Anthropic Kejar IPO di Tengah Badai Capex AI: Laba Bersih Rp80 Miliar, tetapi Arus Kas Big Tech Mulai Seret
Baca dalam 60 detik
- Anthropic membuka prospektus IPO dengan torehan rugi bersih 80 miliar dolar AS pada paruh pertama tahun ini, meski pendapatan tahunan melesat 1.300 persen.
- Rilis kinerja Microsoft, Alphabet, dan Amazon menyingkap belanja modal raksasa yang mulai menggerus arus kas bebas, memicu kekhawatiran pasar atas keberlanjutan pembiayaan infrastruktur AI.
- Nasdaq mencatat koreksi tiga pekan beruntun, menempatkan Anthropic sebagai ujian terbesar bagi pasar IPO yang praktis membeku sejak pencatatan SpaceX pada Juni.

Anthropic resmi membuka jalan menuju bursa saham dengan prospektus yang mengungkap rugi bersih 80 miliar dolar AS pada semester pertama tahun ini—sebuah angka yang langsung menjadi sorotan mengingat posisi perusahaan sebagai salah satu pengembang model bahasa besar paling bernilai di dunia. Dokumen itu dirilis pada pekan yang sama ketika tiga mitra sekaligus investornya, Microsoft, Alphabet, dan Amazon, melaporkan kinerja kuartalan yang justru menambah tekanan pada sektor teknologi.
Keputusan Anthropic menempuh jalur IPO tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan pendanaan yang masif. Perusahaan mencatat komitmen belanja komputasi hingga ratusan miliar dolar AS, disertai lebih dari 90 halaman faktor risiko yang secara eksplisit memperingatkan investor soal ketergantungan pada penyedia infrastruktur pihak ketiga. Di saat yang sama, pasar modal global sedang tidak dalam posisi ramah: indeks Nasdaq Composite membukukan pelemahan tiga pekan berturut-turut, pertama sejak Maret, setelah ambles 2,9 persen pada Jumat lalu.
Yang membuat situasi kian rumit, para raksasa cloud yang menjadi tulang punggung kapasitas Anthropic mulai menunjukkan gejala kelelahan finansial. Amazon mencatat arus kas bebas negatif 42,4 miliar dolar AS untuk periode 12 bulan terakhir, sementara Alphabet membukukan arus kas bebas negatif 9,1 miliar dolar AS—kondisi yang membuat sahamnya anjlok hampir 13 persen dalam sehari, terburuk sepanjang sejarah perseroan. Microsoft memang masih mencatat arus kas bebas positif 18,6 miliar dolar AS, tetapi angkanya menurun signifikan untuk kuartal kedua beruntun, dan perusahaan baru saja mengumumkan rencana menerbitkan obligasi senilai 25 miliar dolar AS.
Daniel Newman, CEO firma riset Futurum Group, menilai para hyperscaler masih bergerak agresif di ranah AI, tetapi struktur pembiayaan mereka mulai dipertanyakan. "Semua orang masih menginjak gas penuh, tetapi hal-hal di sekitarnya berubah menarik pekan ini," ujarnya kepada CNBC, seraya menyebut hasil kuartalan ketiga perusahaan telah "membuat alis terangkat" dan memunculkan keraguan baru terhadap struktur modal. Senada dengan itu, David Hsu dari Wharton School menggarisbawahi pertanyaan mendasar: teknologi ini mengesankan, tetapi bagaimana ia diterjemahkan menjadi bisnis yang layak secara finansial?
Tekanan tidak hanya datang dari sisi belanja. Para pengembang pusat data generasi baru atau neocloud seperti CoreWeave dan Nebius juga menghadapi biaya pinjaman yang meningkat dan makin sulitnya mencari pemberi utang. Anthropic sendiri memperoleh sebagian besar kapasitas komputasi dari Amazon, Google, dan SpaceX, tetapi tetap bergantung pada neocloud untuk memenuhi kebutuhan ekspansi yang berpacu dengan waktu. Kombinasi ini menciptakan lingkaran ketergantungan: Anthropic butuh kapasitas, sementara mitranya butuh pendanaan untuk membangun kapasitas tersebut.
Di sisi lain, permintaan terhadap layanan AI tetap kuat. Microsoft, Alphabet, dan Amazon semuanya melaporkan pertumbuhan bisnis cloud di atas estimasi analis, dengan pendapatan divisi cloud Google bahkan lebih dari dua kali lipat secara tahunan. Oracle, salah satu pembelanja terbesar pusat data AI, pada hari investor pekan lalu menyatakan akan membatasi penggalangan dana tambahan hingga 20 miliar dolar AS dan menargetkan arus kas positif pada paruh kedua tahun fiskal berikutnya. Langkah itu, menurut analis Citizens, meredakan kekhawatiran terbesar investor bahwa pembangunan infrastruktur AI akan menuntut penerbitan utang dan ekuitas tanpa batas.
Bagi Indonesia, gejolak ini bukan sekadar peristiwa di pasar modal Amerika. Nilai tukar rupiah dan arus modal portofolio ke pasar emerging market, termasuk Jakarta, sangat sensitif terhadap pergerakan indeks teknologi AS dan ekspektasi suku bunga global. Ketika investor global mengurangi eksposur pada saham teknologi yang padat modal, dampaknya merembet ke preferensi risiko secara keseluruhan—yang pada gilirannya memengaruhi biaya pendanaan bagi perusahaan teknologi dalam negeri yang sedang mencari modal ekspansi. Pemerintah dan pelaku industri dalam negeri perlu mencermati bahwa euforia AI global kini memasuki fase uji: bukan lagi soal siapa yang paling cepat berinovasi, melainkan siapa yang paling disiplin mengelola neraca.
Pasar IPO sendiri praktis membeku sejak pencatatan SpaceX pada Juni. Oura, Firmus, dan Solidigm tercatat menunda atau membatalkan rencana go public, sementara Nscale dan SB Energy belum memperbarui prospektusnya selama berminggu-minggu. Di tengah kebekuan itu, Anthropic menjadi satu-satunya katalis besar. Newman bahkan menyebut perusahaan tersebut sebagai "pasar IPO itu sendiri" pada momen ini, seraya menambahkan bahwa perusahaan lain akan sangat berhati-hati—jika tidak ingin disebut gegabah—untuk melantai di periode yang sama.
Pertanyaannya kini bergeser dari seberapa besar potensi AI menjadi seberapa besar risiko yang siap ditanggung investor pada harga berapa. Jika Anthropic berhasil menembus pasar dengan valuasi yang diinginkan, gelombang IPO teknologi berikutnya mungkin kembali terbuka. Namun bila prospektusnya gagal meyakinkan di tengah arus kas mitra yang menipis, efek dinginnya bisa terasa jauh melampaui satu perusahaan—dan menunda mimpi para startup AI lain untuk mencari pendanaan publik.



