Naomi Schiff Peringatkan Red Bull: Mobil F1 2026 Terlalu Sempit, Verstappen dan Hadjar Terancam
Baca dalam 60 detik
- Mantan pembalap Naomi Schiff menilai Red Bull memiliki jendela set-up yang sangat sempit, mempersulit Verstappen dan Hadjar tampil konsisten.
- Masalah kopling dan deployment listrik di awal balapan AS menjadi bukti kelemahan operasional yang lebih luas.
- Jika tidak segera dibenahi, ambisi Red Bull merebut gelar 2026 bisa buyar sejak paruh awal musim.

Red Bull Racing menghadapi tekanan baru jelang musim 2026. Naomi Schiff, mantan pembalap sekaligus analis F1, memperingatkan bahwa mobil tim asal Milton Keynes itu memiliki rentang pengaturan yang terlalu sempit, sehingga menyulitkan Max Verstappen dan Isack Hadjar untuk tampil optimal. Peringatan ini muncul setelah kedua pembalap gagal finis di Grand Prix Amerika Serikat akibat masalah teknis pada fase start.
Dalam balapan di Circuit of the Americas, Hadjar mengalami kendala peluncuran yang membuatnya meminta desain kopling ulang, sementara Verstappen kehilangan daya listrik saat keluar dari Tikungan 1. Akibatnya, juara dunia empat kali itu harus bertarung sepanjang balapan melawan duo Ferrari, jauh dari posisi yang diharapkan. Schiff menilai insiden tersebut bukan sekadar nasib buruk, melainkan indikasi masalah mendasar pada paket teknis Red Bull.
Berbicara di podcast Up To Speed, Schiff menyayangkan kegagalan kedua pembalap di awal lomba. Menurutnya, duel antara Verstappen dan Kimi Antonelli yang dinanti-nantikan publik tidak pernah terwujud, dan peluang Hadjar meraih kemenangan pertamanya juga sirna. "Mobil Red Bull sepanjang akhir pekan ini terasa seperti berjalan di atas pisau," ujarnya, seraya menambahkan bahwa selain kopling, masih banyak aspek yang perlu dievaluasi.
Kritik Schiff bukan tanpa dasar. Sejak era regulasi ground effect, Red Bull memang dikenal memiliki mobil yang sangat sensitif terhadap perubahan kondisi trek dan suhu. Namun, masalah pada 2026 tampaknya lebih akut karena kompleksitas unit daya hybrid yang baru. Kopling dan sistem deployment listrik menjadi titik lemah yang kerap muncul di awal balapan, memaksa pembalap bekerja ekstra keras untuk sekadar bertahan di posisi kompetitif.
Bagi Verstappen, yang kontraknya dengan Red Bull masih menyisakan beberapa tahun, situasi ini bisa memengaruhi motivasi dan peluangnya meraih gelar juara dunia kelima. Sementara Hadjar, pembalap muda yang baru direkrut, membutuhkan mobil yang dapat diandalkan untuk menunjukkan potensinya. Schiff menyebut bahwa mobil saat ini "tidak mudah dikendarai oleh kedua pembalap", dan hal itu terlihat dari radio komunikasi Verstappen yang penuh emosi saat memprotes keputusan tim.
"Kami mendengar Max sangat bersemangat di radio tentang keputusan tim yang mengirimnya kembali ke udara kotor dan tidak mengoptimalkan strategi. Mobil itu tidak tampak mudah dikendarai oleh siapa pun saat ini," kata Schiff.
Red Bull bukan satu-satunya tim yang bergulat dengan regulasi baru, tetapi ekspektasi terhadap mereka jauh lebih tinggi. Tim yang mendominasi F1 2022-2024 ini dituntut untuk segera menemukan solusi sebelum musim 2026 benar-benar lepas dari genggaman. Jika masalah kopling dan deployment tidak segera diatasi, bukan tidak mungkin Verstappen dan Hadjar akan terus kehilangan poin berharga di balapan-balapan awal.
Pertanyaannya kini: mampukah Red Bull memperlebar jendela operasional mobil mereka, atau justru semakin terpuruk di tengah persaingan yang semakin ketat? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa seri mendatang, dan para penggemar F1 tentu berharap tim favorit mereka segera bangkit.



