Red Bull Tutup Pintu Pasok Mesin F1, Aston Martin Tetap Setia Honda
Baca dalam 60 detik
- Prinsipal Red Bull Laurent Mekies menegaskan timnya belum membuka pembicaraan serius untuk memasok unit daya ke tim lain, termasuk Aston Martin.
- Meski mesin RBPT disebut FIA sebagai tolok ukur dan telah meraih dua kemenangan, Red Bull memilih fokus menyempurnakan integrasi mesin-sasis untuk keunggulan kompetitif.
- Aston Martin melalui Mike Krack menegaskan komitmen jangka panjang dengan Honda, meredam spekulasi peralihan pemasok mesin.

Red Bull Racing memastikan belum bersedia menjadi pemasok mesin Formula 1 untuk tim lain, termasuk Aston Martin, meski performa unit daya racikan Red Bull Powertrains (RBPT) musim ini mendapat pengakuan dari FIA. Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Prinsipal Tim Laurent Mekies di sela Grand Prix Amerika Serikat, menepis rumor yang berkembang beberapa pekan terakhir.
Isu ketertarikan Aston Martin terhadap mesin Red Bull mencuat setelah kerja sama tim berbasis di Silverstone itu dengan Honda dikabarkan memanas. Performa unit daya Honda sepanjang musim dinilai belum memenuhi ekspektasi, memicu spekulasi bahwa Aston Martin tengah menjajaki opsi lain, termasuk mendekati Red Bull dan Ford. Namun, Mekies menegaskan bahwa pihaknya tidak sedang membuka negosiasi serius dengan tim mana pun.
Menurut Mekies, perhatian dari tim-tim lain justru muncul akibat publisitas positif yang tidak diinginkan. Ia menyebut performa mesin Red Bull telah memancing minat banyak tim, tetapi timnya belum merasa siap untuk menjadi pemasok. "Kami tidak merasa siap untuk itu," ujarnya, seraya menambahkan bahwa dalam lima tahun ke depan situasinya bisa berubah, namun untuk saat ini fokus utama adalah meningkatkan unit daya dan integrasinya dengan sasis.
Red Bull memilih membangun mesin sendiri bukan tanpa alasan. Mekies menjelaskan bahwa salah satu tujuan utama adalah mengekstraksi keunggulan kompetitif dari integrasi mesin dan sasis. Ia juga menyatakan bahwa tidak ada satu pun personel di RBPT yang menganggap mesin mereka sudah final. "Ada seribu pertimbangan driveability yang kami tahu bisa lebih baik, dan kami akan membuatnya lebih baik," tambahnya. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa Red Bull masih memiliki pekerjaan rumah besar sebelum membuka diri sebagai pemasok.
"Kami mendapat banyak publisitas positif yang tidak diinginkan tentang performa mesin kami, dan itu tentu menarik perhatian banyak tim. Apakah kami memiliki pembicaraan serius dengan siapa pun untuk memasok tim lain? Tidak. Kami tidak merasa siap untuk itu." โ Laurent Mekies, Prinsipal Red Bull Racing
Dari kubu Aston Martin, Prinsipal Mike Krack berupaya meredakan spekulasi. Ia menegaskan bahwa timnya memiliki komitmen jangka panjang dengan Honda, yang baru saja menyelesaikan balapan ke-500 di F1. "Saya hanya bisa mengatakan kami memiliki mitra jangka panjang, yaitu Honda, dan saya pikir kami akan bersama juga saat kami memenangkan balapan pertama bersama," kata Krack. Pernyataan ini sekaligus menepis anggapan bahwa hubungan Aston Martin dan Honda sedang retak.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, dinamika pemasok mesin ini menjadi cermin betapa kompleksnya persaingan di balik lintasan. Keputusan Red Bull untuk menutup pintu pasokan sementara waktu bisa memengaruhi peta kekuatan tim-tim papan tengah dalam beberapa musim ke depan. Jika Aston Martin bertahan dengan Honda, maka upaya tim untuk bangkit dari keterpurukan performa akan sangat bergantung pada pengembangan unit daya Jepang tersebut. Sementara itu, tim-tim lain yang mungkin berminat pada mesin Red Bull harus mencari alternatif atau menunggu hingga Red Bull membuka diri.
Ke depan, fokus Red Bull adalah memastikan mesin RBPT tidak hanya cepat tetapi juga andal dan mudah dikendalikan. Pertanyaannya, akankah dominasi mesin Red Bull membuat tim lain semakin kesulitan mengejar, atau justru memicu percepatan pengembangan di kubu Honda dan produsen lain? Yang jelas, pernyataan Mekies menutup spekulasi untuk saat ini, tetapi pintu masa depan masih terbuka lebar.



