Sophia Bush Bongkar Kultur Kompetisi Perempuan di Balik Layar One Tree Hill
Baca dalam 60 detik
- Sophia Bush mengungkap bahwa ia dan rekan-rekan perempuannya di One Tree Hill sering diadu domba oleh sistem industri hiburan pada awal 2000-an.
- Sebelum merilis memoar, Bush menghubungi setiap mantan rekan mainnya secara personal untuk menghindari konflik dan menjaga hubungan baik.
- Pengalaman Bush mencerminkan pola eksploitasi dan lingkungan kerja toksik yang masih sering terjadi di industri hiburan, termasuk di Indonesia.

Aktris Sophia Bush mengungkap sisi gelap industri televisi Amerika Serikat pada awal 2000-an. Dalam wawancara dengan Bustle menjelang peluncuran memoarnya, And I Will Tell You Mine: Notes from a Life in Progress, perempuan 44 tahun itu menuturkan bahwa ia dan para aktris One Tree Hill kerap diadu domba oleh dinamika produksi yang menempatkan perempuan sebagai komoditas persaingan, bukan kolaborator.
Bush menyadari bahwa memoar yang ia tulis berpotensi memicu ketegangan dengan mantan rekan kerjanya. Karena itu, ia memilih langkah preventif: menemui satu per satu personel One Tree Hill sebelum naskah diterbitkan. “Kami punya grup chat yang luar biasa, tetapi saya memutuskan untuk berbicara secara personal dengan setiap orang dan menyebarkan halaman-halaman tertentu secara individual. Saya tidak ingin ada yang merasa terpengaruh oleh opini kelompok,” ujarnya, seperti dikutip Bustle.
Langkah tersebut bukan tanpa alasan. Bush menilai bahwa industri televisi saat itu memiliki mekanisme yang cenderung mengeksploitasi perempuan. “Mesin industri senang memasukkan perempuan, mengunyahnya, lalu meludahkannya. Mereka menempatkan Anda dalam peran yang bisa dijadikan umpan klik, padahal itu bukan diri Anda sebenarnya,” kata Bush menggambarkan tekanan yang ia alami.
Tekanan tersebut diperparah oleh jam kerja yang tidak masuk akal dan budaya kepemimpinan yang buruk. “Jam kerja gila. Jika Anda memiliki atasan yang tidak kompeten—seperti yang kami semua alami—Anda akan diajari untuk bersaing, bukan berkolaborasi. Anda diadu satu sama lain, lalu bingung mengapa semuanya terasa aneh. Anda tidak bisa membicarakannya karena tidak mungkin bertengkar dengan teman di tempat kerja. Akhirnya masalah itu terkubur, membusuk, dan mengeras,” tutur Bush panjang lebar.
“Saya tidak akan membiarkan integritas saya direduksi oleh perilaku orang lain. Saya akan tetap tenang, datang bekerja, dan menjalankan tugas.” — Sophia Bush, mengenang pengalaman di lokasi syuting yang tidak disebutkan namanya.
Pengalaman pahit tidak berhenti di One Tree Hill. Setelah meninggalkan serial drama remaja itu pada 2012, Bush sempat bergabung dengan proyek serial televisi lain. Ia mengaku mengalami trauma berkepanjangan akibat perlakuan seseorang yang ia sebut “cukup tua untuk menjadi ayah saya”. Dalam podcast Reclaiming With Monica Lewinsky, Bush mengungkapkan bahwa ia sempat ingin mundur, tetapi memilih bertahan karena ingin membuktikan ketangguhannya. “Saya punya kesempatan untuk pergi setelah dua tahun. Saya berkata, ‘Saya tidak akan membiarkan integritas saya direduksi oleh perilaku orang lain. Saya akan tetap tenang.’ Tetapi saya tidak mampu,” kenangnya.
Kisah Bush bukan sekadar curhat selebritas. Ia menyoroti persoalan struktural yang kerap luput dari perhatian publik: bagaimana industri hiburan—tidak hanya di Hollywood—menciptakan lingkungan kerja yang rentan terhadap eksploitasi, terutama bagi perempuan muda. Di Indonesia, fenomena serupa juga mengintai para pekerja seni peran, terutama di industri sinetron dan film yang jam kerjanya padat dan perlindungan hukumnya lemah. Serikat pekerja seni peran dan lembaga pengawas ketenagakerjaan perlu menaruh perhatian lebih serius pada isu ini, bukan hanya pada aspek komersial produksi.
Ke depan, terbitnya memoar Bush bisa menjadi pemicu diskusi lebih luas tentang pentingnya ruang aman bagi perempuan di dunia hiburan. Apakah industri akan merespons dengan perbaikan sistemik, atau justru kembali menutup mata seperti yang terjadi dua dekade lalu? Publik, terutama penggemar setia One Tree Hill, tampaknya menanti jawaban itu—bukan hanya dari Bush, tetapi juga dari para pengambil keputusan di balik layar.



