Papin: Mbappe Gagal Ballon d'Or 2026 karena Strategi Komunikasi Bumerang
Baca dalam 60 detik
- Jean-Pierre Papin menilai pendekatan komunikasi Kylian Mbappe terlalu agresif sehingga merusak peluangnya meraih Ballon d'Or 2026.
- Kegagalan Mbappe juga dipengaruhi absennya trofi bersama Real Madrid dan performa Harry Kane yang lebih konsisten.
- Papin tetap optimistis Mbappe akan memenangi Ballon d'Or di masa depan karena kualitasnya masih mumpuni.

Kylian Mbappe harus menerima kenyataan pahit gagal meraih Ballon d'Or 2026. Legenda Prancis Jean-Pierre Papin menuding strategi komunikasi Mbappe yang terlalu agresif sebagai penyebab utama kekalahan tersebut.
Papin, peraih Ballon d'Or 1991, menilai penyerang Real Madrid itu terlalu gencar mempromosikan pencapaian pribadinya menjelang pemungutan suara. Alih-alih mendulang simpati, langkah tersebut justru menjadi bumerang. "Strategi komunikasi Mbappe sangat merugikannya. Hal itu, dengan cara tertentu, mencerminkan seperti apa dirinya. Sangat disayangkan jika melihat kualitas yang dimilikinya dan klub tempat dia bermain," ujar Papin kepada RMC Sport, dikutip dari SI.
Kritik Papin muncul setelah Mbappe kalah bersaing dengan Harry Kane dalam seremoni di London, Selasa dini hari WIB. Editor France Football, Vincent Garcia, mengungkapkan persaingan tahun ini sangat ketat. Selisih suara antara pemenang dan pesaingnya bahkan lebih tipis dibandingkan jarak Rodri dan Vinicius Junior pada 2024 yang mencapai 41 poin.
Menjelang pemilihan, Mbappe gencar menjalani wawancara dengan sejumlah media ternama, termasuk L'Equipe. Dalam salah satu wawancara, ia menonjolkan pencapaiannya melalui tajuk yang menyatakan tidak ada pemain yang tampil lebih baik darinya pada musim sebelumnya. Pendekatan ini kontras dengan Kane yang memilih rendah profil selama periode menjelang penghargaan.
Papin juga membandingkan Mbappe dengan Cristiano Ronaldo, mantan bintang Real Madrid yang telah lima kali memenangi Ballon d'Or. Menurutnya, efektivitas Mbappe tidak jauh berbeda dari Ronaldo, tetapi cara berkomunikasinya justru menjadi masalah. "Mbappe sedikit mengingatkan saya kepada Cristiano Ronaldo: semua orang lain harus melayaninya," kata Papin.
"Saya yakin dia akan memenangi Ballon d'Or. Dia memiliki kualitas yang dibutuhkan untuk meraihnya. Ini bukan situasi sekarang atau tidak sama sekali. Memang, ini kesempatan yang bagus, tetapi dia masih memiliki perjalanan panjang."
โ Jean-Pierre Papin, peraih Ballon d'Or 1991
Selain faktor komunikasi, minimnya gelar bersama tim turut memengaruhi peluang Mbappe. Sepanjang musim 2025/2026, ia mengakhiri kompetisi tanpa trofi bersama Real Madrid. Los Blancos finis sebagai runner-up La Liga di belakang Barcelona dan tersingkir dari Liga Champions setelah kalah dari Bayern Munchen pada perempat final. Sementara itu, Prancis terhenti di semifinal Piala Dunia 2026 setelah kalah dari Spanyol, yang kemudian menjadi juara.
Kane memiliki pencapaian berbeda. Ia membawa Bayern Munchen menjuarai Bundesliga sekaligus mencetak total 73 gol untuk klub dan tim nasional sepanjang musim 2025/2026. Jumlah itu menjadi yang terbanyak dalam satu musim oleh seorang pemain sejak Lionel Messi membukukan 82 gol pada musim 2011/2012.
Meski mengkritik, Papin tetap yakin Mbappe memiliki kualitas untuk memenangi Ballon d'Or pada masa mendatang. Ia menilai kegagalan tahun ini bukan kesempatan terakhir bagi penyerang berusia 27 tahun tersebut. Dukungan juga sempat datang dari pelatih Real Madrid, Jose Mourinho, yang pada September lalu menyebut Mbappe sebagai pemain yang secara individu mencetak sejarah pada musim panas.
Bagi publik sepak bola Indonesia, polemik ini menjadi cermin bahwa penghargaan individu tidak semata soal statistik. Cara pemain membangun citra di hadapan media dan publik ternyata punya bobot tersendiri. Ke depan, Mbappe dihadapkan pada tantangan untuk membuktikan bahwa kualitasnya bisa berbicara lebih lantang daripada strategi komunikasi yang justru kontraproduktif.



