Dokumenter Manhood Ungkap Bisnis Prosedur Pembesaran Penis: Antara Kecemasan Maskulinitas dan Etika Medis
Baca dalam 60 detik
- Film Manhood menyoroti lonjakan permintaan prosedur pembesaran penis di AS, dengan harga mencapai Rp300 juta per sesi.
- Praktisi non-dokter seperti Bill Moore memanfaatkan kerentanan pria, sementara regulator kesehatan dinilai lambat merespons.
- Fenomena ini mencerminkan krisis kepercayaan diri pria modern yang perlu dijawab dengan edukasi dan pengawasan medis.

Industri prosedur pembesaran penis di Amerika Serikat berkembang pesat, dipicu oleh kecemasan pria terhadap citra tubuh dan tekanan sosial. Dokumenter terbaru berjudul Manhood garapan Daniel Lombroso merekam fenomena ini dari dalam, memperlihatkan bagaimana klinik-klinik pinggir jalan menawarkan layanan invasif dengan harga selangit, sering kali tanpa pengawasan medis yang memadai.
Lombroso, yang sebelumnya dikenal lewat karyanya di The Atlantic dan The New Yorker, tertarik pada topik ini setelah melihat meningkatnya minat terhadap injeksi pembesaran penis. Studi pada 2024 mencatat kenaikan pencarian Google terkait prosedur tersebut di AS dari 2013 hingga 2022. Film berdurasi 90 menit ini menempatkan isu harga diri pria sebagai pusat perhatian, dengan latar belakang meja periksa yang dingin dan tak nyaman.
Salah satu tokoh sentral adalah Bill Moore, seorang pengusaha yang mengklaim bisa memberikan prosedur pembesaran penis di kliniknya di Dallas. Meski bukan dokter, Moore berani mematok tarif US$15.000 hingga US$20.000 (sekitar Rp225 juta hingga Rp300 juta) per prosedur. Ia menjanjikan berbagai manfaat, mulai dari peningkatan karier, kehidupan seks yang lebih baik, hingga penyembuhan depresi. “Semua orang ingin perahu yang lebih panjang satu kaki,” ujar seorang pasien saat Moore menyuntikkan jarum bius ke area sensitif. “Perahu tidak pernah cukup besar.”
Film ini juga menyoroti kisah Ruben, seorang ayah lima anak yang nekat menjual rumah dan pindah bersama mantan istrinya demi membiayai prosedur pembesaran. Ia menghabiskan waktu mendengarkan podcast Joe Rogan yang membahas marginalisasi pria, sementara malamnya ia mengamen komedi tanpa penonton. Istrinya, Lana, disebut hampir tidak setuju dengan keputusan tersebut, dan tekanan finansial serta emosional pun memuncak. Lombroso menggambarkan Ruben sebagai pria yang sebenarnya penyayang, namun terjebak dalam pelarian diri.
“Dengan sangat sedikit pengecualian, hampir tidak ada pasangan dalam film ini yang mendukung prosedur tersebut,” kata Lombroso, seperti dikutip dari wawancaranya.
Selain Moore dan Ruben, dokumenter ini menghadirkan David, seorang pria muda yang menjadi korban malapraktik oleh praktisi lain, Victor Loria. Loria digambarkan sebagai sosok kontroversial yang bahkan memasang disclaimer asuransi malapraktik di dinding kantornya. David kemudian meminta bantuan Moore untuk memperbaiki kerusakan akibat prosedur sebelumnya. Namun, hubungan antara David dan Moore ternyata lebih dari sekadar pasien dan penyedia jasa—mereka berbagi tempat tidur bersama pasangan Moore dan anjing peliharaan, mengungkap dinamika personal yang rumit.
Lombroso mengaku butuh usaha keras untuk meyakinkan David tampil dalam film. “Itu salah satu tindakan persuasi tersulit yang pernah saya lakukan. Butuh seluruh proses film untuk meyakinkannya. Kami sempat berencana menggunakan penggantian wajah AI, tetapi pada tahap rough-cut, kami sadar dia adalah jantung cerita. Kami terbangkan dia ke New York, menunjukkan hasilnya, dan dia menyukainya. Sekarang dia ikut tur film. Luar biasa,” ujarnya.
Yang menarik, Manhood tidak serta-merta menghakimi para praktisi maupun pasien. Lombroso justru menyoroti ironi bahwa layanan yang penuh empati dan perhatian tersebut, dalam banyak kasus, merupakan bentuk perawatan yang mengafirmasi gender—sesuatu yang jarang diakui. “Itu sebabnya film ini sangat ringan sentuhannya. Banyak hal yang lucu dan sudah jelas dengan sendirinya, terutama bagi penonton cerdas. Menyenangkan bisa membahas percakapan sulit tanpa harus memberi tahu orang bagaimana harus merasa,” tuturnya.
Fenomena ini bukan sekadar cerita Amerika. Di Indonesia, kesadaran akan kesehatan reproduksi pria dan prosedur estetika masih rendah, sementara iklan-iklan suplemen atau alat pembesar penis kerap beredar tanpa pengawasan. Jika tren global ini merambah pasar domestik, regulator seperti BPOM dan Kementerian Kesehatan perlu memperketat pengawasan terhadap praktik serupa. Pendidikan seks yang komprehensif dan akses konseling psikologis bagi pria menjadi kunci untuk mencegah eksploitasi komersial atas kerentanan mereka.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah sejauh mana masyarakat akan membiarkan industri yang tumbuh dari ketidakamanan ini terus berkembang tanpa rambu-rambu. Apakah kita akan melihat regulasi yang lebih ketat, atau justru semakin banyak pria yang terjebak dalam siklus pencarian kesempurnaan fisik yang tak berujung?



