Verstappen Sebut Red Bull 'Lumayan Biasa' di Austin, Kemenangan Antonelli Buka Celah Kelemahan
Baca dalam 60 detik
- Max Verstappen finis ketiga di GP Amerika Serikat, tertinggal 17,5 detik dari Kimi Antonelli, dan mengakui performa Red Bull hanya rata-rata.
- Strategi ban keras yang dipilih Mercedes terbukti unggul, sementara Red Bull dan Ferrari terjebak pada dua pit stop yang kurang efektif.
- Verstappen menilai konsistensi power unit dan reaksi tim terhadap grip ban menjadi pekerjaan rumah sebelum seri berikutnya.

Max Verstappen tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya meski berhasil naik podium di Grand Prix Amerika Serikat. Pembalap Red Bull itu menilai timnya tampil "lumayan biasa" di Circuit of the Americas, Minggu (19/10/2025), setelah finis ketiga dengan selisih 17,5 detik dari pemenang Kimi Antonelli. Kekecewaan ini kontras dengan dua seri sebelumnya di Malaysia dan Singapura yang berakhir dengan kemenangan.
Hasil di Austin memperlihatkan bahwa keunggulan Red Bull tidak lagi absolut. Mercedes berhasil mengubah pole position Antonelli menjadi kemenangan lewat strategi satu pit stop menggunakan ban keras, sementara Red Bull dan Ferrari memilih dua pit stop. Pilihan itu terbukti kurang tepat, terutama ketika ban kompon lunak yang diandalkan pada dua balapan sebelumnya justru kehilangan daya cengkeram di trek Texas.
Verstappen mengakui timnya terlalu berpegang pada resep lama. "Kami terlalu percaya pada apa yang berhasil di dua balapan terakhir, di mana ban lunak menjadi yang tercepat. Di sini jelas tidak bekerja," ujarnya dalam konferensi pers usai balapan. Ia juga menyoroti lambatnya reaksi tim terhadap pembalap yang memakai ban keras dan menemukan grip lebih baik. "Kami seharusnya bisa bereaksi lebih cepat," tambahnya.
Masalah tidak berhenti pada strategi. Verstappen mengungkapkan bahwa power unit yang kurang konsisten turut memaksa tim bekerja lebih keras. "Ketika Anda memiliki terlalu banyak masalah dengan konsistensi power unit, itu sudah kehilangan waktu lap secara gratis. Jadi wajar jika kami tidak bisa mengeksekusi semuanya dengan maksimal," jelasnya. Ia juga menyebut masalah radio yang sempat mengganggu komunikasi dengan tim.
"Mobil kami seimbang, tapi bukan yang tercepat di kecepatan tinggi maupun rendah. Di sini Anda harus sangat cepat di salah satu area itu. Kalau tidak, Anda hanya akan tampil biasa-biasa saja," kata Verstappen.
Pernyataan itu menggarisbawahi persoalan mendasar yang dihadapi Red Bull: RB22 tidak memiliki keunggulan mencolok di sektor mana pun. Di Austin, karakteristik trek yang menuntut performa tinggi di tikungan cepat dan lambat justru memperlihatkan bahwa mobil pesaing seperti Mercedes mampu mengimbangi, bahkan melampaui, performa Red Bull. Ini menjadi sinyal bahwa dominasi tim asal Milton Keynes tidak lagi otomatis.
Bagi Red Bull, balapan di Austin menyisakan sejumlah pertanyaan teknis yang harus segera dijawab. Verstappen menyebut tim perlu menganalisis mengapa ban lunak tidak bekerja sesuai ekspektasi dan mengapa kompon keras justru tampil lebih baik. "Ada beberapa hal yang harus dianalisis: mengapa ban ini tidak bekerja seperti yang kami perkirakan, atau mengapa ban lain tampil lebih baik dari perkiraan. Jadi ada pelajaran yang bisa diambil," ujarnya.
Kegagalan di Austin juga menjadi peringatan bahwa kejuaraan masih panjang. Jika Red Bull tidak segera menemukan solusi atas inkonsistensi power unit dan strategi ban, posisi mereka di klasemen bisa tergerus. Sementara itu, kemenangan Antonelli menunjukkan bahwa Mercedes semakin percaya diri dengan paket teknis mereka. Pertanyaannya, apakah Red Bull mampu bangkit di seri berikutnya, atau justru semakin tertinggal dalam perburuan gelar?



