Rebecca Romijn Kenang Patrick Stewart: 'Sosok Jenaka dan Nakal' di Balik Pesona Shakespeare
Baca dalam 60 detik
- Rebecca Romijn menyebut mendiang Patrick Stewart sebagai pribadi yang memikat, lucu, dan nakal, serta mengaku bersyukur pernah berada di orbit kariernya selama 25 tahun.
- Sejumlah bintang Star Trek: The Next Generation, seperti Wil Wheaton, Jonathan Frakes, dan LeVar Burton, juga menyampaikan penghormatan terakhir dengan nada personal.
- Stewart tutup usia setelah berjuang dengan Alzheimer dan demensia Lewy Body; ia akan tampil secara anumerta sebagai Professor X di Avengers: Doomsday.

Rebecca Romijn tidak berbicara tentang Professor X atau Kapten Picard. Dalam unggahan video di Instagram, aktris 53 tahun itu justru mengenang Patrick Stewart sebagai manusia di balik layar: pribadi yang memikat, jenaka, dan nakal. Stewart meninggal dunia di kediamannya di Los Angeles setelah menjalani perawatan akibat Alzheimer dan demensia Lewy Body, seperti diumumkan keluarganya.
Romijn dan Stewart sempat beradu akting dalam trilogi X-Men awal: X-Men (2000), X2 (2003), dan X-Men: The Last Stand (2006). Meski tidak pernah bertemu dalam jagat Star Trek, Romijn kemudian bergabung dengan waralaba itu sebagai Una Chin-Riley di Discovery dan Strange New Worlds. “Saya merasa sangat beruntung mengenalnya selama 25 tahun terakhir, dan pernah berada di orbitnya—sebagai sesama mutant dan sesama anggota Starfleet,” ujarnya.
Yang paling membekas bagi Romijn bukanlah kharisma panggung Stewart, melainkan humor dan kehangatannya. Ia menyebut suara bass Stewart yang menggelegar sebagai warisan aktor teater klasik, tetapi juga mengingatnya sebagai sosok yang selalu bisa membuat orang di sekitarnya tertawa. “Dia benar-benar memikat, lucu, nakal, dan punya selera humor luar biasa,” kata Romijn. “Saya akan merindukannya.”
Ucapan Romijn melengkapi gelombang penghormatan dari para alumni Star Trek: The Next Generation. Wil Wheaton, yang memerankan Wesley Crusher, menulis singkat di Instagram, “Goodspeed, Captain.” Jonathan Frakes (William Riker) menyampaikan, “Beristirahatlah dalam damai, kawan.” LeVar Burton (Geordi La Forge) menyebut Stewart sebagai “keluarga” dan menambahkan bahwa dari semua bangsawan dan ksatria yang ia kenal, Stewart adalah yang paling jenaka.
“Dia adalah keluarga. Tidak ada cara lain untuk memahaminya. Saya beruntung pernah mengenal dan mencintai banyak sisi dari jiwa yang begitu kaya bakat dan murah hati.” — LeVar Burton
Kematian Stewart menutup babak panjang seorang aktor yang berhasil menjembatani dua dunia: teater Shakespeare dan budaya pop modern. Ia dikenal sebagai Kapten Picard dalam Star Trek dan Professor X dalam X-Men, dua peran yang ia hidupkan kembali di usia senja. Bagi industri hiburan, kepergiannya bukan sekadar kehilangan satu bintang, melainkan penanda berakhirnya generasi aktor yang membangun fondasi waralaba fiksi ilmiah modern.
Di Indonesia, sosok Stewart juga meninggalkan jejak bagi penggemar Star Trek dan X-Men yang tumbuh bersama tayangan televisi era 1990-an. Karakter Picard dan Professor X menjadi semacam jendela awal bagi penonton Tanah Air untuk mengenal narasi fiksi ilmiah yang sarat isu kepemimpinan, etika, dan toleransi. Banyak komunitas penggemar lokal yang aktif membahas waralaba ini, dan kepergian Stewart memicu gelombang nostalgia di media sosial.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah Avengers: Doomsday menjadi penutup yang layak bagi perjalanan panjang Professor X? Stewart telah menyelesaikan perannya sebelum berpulang, dan bagi para penggemar, layar lebar akan menjadi kesempatan terakhir menyaksikan kharismanya. Namun di atas semua itu, kenangan yang ditinggalkan—seperti yang diungkapkan Romijn—adalah tentang manusia yang hangat, lucu, dan tak pernah kehilangan pesona.



