Lassana Doucoure, Striker Kelahiran Jakarta yang Tembus Liga Norwegia: Jejak Karier dari Barito Putera ke FK Haugesund
Baca dalam 60 detik
- Lassana Doucoure resmi diperkenalkan FK Haugesund pada 26 Oktober 2026 setelah sempat tertahan izin kerja sejak Agustus.
- Striker 23 tahun ini lahir di Jakarta, berdarah Mali, dan menimba ilmu di Dewa United U-20 serta Barito Putera sebelum merantau ke Eropa.
- Kontrak 1,5 musim memberi peluang promosi ke Eliteserien jika Haugesund mampu menjaga konsistensi di puncak klasemen divisi kedua.

Nama Lassana Doucoure mungkin belum akrab di telinga penggemar sepak bola Tanah Air. Namun, kepindahannya ke FK Haugesund pada bursa transfer pertengahan 2026 menjadi sinyal bahwa jalur karier pemain muda Indonesia—atau setidaknya yang lahir dan dibesarkan di Indonesia—kini kian terbuka ke Skandinavia. Klub kasta kedua Liga Norwegia itu resmi memperkenalkan Doucoure pada Senin (26/10/2026), setelah proses administrasi yang tertunda sejak Agustus.
Doucoure bukan sosok yang tiba-tiba muncul. Ia lahir di Jakarta pada 30 Juli 2003, dengan kedua orang tua berdarah Mali. Perjalanan sepak bolanya dimulai dari akademi Dewa United U-20 pada 2024, sebelum menyeberang ke Barito Putera U-20 di tahun yang sama. Tak butuh waktu lama, ia dipromosikan ke tim senior Laskar Antasari yang saat itu berlaga di BRI Liga 1 2024/2025. Namanya sempat beberapa kali masuk daftar susunan pemain, meski menit bermainnya masih terbatas.
Musim 2025/2026 menjadi titik balik. Ketika Barito Putera terdegradasi ke Pegadaian Championship, Doucoure justru mendapat panggung lebih luas. Ia mencatat delapan penampilan dengan total 123 menit, menyumbang satu gol, satu assist, dan satu kartu kuning. Statistik itu memang tidak mentereng, tetapi cukup untuk menarik perhatian perekrut dari Eropa. Postur tubuhnya yang menjulang 182 cm menjadi nilai tambah sebagai penyerang target-man.
Kepindahan Doucoure ke Haugesund sejatinya telah disepakati sejak Agustus 2026, tetapi izin kerja membuatnya harus menunggu dua bulan sebelum bisa merumput secara resmi. Ia diikat kontrak hingga akhir Desember tahun depan, atau tepat saat musim 2027 berjalan. Haugesund sendiri sedang berada di jalur promosi: mereka memimpin klasemen divisi kedua Norwegia dengan 62 poin dari 28 pertandingan. Jika konsisten, Doucoure berpeluang merasakan atmosfer Eliteserien—kasta tertinggi sepak bola Norwegia—pada musim depan.
Bagi sepak bola Indonesia, langkah Doucoure menghadirkan narasi yang jarang terdengar. Selama ini, eksodus pemain muda Tanah Air ke Eropa lebih sering melalui jalur akademi klub besar atau program beasiswa federasi. Doucoure memilih rute berbeda: menimba ilmu di kompetisi domestik, menerima menit bermain di kasta kedua, lalu memanfaatkan jaringan perekrut Skandinavia yang kerap memantau talenta dari Asia dan Afrika. Keberhasilannya—jika terbukti—bisa menjadi cetak biru bagi pemain lain yang tak masuk radar tim nasional usia muda.
"Ini bukan sekadar transfer biasa. Doucoure menunjukkan bahwa pemain yang lahir di Indonesia dan dibesarkan di liga lokal punya peluang menembus pasar Eropa, asalkan ada konsistensi dan keberanian mengambil jalur non-konvensional," ujar seorang pengamat sepak bola nasional yang enggan disebutkan namanya.
Namun, tantangan sesungguhnya baru dimulai. Liga Norwegia dikenal fisik dan mengandalkan kecepatan transisi. Doucoure harus bersaing dengan penyerang senior di Haugesund yang sedang dalam performa apik. Belum lagi faktor adaptasi budaya dan cuaca dingin yang ekstrem. Jika gagal menembus tim utama, ia berisiko menghabiskan sisa kontraknya di bangku cadangan—sebuah skenario yang kerap menimpa pemain Asia di Eropa Utara.
Di sisi lain, PSSI dan pelatih timnas Indonesia tengah gencar mencari pemain keturunan untuk memperkuat skuad Garuda. Doucoure, dengan status kelahiran Jakarta, sebenarnya memenuhi syarat administratif untuk dinaturalisasi—meski hingga kini belum ada sinyal ketertarikan dari federasi. Jika ia sukses di Norwegia, bukan tidak mungkin namanya masuk dalam radar. Sebaliknya, kegagalan bisa memperkuat anggapan bahwa liga domestik belum mampu melahirkan pemain siap ekspor.
Yang jelas, kepindahan Doucoure ke Haugesund menjadi ujian bagi ekosistem pembinaan usia muda Indonesia. Apakah ini akan menjadi langkah pembuka bagi gelombang pemain berikutnya, atau sekadar cerita singkat yang tenggelam oleh hiruk-pikuk liga domestik? Jawabannya akan terlihat dalam 18 bulan ke depan, saat kontraknya berakhir dan masa depan kariernya dipertaruhkan.



