Peugeot Django Evo 125 Meluncur di Indonesia, Banderol Rp71 Juta
Baca dalam 60 detik
- Permata Otomotif Indonesia resmi memasarkan Peugeot Django Evo 125 dengan harga mulai Rp71 juta OTR Jakarta.
- Skutik bergaya retro ini mengandalkan mesin 125 cc berpendingin cairan dan fitur modern seperti layar TFT serta keyless ignition.
- Pemesanan dibuka pada pameran GJAW x IMOS 2026, dengan strategi pemasaran menyasar komunitas gaya hidup, seni, dan fashion.

PT Permata Otomotif Indonesia (POI) secara resmi memperkenalkan Peugeot Django Evo 125 untuk pasar otomotif nasional pada Rabu (28/10). Langkah ini menandai upaya agen pemegang merek Peugeot Motocycles tersebut meramaikan segmen skuter premium di Tanah Air dengan banderol Rp71 juta hingga Rp74 juta on the road (OTR) DKI Jakarta.
Kehadiran Django Evo melengkapi lini keluarga Django yang sebelumnya sudah dihuni varian Classic, Sport, dan Cafรฉ Racer. Bagi POI, model ini bukan sekadar tambahan produk, melainkan instrumen untuk memperluas basis konsumen di tengah persaingan skuter matik kelas atas yang semakin ketat. Pasar skuter premium Indonesia dalam beberapa tahun terakhir memang menunjukkan gairah, seiring pergeseran preferensi konsumen dari kendaraan semata menjadi bagian dari ekspresi gaya hidup.
Dari sisi desain, Django Evo mempertahankan karakter garis bodi tegas khas Peugeot dengan sentuhan retro modern. Skutik ini memiliki tinggi jok 780 mm dan jarak sumbu roda 1.369 mm. Untuk urusan pengereman, Peugeot membekali cakram depan berdiameter 200 mm dan cakram belakang 190 mm, dipadukan suspensi teleskopik di depan serta monoshock di belakang. Ban berukuran 110/70-12 di depan dan 120/70-12 di belakang melengkapi sektor kaki-kaki.
Meski tampil dengan gaya klasik, Django Evo tidak ketinggalan aspek kepraktisan. Layar TFT berwarna 5 inci menjadi pusat informasi berkendara, sementara sistem keyless ignition memudahkan pengoperasian tanpa kunci fisik. Ada pula tombol pembuka kompartemen depan yang dilengkapi soket pengisian daya, lampu hazard, dan pengaman standar samping. Dek kaki rata serta bagasi yang mampu menampung helm dengan visor menambah nilai fungsional untuk penggunaan harian.
Dapur pacu Django Evo mengandalkan mesin bensin 125 cc empat langkah, satu silinder, empat katup, dengan pendingin cairan dan sistem injeksi elektronik (EFI). Mesin tersebut memproduksi tenaga maksimum 12,65 PS atau setara 9,3 kW pada 8.500 rpm. Unit yang dipasarkan di Indonesia masih diimpor secara completely built-up (CBU) dari China, sebuah konsekuensi dari rantai pasok global Peugeot Motocycles yang memusatkan produksi di sejumlah negara.
Strategi pemasaran yang dipilih POI pun terbilang berbeda dari arus utama. Direktur PT Permata Otomotif Indonesia, William Sinanta, mengungkapkan bahwa pihaknya tidak ingin bertarung di medan yang sama dengan merek lain. Peugeot memilih mendekati konsumen melalui komunitas gaya hidup, khususnya di ranah fashion, seni, dan galeri. Pendekatan ini diyakini mampu menjangkau ceruk pasar yang belum banyak digarap pesaing.
"Kami kejar kebutuhan gaya hidup mereka. Makanya kami mendekati kolam yang belum tersentuh pada umumnya ke dunia fashion, art, gallery," ujar William dalam keterangan resminya, Rabu (28/10).
Pernyataan itu menggarisbawahi pergeseran lanskap persaingan skuter premium di Indonesia. Jika sebelumnya merek-merek besar bertumpu pada spesifikasi teknis dan jaringan layanan, Peugeot mencoba membangun kedekatan emosional lewat kurasi gaya hidup. Strategi ini memiliki risiko tersendiri, lantaran segmen fashion dan seni di Indonesia masih terbilang niche. Namun, bila berhasil, Peugeot berpotensi mengunci loyalitas konsumen yang selama ini sulit disentuh oleh pemain arus utama.
Sebagai langkah konkret, POI akan membuka pemesanan Django Evo 125 pada pameran GJAW x IMOS 2026 yang digelar 20โ29 November 2026 di ICE BSD City, Tangerang. Ajang tersebut sekaligus menjadi panggung bagi Peugeot untuk memperkenalkan sejumlah model lain yang disiapkan untuk pasar Indonesia. Bagi konsumen, momen ini menjadi kesempatan pertama untuk melihat langsung dan melakukan uji duduk sebelum memutuskan pembelian.
Ke depan, keberhasilan Django Evo akan bergantung pada sejauh mana POI mampu menerjemahkan pendekatan gaya hidup menjadi penjualan riil. Akankah strategi menyasar komunitas fashion dan seni mampu mendongkrak pangsa pasar Peugeot di segmen skuter premium, atau justru menjadi eksperimen yang berhenti di tataran konsep? Pasar akan menjawabnya setelah pameran November mendatang.



