 orang (12%) namun menegaskan bukan karena AI.
Pemerintah dan pekerja mulai merespons. Gubernur California Gavin Newsom pada Juni meluncurkan alat pelacak dampak AI terhadap tenaga kerja, sementara lebih dari 4.500 karyawan Google menandatangani petisi menuntut perlindungan PHK, termasuk buyout sebelum PHK wajib dan pesangon yang dijamin. Perkembangan ini menunjukkan bahwa tekanan efisiensi tidak hanya menjadi urusan korporasi, tetapi juga memicu respons kebijakan di tingkat negara bagian.
Bagi Indonesia, gelombang PHK global ini menjadi peringatan dini. Sektor teknologi domestik, terutama perusahaan rintisan (startup) dan perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia, perlu mengantisipasi tekanan serupa. Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan didorong memperkuat program pelatihan ulang (reskilling) dan jaring pengaman sosial, sambil mendorong adopsi AI yang bertanggung jawab. Tanpa kesiapan, ledakan PHK di negara maju bisa merembet ke pasar tenaga kerja lokal, terutama di bidang layanan teknologi dan operasi pusat data.
Ke depan, gelombang PHK diperkirakan belum akan surut. Perusahaan seperti Cisco (memangkas 4.000 posisi), Visa (2.600), dan PayPal (4.800) telah mengumumkan rencana pengurangan dalam beberapa tahun ke depan. Pertanyaannya, apakah efisiensi berbasis AI akan menciptakan lapangan kerja baru yang setara, atau justru memperlebar ketimpangan keterampilan? Jawabannya akan menentukan arah industri teknologi global, termasuk posisi Indonesia dalam rantai pasok digital.



