Laptop 2-in-1 Ber-AI Dijual Rp1,2 Juta di Amazon, Mampukah Goyang Pasar Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Amazon membanderol Eduaitablet Android 16 2-in-1 seharga US$75, setara sekitar Rp1,2 juta, dengan spesifikasi RAM 16 GB dan penyimpanan yang bisa diperluas hingga 1 TB.
- Perangkat ini mengandalkan prosesor ARM Cortex 1,8 GHz, layar 10,1 inci, dan fitur AI seperti prediksi aplikasi serta perlindungan pencurian, menjadikannya opsi menarik di segmen entry-level.
- Meski menawarkan fleksibilitas tablet-laptop, daya tahan baterai enam jam dan ekosistem Android 16 perlu diuji ketahanannya di pasar Indonesia yang sensitif harga dan konektivitas.

Amazon kembali mengguncang pasar perangkat entry-level dengan menawarkan Eduaitablet Android 16 2-in-1 Laptop and Tablet seharga US$75 atau sekitar Rp1,2 juta (asumsi kurs Rp16.300/US$). Harga ini menempatkan perangkat konversi tersebut sebagai salah satu laptop ber-AI termurah yang pernah dijual di ritel besar, sekaligus memicu pertanyaan apakah gelombang perangkat murah ini akan segera merambah pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Perangkat ini bukan sekadar tablet biasa. Eduaitablet mengusung konsep dua fungsi: sebagai laptop dengan keyboard wireless dan mouse, serta sebagai tablet dengan stylus dan casing pelindung. Spesifikasinya tergolong mengejutkan untuk kelas harga di bawah US$100: RAM 16 GB, penyimpanan internal 32 GB, dan slot microSD yang dapat menampung hingga 1 TB. Prosesor ARM Cortex 1,8 GHz diklaim cukup untuk menjalankan berbagai aplikasi secara bersamaan tanpa hambatan berarti.
Layar 10,1 inci dengan resolusi 1280 x 800 piksel dan dukungan Widevine L1 memungkinkan pengguna menikmati layanan streaming seperti Netflix dan Hulu tanpa batasan kualitas. Kamera depan dan belakang juga disematkan, meski belum ada informasi detail soal resolusinya. Baterai yang dapat diisi ulang diklaim bertahan hingga enam jam pemutaran, lebih baik dibandingkan banyak model seharga serupa.
Yang membuat perangkat ini menonjol adalah sistem operasi Android 16 dengan fungsi AI. Amazon menyebut adanya prediksi akses program yang dapat mempercepat pembukaan aplikasi, serta sistem perlindungan pencurian berbasis AI. Fitur-fitur ini biasanya ditemukan pada perangkat kelas menengah ke atas, sehingga kehadirannya di harga US$75 menjadi daya tarik tersendiri. Namun, perlu dicatat bahwa Android 16 untuk perangkat 2-in-1 masih tergolong baru, dan pengalaman pengguna akhir sangat bergantung pada optimalisasi perangkat keras.
Sejumlah pembeli di Amazon memberikan ulasan positif. Salah satunya menyebut perangkat ini "tablet yang bagus untuk harga segini", mudah diatur, berjalan lancar, dan layarnya memuaskan. Keyboard serta aksesori tambahan dinilai sebagai bonus yang menguntungkan. Ulasan semacam ini menunjukkan bahwa Eduaitablet setidaknya mampu memenuhi ekspektasi dasar pengguna kasual, meski belum tentu untuk kebutuhan produktivitas berat.
Jika masuk ke Indonesia, perangkat ini berpotensi bersaing di segmen laptop murah yang selama ini didominasi merek lokal dan Tiongkok. Dengan harga sekitar Rp1,2 juta, Eduaitablet akan berhadapan dengan tablet Android kelas bawah dan laptop Chromebook bekas. Namun, ada beberapa catatan: pertama, dukungan purna jual dan garansi resmi di Indonesia belum jelas. Kedua, ekosistem Android 16 untuk perangkat 2-in-1 mungkin belum sepenuhnya dioptimalkan untuk aplikasi produktivitas lokal. Ketiga, daya tahan baterai enam jam tergolong pas-pasan untuk mobilitas tinggi.
Dari sisi tren industri, langkah Amazon menjual perangkat ber-AI di bawah US$100 menandakan bahwa adopsi AI semakin merambah ke perangkat murah. Ini bisa memicu perang harga di segmen entry-level, termasuk di pasar Indonesia yang sangat sensitif terhadap harga. Produsen lokal mungkin perlu waspada, tetapi juga bisa mengambil pelajaran bahwa fitur AI bukan lagi kemewahan eksklusif.
Pertanyaannya, akankah perangkat seperti ini segera tersedia secara resmi di Indonesia dengan harga dan dukungan yang kompetitif? Ataukah konsumen Tanah Air harus puas membeli lewat jalur impor tanpa jaminan? Dalam beberapa bulan ke depan, kita akan melihat apakah gelombang laptop AI murah ini benar-benar menjadi game changer atau sekadar angin lalu di pasar global.



