Saat Tubuh Kurus Kembali Jadi Standar, Bahasa Positivitas Tubuh Justru Jadi Alat Pembenaran
Baca dalam 60 detik
- Kampanye body positivity yang digaungkan tahun 2010-an kini memudar, digantikan oleh obsesi baru terhadap tubuh kurus yang dibungkus dengan istilah kesehatan dan kebugaran.
- Kemunculan obat GLP-1 seperti Ozempic dan Mounjaro mengubah cara masyarakat membicarakan berat badan, tetapi justru memperlebar jurang antara mereka yang mampu mengakses pengobatan dan yang tidak.
- Di Indonesia, tren ini berpotensi memperparah tekanan sosial terhadap perempuan dan kelompok muda, sementara regulasi iklan kosmetik dan obat masih belum mampu membendung klaim-klaim menyesatkan.

Di Milan, sebuah peragaan busana megah digelar di bawah kubah kaca galeri tertua Italia. Model berjalan di catwalk dengan gaun couture, sementara robot menari dan desainer ternama menonton dengan raut tak senang. Namun yang paling memicu kemarahan publik bukanlah pertunjukan itu sendiri, melainkan nama salah satu sponsor: Eli Lilly, perusahaan farmasi bernilai triliunan dolar yang memproduksi obat penurun berat badan Zepbound dan Mounjaro. Para pegiat gangguan makan pun bersuara, mempertanyakan mengapa sebuah acara yang memuja tubuh kurus justru disponsori oleh produsen obat pelangsing.
Jawaban yang diberikan juru bicara Eli Lilly terasa seperti olok-olok. Perusahaan itu menyatakan bermitra dengan platform budaya seperti Vogue karena di situlah percakapan tentang tubuh dan kesehatan berlangsung. Mereka mengklaim ingin menggeser pembicaraan tentang berat badan dari estetika ke kesehatan, sekaligus menantang stigma yang dihadapi penyandang obesitas. Namun publik menangkap pesan yang berbeda: Vogue, yang selama lebih dari satu abad identik dengan kemolekan dan tubuh ramping, justru dipakai untuk menormalkan kembali standar tubuh yang selama ini dikritik.
Kontradiksi ini bukan sekadar soal satu acara. Kita sedang hidup di masa yang aneh dalam cara masyarakat membicarakan tubuh. Gerakan body positivity yang mencapai puncaknya pada akhir 2010-anโdengan seruan bahwa tidak ada tipe tubuh yang lebih unggul secara moral, seksual, atau estetikaโkini nyaris lenyap dari budaya visual arus utama. Tetapi latihan sosialnya masih membekas. Banyak orang belajar untuk tidak sembarangan mengomentari tubuh orang lain, dan istilah seperti fat shaming menjadi viral. Diet pun sempat menjadi topik tabu. Namun sekarang, di era GLP-1, tubuh kurus kembali diidamkan, hanya saja cara membicarakannya berubah.
Alih-alih mengakui bahwa kita mendambakan tubuh ramping, narasi yang berkembang justru dibungkus dengan bahasa kesehatan. Media sosial dipenuhi oleh influencer kebugaran yang kurus, konten sebelum-dan-sesudah penggunaan GLP-1, serta dokter estetika yang menawarkan cara menyuntik wajah agar tampak sempurna. Iklan obat pelangsing, botox, dan operasi plastik menghiasi billboard dan ruang praktik dokter. Narasi dominan menyarankan bahwa tubuh ideal bisa dikendalikan asal punya waktu, selera, dan anggaran. Penerimaan diri seolah menjadi fosil dari era sebelum pandemi.
Yang paling mengganggu adalah kemunafikan dalam percakapan publik. Di satu sisi, mengagumi tubuh kurus secara terbuka, terutama di ruang media dan pemasaran korporasi, masih dianggap taboo. Bahkan mengakui bahwa kita memperhatikan tubuh kurus orang lain pun terasa tidak sopan. Namun di sisi lain, tubuh ramping tidak pernah mendapat imbalan budaya sebesar sekarang. Banyak selebritas, dari aktor hingga musisi, tampak semakin mengecil. Kita terjebak dalam dunia di mana tubuh kurus diagungkan dalam mode, budaya, dan kehidupan sehari-hari, tetapi mengakui keinginan untuk menyesuaikan diri atau menyuarakan keprihatinan justru dianggap melanggar norma sosial.
Sejarah gerakan body positivity sendiri berakar pada aktivisme radikal. Tigress Osborn, ketua National Association to Advance Fat Acceptance (NAAFA), menjelaskan bahwa frasa itu telah dipakai sejak 1990-an oleh terapis gangguan makan dan aktivis pembebasan tubuh. Gagasan ini kemudian menyebar lewat media sosial, ketika orang-orang bertubuh plus-size mengunggah foto dengan tagar #BoPo dan pesan cinta diri. Puncaknya, pada 2015, model Tess Holliday dijuluki sebagai supermodel ukuran 22 pertama di dunia oleh majalah People. Merek-merek arus utama pun ikut serta, meski sering terasa sekadar menumpang tren.
Namun bagi sebagian orang, gerakan ini justru glorifikasi obesitas. Gabriella Lascano, seorang influencer plus-size, mengaku gerakan itu mengabaikan kekhawatiran kesehatan dan mendorongnya mengambil risiko. Sementara itu, aktivis lain menilai body positivity hanya menyentuh permukaan. Matthew Diaz, mantan aktivis yang kini mengadvokasi netralitas tubuh, menilai gerakan itu tetap berfokus pada penampilan, hanya saja memberi ruang lebih besar bagi keragaman. Baginya, masalahnya bukanlah tubuh yang tidak tepat, melainkan cara seseorang menarik seluruh nilai dirinya dari tubuh tersebut.
Di dunia mode mewah, dampak body positivity memang terbatas. Pada akhir 1990-an dan 2000-an, model plus-size nyaris tidak ada di catwalk. Setelah dua model meninggal akibat komplikasi anoreksia pada 2006, muncul inisiatif perlindungan model. Memasuki era body positivity, keragaman sempat meningkat. Menurut Fashion Spot, hanya enam model plus-size tampil pada musim gugur 2016, lalu melonjak menjadi 50 pada musim gugur 2020, dan mencapai rekor 103 pada 2022. Sayangnya, tren itu berbalik. Vogue Business mencatat 95% tampilan busana pada 2023 dan 2024 diperagakan model ukuran standar, dan angka itu naik menjadi 97% dalam dua tahun terakhir.
Di balik layar, inklusivitas tak pernah menjadi bagian dari model bisnis. Michaela Stark, seniman dan model yang bekerja di industri mode pada puncak body positivity, mengungkap bahwa merek sering tidak benar-benar memproduksi pakaian ukuran plus, meski memakainya pada model plus-size. Ia mencontohkan sampul majalah i-D 2022 yang menampilkan Paloma Elsesser dengan busana Miu Miu, padahal merek tersebut tidak membuat pakaian dalam ukuran tersebut. Stark menilai industri mode selama ratusan tahun telah dirancang untuk tubuh ultra-kurus, dan untuk mengubahnya dibutuhkan investasi besar yang tidak pernah dilakukan.
Ketidakaslian ini memicu penolakan dari generasi muda. Anastasia Vartanian, penulis di balik akun @FatAnnaWintour, mengamati bahwa anak muda kini menganggap pesan-pesan body positivity sebagai cringe. Mereka justru mengagumi runway awal 2000-an yang menampilkan model sangat kurus, dengan komentar seperti bring back real models. Vartanian menyebut situasi sekarang sangat mengganggu: banyak figur publik tampak sangat kurus, tetapi mengomentarinya terasa kejam. Lebih parah, sebagian orang menggunakan bahasa body positivity untuk membenarkan anoreksia.
Perubahan paling nyata terjadi pada bahasa. Dulu, selebritas yang sebenarnya kurus bisa dicap gemuk oleh tabloid, dan model Victoria's Secret mengungkap rutinitas ekstrem sebelum pertunjukan. Kini, istilah seperti diet dan kalori diganti dengan makro, defisit kalori, dan komposisi tubuh. Influencer berbicara tentang protein dan pemindaian lemak visceral, bukan tentang menimbang badan. Bahkan persiapan peragaan busana Victoria's Secret 2026 digambarkan sebagai soal pola pikir kuat dan bugar, bukan angka di timbangan. Namun di balik itu, penurunan berat badan tetap menjadi tujuan, hanya saja dibungkus dengan kosakata kesehatan.
Di Indonesia, fenomena ini menemukan lahan subur. Media sosial menjadi ruang utama anak muda membandingkan tubuh, sementara iklan kosmetik dan suplemen pelangsing kerap menampilkan klaim berlebihan. Regulasi iklan obat dan kosmetik belum sepenuhnya membendung praktik ini, sehingga konsumen rentan terhadap pesan-pesan yang menyesatkan. Tekanan untuk tampil kurus juga beririsan dengan norma sosial yang sudah ada, di mana tubuh perempuan sering menjadi objek komentar publik. Kemunculan tren GLP-1 di dunia maya berpotensi memperlebar jurang antara mereka yang mampu mengakses pengobatan dan yang tidak, sekaligus menciptakan standar baru yang sulit dicapai.
Yang tersisa adalah doublespeak: bahasa body positivity dipelintir untuk tujuan yang berlawanan, atau justru diam. Teman-teman mengecil di depan mata tanpa sepatah kata, selebritas menjadi sangat kurus dan kita merasa tidak pantas menyebutnya. Berat badan menjadi hal yang tak terucap, terlalu serius untuk dibicarakan langsung. Hanya di kolom komentar anonim, tubuh dibahas berjam-jam. Ke depan, pertanyaannya adalah apakah kita akan kembali menemukan bahasa yang jujur untuk membicarakan tubuh, atau justru semakin tenggelam dalam kebisuan yang menguntungkan industri dan algoritma.



