Spanyol Kuasai Ballon d'Or 2026: Delapan dari 13 Trofi, Yamal Cetak Rekor
Baca dalam 60 detik
- Delapan dari 13 penghargaan di Ballon d'Or 2026 diraih wakil Spanyol, termasuk kategori pemain muda, kiper, dan pelatih putra-putri.
- Lamine Yamal menyabet Trofi Kopa ketiga beruntun, sementara Unai Simon dan Luis de la Fuente melengkapi dominasi usai gelar Piala Dunia 2026.
- Alexia Putellas menambah koleksi Ballon d'Or Feminin menjadi tiga, memperpanjang tradisi pemain Spanyol sebagai pemenang sejak 2021.

Spanyol menegaskan posisinya sebagai kekuatan utama sepak bola dunia dengan memborong delapan dari 13 penghargaan pada malam Ballon d'Or 2026 di London Palladium Theatre, Selasa (27/10/2026) dini hari WIB. Dominasi ini mencakup kategori individu maupun klub, dan menjadi yang terbesar dalam sejarah ajang tersebut.
Keberhasilan tersebut tidak lepas dari musim gemilang Timnas Spanyol yang menjuarai Piala Dunia 2026. Kiper Unai Simon, yang hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen, meraih Trofi Yashin untuk pertama kalinya. Pelatih Luis de la Fuente, 65 tahun, dinobatkan sebagai Pelatih Terbaik Putra berkat dedikasinya di berbagai level tim nasional.
Di kategori putri, Barcelona Femení mendominasi. Cata Coll memenangkan Trofi Yashin putri, Vicky Lopez mempertahankan gelar Pemain Muda Terbaik, dan Pere Romeu terpilih sebagai Pelatih Terbaik Putri. Klub Katalonia itu juga dinobatkan sebagai Klub Putri Terbaik setelah meraih empat trofi musim 2025/26, termasuk Liga F dan Liga Champions Wanita keempat dalam sejarah mereka.
Lamine Yamal kembali mencuri perhatian dengan Trofi Kopa ketiga beruntun. Dalam pidatonya, ia menyebut rekan setimnya di Barcelona dan tim nasional, Pau Cubarsí, yang juga berhak atas penghargaan tersebut. Sementara itu, Alexia Putellas, yang kini memperkuat London City Lionesses, menegaskan bahwa kesuksesannya tak lepas dari dukungan Barcelona. Kemenangan Putellas memperpanjang tradisi pemain Spanyol sebagai peraih Ballon d'Or Feminin dalam enam musim terakhir, dengan Putellas dan Aitana Bonmatí bergantian sejak 2021.
Bagi publik Indonesia, dominasi Spanyol ini bisa menjadi cermin bagaimana pembinaan usia dini dan kesinambungan pelatih di level tim nasional menghasilkan generasi emas. Luis de la Fuente adalah contoh nyata: ia meniti karier dari kelompok usia sebelum akhirnya membawa Spanyol juara dunia. Sementara itu, Barcelona Femení menunjukkan bahwa investasi jangka panjang di sepak bola putri berbuah trofi dan pengakuan individu. Hal ini relevan dengan upaya PSSI membangun timnas putri dan meningkatkan kompetisi domestik, meski tantangan struktural masih besar.
"Pencapaian ini bukan hanya tentang bakat individu, tetapi tentang sistem yang memberi ruang bagi pemain muda untuk berkembang," ujar seorang pengamat sepak bola Spanyol, seperti dikutip media lokal.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah Spanyol dapat mempertahankan momentum ini di ajang-ajang berikutnya, atau justru muncul kekuatan baru yang memecah dominasi. Bagi negara lain, termasuk Indonesia, malam di London itu menjadi pengingat bahwa kesuksesan sepak bola dibangun dari fondasi yang konsisten, bukan semata kilau trofi.



