Der Klassiker: Ketika Bayern dan Dortmund Mengubah Rivalitas Biasa Menjadi Fenomena Global
Baca dalam 60 detik
- Bayern Munich dan Borussia Dortmund telah mendominasi Bundesliga dengan 28 gelar dalam 33 musim terakhir, menjadikan laga keduanya sebagai bentrokan puncak sepak bola Jerman.
- Meski sering disebut 'Clásico Jerman', rivalitas ini tidak dilatari sentimen politik atau agama, melainkan murni persaingan sportif yang memuncak pada era Jürgen Klopp.
- Dengan rekor pertemuan yang ketat, setiap Der Klassiker berpotensi mengubah peta kekuasaan di Bundesliga dan menarik perhatian pasar global, termasuk penggemar di Indonesia.

Der Klassiker antara Bayern Munich dan Borussia Dortmund bukan sekadar laga biasa. Duel dua klub dengan rata-rata kehadiran penonton tertinggi di Eropa ini telah menjadi magnet bagi jutaan penggemar sepak bola dunia, termasuk di Indonesia. Sejak awal abad ke-21, pertemuan keduanya kerap menentukan arah gelar Bundesliga dan bahkan trofi Liga Champions.
Berbeda dengan El Clásico yang sarat muatan politik antara Madrid dan Barcelona, atau Superclásico Argentina yang berakar pada perbedaan sosial, rivalitas Bayern-Dortmund murni didasari kompetisi domestik. Keduanya adalah kekuatan terbesar Jerman dalam dua dekade terakhir. Bayern mendominasi dengan 11 gelar beruntun antara 2013 dan 2023, sementara Dortmund menjadi penantang terdekat, terutama di bawah asuhan Jürgen Klopp pada awal 2010-an.
Sejarah mencatat, sebelum era Klopp, Dortmund sempat terpuruk secara finansial pada awal 2000-an. Klub bahkan menerima pinjaman €2 juta dari Bayern untuk menutup gaji pemain. Namun, kebangkitan Dortmund justru melahirkan persaingan sengit yang memuncak pada final Liga Champions 2013 di Wembley. Meski Bayern menang 2-1, laga itu menjadi titik balik yang mengglobalkan Der Klassiker.
Menariknya, meski Bayern lebih sering menang, Dortmund kerap menyulitkan. Pada musim 2022/23, Dortmund hampir merebut gelar tetapi gagal di laga terakhir, membiarkan Bayern menang tipis atas dasar selisih gol. Momen itu menegaskan bahwa Der Klassiker selalu menyimpan drama hingga akhir.
"Saya ingin mengatakan padanya untuk terus bermain, menunjukkan bahwa Anda seorang pria," ujar Lothar Matthäus mengenang insiden 'cry-baby' dengan Andreas Möller pada 1997.
Bagi penggemar di Indonesia, Der Klassiker adalah tontonan wajib. Liga Jerman memiliki basis penggemar fanatik di Tanah Air, terutama pendukung Bayern dan Dortmund. Laga ini sering menjadi ajang nobar di kafe-kafe dan platform streaming. Intensitas dan sejarah panjangnya menjadikan Der Klassiker setara dengan laga-laga besar Eropa lainnya.
Ke depan, dominasi Bayern mungkin akan terus berlanjut, tetapi Dortmund dengan tradisi pengembangan pemain muda dan dukungan suporter fanatik selalu punya peluang. Mampukah Dortmund mengakhiri puasa gelar dan membalikkan keadaan? Der Klassiker berikutnya akan menjadi jawabannya.



