Polisi Filipina Selidiki Dugaan Materi Cabul Milik Ayah Meghan Markle, FBI Dilibatkan
Baca dalam 60 detik
- Thomas Markle Sr, ayah Meghan Markle, diperiksa otoritas Filipina setelah putranya menyerahkan empat kotak barang bukti berisi dugaan gambar pelecehan seksual anak.
- Penyidik forensik Cebu memetakan asal dan kepemilikan file di perangkat elektronik, sementara FBI dan otoritas Meksiko-Amerika Serikat membahas yurisdiksi.
- Meghan menyatakan sangat terpukul dan menegaskan jarak dari ayahnya selama ini demi melindungi anak-anaknya; Thomas Sr membantah dan menyebut tuduhan sebagai kebohongan.

Kepolisian Filipina resmi membuka penyelidikan terhadap Thomas Markle Sr, 82 tahun, ayah dari Meghan Markle, setelah putranya menyerahkan empat kotak besar barang milik sang ayah ke polisi di Cebu City. Barang bukti itu diduga memuat ratusan hingga ribuan gambar pelecehan seksual anak yang tersimpan di perangkat elektronik. Kasus ini mencuat ke permukaan justru dari tangan Thomas Markle Jr, 60 tahun, yang sebelumnya menjadi perawat penuh waktu bagi ayahnya.
Juru bicara Kepolisian Nasional Filipina, Kolonel Allen Rae Co, menegaskan pihaknya tidak akan mentoleransi kejahatan semacam itu, siapa pun pelakunya. “Kami sangat prihatin, dan kami tidak akan membiarkan siapa pun, baik warga asing maupun warga negara Filipina, melakukan hal ini terhadap anak-anak kami,” ujarnya dalam konferensi pers usai penyerahan barang bukti terakhir. Ia menambahkan, penyidik harus memastikan sifat file, asal-usul, dan kepemilikan materi tersebut sebelum menyimpulkan siapa yang bertanggung jawab.
Proses hukum baru memasuki tahap awal. Unit Kejahatan Siber Regional 7 di Cebu mencatat barang bukti dalam 80 kategori inventaris dan tengah melakukan pemeriksaan forensik. Kepolisian memperkirakan analisis awal memakan waktu sekitar sepekan, tetapi volume bukti yang besar memungkinkan penyelidikan berlarut hingga berbulan-bulan. Hingga kini, belum ada dakwaan resmi terhadap Thomas Sr, dan ia membantah semua tuduhan dengan menyebutnya sebagai “kebohongan busuk”.
Menteri Dalam Negeri Filipina, Jonvic Remulla, menyatakan bahwa indikasi awal mengarah pada dugaan pelanggaran seksual paling keji. Namun ia menekankan pentingnya kepastian forensik sebelum mengumumkan hasil resmi. “Kami ingin yakin sebelum merilis temuan. Data forensik akan lengkap dalam sepekan,” kata Remulla. Direktur Biro Investigasi Nasional Filipina, Melvin Matibag, mengonfirmasi pihaknya telah berkomunikasi dengan FBI terkait kasus ini, termasuk kemungkinan keterlibatan yurisdiksi asing karena Thomas Sr pernah tinggal di Amerika Serikat dan Meksiko.
Di sisi keluarga, Meghan Markle akhirnya angkat bicara melalui juru bicaranya. Perempuan 45 tahun itu mengaku sangat terpukul dengan kabar yang mencuat dalam 24 jam terakhir dan menyatakan simpatinya kepada anak-anak yang mungkin menjadi korban. Ia juga menegaskan bahwa jarak antara dirinya dan sang ayah, termasuk keputusannya melarang kontak dengan cucu-cucunya, semata-mata untuk melindungi anak-anak. “Saya berharap sekarang dapat dipahami bahwa apa pun distorsi pemberitaan selama ini, keputusan saya memiliki satu alasan: melindungi mereka,” ujarnya.
Thomas Markle Sr dikenal sebagai mantan direktur tata cahaya Hollywood yang bekerja pada sejumlah produksi televisi ternama seperti Married... with Children dan General Hospital. Ia pindah dari Meksiko ke Cebu City pada Januari 2025, tetapi kemudian kembali ke Amerika Serikat untuk perawatan medis setelah mengalami penggumpalan darah serius yang berujung amputasi kaki kiri. Thomas Jr mengaku butuh sembilan jam untuk menandatangani seluruh dokumen penyerahan barang bukti dan berharap kasus ini sampai ke pengadilan. “Saya siap terbang ke Florida atau ke mana pun ia berada untuk melihatnya diadili,” katanya.
Kasus ini menyita perhatian publik internasional bukan hanya karena melibatkan nama besar keluarga kerajaan Inggris, tetapi juga karena dimensi lintas negaranya. Penyidik masih menelusuri siapa yang mengunduh file tersebut dan apakah Thomas Sr memiliki kendali atas materi itu pada rentang waktu yang relevan. Pertanyaan soal identitas korban juga belum terjawab. Sementara itu, otoritas Filipina berjanji menuntaskan penyelidikan secara transparan. Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa kejahatan siber terhadap anak tidak mengenal batas negara dan menuntut kerja sama lintas yurisdiksi yang lebih erat, terutama dalam hal ekstradisi dan berbagi bukti digital. Akankah penyelidikan ini membuka peta jaringan yang lebih luas, atau berhenti pada satu tersangka berusia 82 tahun?



