Mantan Bek Malaysia Desak FAM Buru Pelatih Asing: Bisa Jadi Senjata Psikologis di Kualifikasi
Baca dalam 60 detik
- Mahali Jasuli menilai pelatih asing dapat mendongkrak kualitas taktik dan mentalitas Harimau Malaya.
- Efek psikologis disebut membuat lawan lebih waspada, tetapi hanya jika penunjukan dilakukan cepat.
- Absennya Bergson da Silva dianggap tidak signifikan karena kedalaman skuad Malaysia dinilai memadai.

Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) mendapat tekanan baru untuk segera menetapkan pelatih asing bagi Timnas Malaysia. Mantan bek Harimau Malaya, Mahali Jasuli, menilai sosok juru taktik dari luar negeri bukan sekadar kebutuhan teknis, melainkan juga instrumen psikologis yang dapat mengubah cara lawan memandang kekuatan Malaysia di pentas internasional.
Dalam wawancara dengan Berita Harian yang dikutip Jumat (30/10/2026), Mahali menggarisbawahi bahwa pelatih asing membawa dua hal sekaligus: pembaruan gagasan taktik dan percepatan regenerasi mental bertanding. Menurutnya, kehadiran arsitek asing akan memberi warna baru pada pola permainan yang selama ini dianggap monoton, sekaligus menularkan standar kerja yang lebih tinggi ke ruang ganti.
Yang lebih menarik, Mahali menyoroti dimensi psikologis yang jarang dibahas. Ia berargumen bahwa reputasi seorang pelatih asing secara otomatis menciptakan persepsi berbeda di mata tim lawan. "Secara psikologis, tim lawan akan lebih berhati-hati saat menghadapi kita. Ketika melihat suatu negara dilatih oleh pelatih asing, mereka pasti berasumsi bahwa tim tersebut memiliki sesuatu yang istimewa," ujarnya.
Namun, Mahali mengingatkan bahwa efek psikologis tersebut tidak akan maksimal bila FAM menunda penunjukan hingga mendekati jadwal kualifikasi. Ia menekankan pentingnya persiapan dini agar pelatih baru memiliki waktu cukup untuk membangun fondasi permainan dan mengenali karakter pemain. "Jika kita benar-benar ingin melihat tim nasional maju dan mengukir hasil yang lebih baik, persiapan harus dimulai dari sekarang, bukan menunggu hingga hampir menjelang babak kualifikasi," tegasnya.
Pernyataan itu menyiratkan kritik terhadap pola kerja federasi yang selama ini cenderung reaktif. Mahali berharap kegagalan di masa lalu dijadikan pelajaran, bukan sekadar bahan evaluasi seremonial. Menurutnya, momentum terbaik untuk berbenah adalah sekarang, sebelum agenda kualifikasi Piala Dunia dan Piala Asia menyita seluruh perhatian.
Di sisi lain, Mahali menepis kekhawatiran tentang absennya penyerang andalan Bergson da Silva yang tengah dibekap cedera. Ia menilai kedalaman skuad Harimau Malaya masih memadai, terutama dengan kehadiran Fergus Tierney yang konsisten bermain di liga luar negeri. "Sudah lama saya ingin melihat timnas memiliki penyerang prolifik, tetapi kita lihat Bergson mengalami sedikit cedera. Namun, saya percaya masih ada pemain-pemain lain yang bisa menggantikan posisinya," ucapnya.
Bagi Mahali, laga melawan China dan Yaman hanyalah ajang pemanasan. Tolok ukur sesungguhnya adalah kualifikasi Piala Asia dan Piala Dunia. Karena itu, ia meminta publik Malaysia tidak terlalu risau dengan hasil uji coba, tetapi lebih mencermati arah pembangunan tim secara keseluruhan.
"Kehadiran pelatih luar tidak hanya mampu meniupkan semangat juang yang lebih tinggi, tetapi juga membawa gagasan taktik baru kepada tim nasional Malaysia. Saya percaya ini adalah langkah positif." โ Mahali Jasuli
Desakan ini muncul di tengah lanskap sepak bola Asia Tenggara yang semakin kompetitif. Malaysia, yang sering disebut sebagai salah satu kekuatan emerging, masih mencari identitas permainan yang konsisten. Penunjukan pelatih asing memang bukan obat mujarab, tetapi dalam konteks persaingan kualifikasi yang ketat, keputusan cepat bisa menjadi pembeda antara lolos dan tersingkir.
Pertanyaannya kini: apakah FAM akan merespons desakan ini dengan langkah konkret, atau kembali terjebak dalam siklus penundaan yang selama ini menjadi ciri birokrasi federasi? Jawabannya akan terlihat dari kualitas dan kecepatan keputusan yang diambil dalam beberapa pekan ke depan.



