Perusahaan Nasdaq Bernilai US$8 Juta Siap Jual Bitcoin US$450 Juta, Singgung Peretasan Binance dan Ancaman Komputasi Kuantum
Baca dalam 60 detik
- Next Technology Holding (NXTT) mendapat restu dewan untuk melepas atau menggadaikan 5.833 BTC yang nilainya jauh melampaui kapitalisasi pasarnya.
- Keputusan dipicu kekhawatiran atas celah keamanan bursa dan potensi serangan kuantum terhadap kriptografi bitcoin.
- Langkah ini bisa mengguncang kepercayaan investor terhadap strategi treasury bitcoin di perusahaan publik.

Next Technology Holding (NXTT), perusahaan perangkat lunak asal Jepang yang tercatat di Nasdaq, mengumumkan bahwa dewan direksinya telah menyetujui penjualan atau penggunaan sebagai jaminan atas kepemilikan sekitar 5.833 bitcoin. Dengan harga acuan sekitar US$77.000 per koin, nilai aset kripto tersebut mencapai sekitar US$449 juta—lebih dari 50 kali kapitalisasi pasar perusahaan yang hanya sekitar US$7,8 juta berdasarkan harga saham penutupan Jumat lalu di US$5,30.
Keputusan ini muncul setelah insiden peretasan Binance yang mengguncang industri. Meskipun NXTT menegaskan tidak menyimpan bitcoin di bursa tersebut, dewan menilai perlu mengkaji ulang risiko memegang aset kripto dalam jumlah besar. Selain celah keamanan bursa, potensi ancaman komputasi kuantum terhadap algoritma kriptografi bitcoin juga menjadi pertimbangan. Otorisasi tersebut memungkinkan penjualan melalui bursa, transaksi negosiasi privat, maupun pinjaman berbasis bitcoin, dengan CEO Weihong Liu yang akan menentukan waktu, harga, dan volume transaksi. Namun, perusahaan tidak menjamin realisasi penjualan.
Mayoritas bitcoin tersebut berasal dari satu transaksi besar pada Maret 2025. Saat itu, Next Technology mengakuisisi 5.000 BTC melalui perjanjian yang telah dinegosiasikan sebelumnya, dengan pembayaran berupa saham, waran, dan prabayar tunai. Nilai total transaksi tercatat US$158,1 juta atau setara US$31.600 per bitcoin—jauh di bawah harga pasar saat ini. Laporan tahunan perusahaan menyebutkan bahwa "hampir seluruh" bitcoin disimpan pada kustodian institusional yang berbasis di Jepang, namun identitas kustodian tidak diungkapkan. Dokumen yang ditelaah CoinDesk juga tidak mencantumkan alamat dompet yang memungkinkan investor memverifikasi saldo secara independen. CoinDesk telah meminta perusahaan untuk mengungkap kustodian dan memberikan bukti kepemilikan.
Langkah NXTT mencerminkan dilema yang dihadapi perusahaan publik dengan strategi treasury bitcoin di tengah volatilitas pasar dan meningkatnya kekhawatiran keamanan. Keputusan untuk menjual atau menggadaikan aset bisa dipandang sebagai upaya mengurangi eksposur risiko, tetapi juga berpotensi menimbulkan tekanan jual di pasar. Sebagai perbandingan, perusahaan seperti MicroStrategy (kini Strategy) justru terus mengakumulasi bitcoin meski harga berfluktuasi. Perbedaan sikap ini menunjukkan bahwa tidak semua perusahaan memiliki toleransi risiko yang sama, terutama yang kapitalisasi pasarnya jauh lebih kecil dari nilai aset kriptonya.
"Otorisasi ini memberikan fleksibilitas, tetapi belum tentu dieksekusi. Kami akan memantau kondisi pasar dan risiko yang ada," demikian pernyataan perusahaan dalam pengumuman resminya.
Bagi investor Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa eksposur terhadap aset kripto melalui perusahaan publik memiliki lapisan risiko tambahan, mulai dari tata kelola, transparansi kustodian, hingga perbedaan valuasi yang ekstrem. Regulator dalam negeri, OJK, telah mengatur perdagangan aset kripto di Indonesia, namun investasi pada saham perusahaan asing yang memiliki treasury bitcoin tetap memerlukan kehati-hatian ekstra. Kasus NXTT menunjukkan pentingnya due diligence terhadap laporan keuangan dan verifikasi aset.
Ke depan, pasar akan mencermati apakah NXTT benar-benar merealisasikan penjualan dan bagaimana dampaknya terhadap harga bitcoin. Jika perusahaan lain mengikuti langkah serupa, tekanan jual bisa meningkat. Sebaliknya, jika keputusan ini hanya bersifat preventif, pasar mungkin mengabaikannya. Yang jelas, insiden peretasan Binance dan kekhawatiran kuantum telah memicu reevaluasi strategi treasury kripto di kalangan emiten—sebuah sinyal bahwa era "bitcoin di neraca" tidak lagi tanpa risiko.



