Tardozzi Bela Marquez: Desakan Jaminan Keselamatan Qatar, Bukan Penolakan
Baca dalam 60 detik
- Manajajer Ducati Davide Tardozzi menegaskan Marc Marquez tidak menolak tampil di Qatar, melainkan meminta jaminan keselamatan.
- Tardozzi menyoroti sikap sejumlah pembalap yang vokal di luar forum namun bungkam saat bertemu penyelenggara.
- Desakan jaminan evakuasi dan rencana cadangan menjadi ujian bagi penyelenggara MotoGP jelang balapan di Lusail.

Manajer tim Ducati, Davide Tardozzi, angkat bicara membela Marc Marquez di tengah polemik jelang Grand Prix Qatar. Tardozzi menegaskan bahwa Marquez tidak pernah menyatakan penolakan untuk berlaga di Sirkuit Lusail, melainkan hanya meminta jaminan keselamatan yang jelas dari penyelenggara.
Pernyataan itu muncul setelah serangkaian pertemuan antara pembalap dan petinggi MotoGP di Phillip Island, Australia, akhir pekan lalu. Sebanyak tiga perempat pembalap dilaporkan menolak terbang ke Qatar jika situasi keamanan di kawasan Teluk belum stabil. Namun, sikap Marquez menjadi sorotan karena statusnya sebagai juara dunia sembilan kali dan pembalap paling berpengaruh di grid.
Dalam wawancara dengan Sky Sport, Tardozzi mengkritik rekan-rekan Marquez yang dinilainya berani bersuara keras di luar forum, tetapi diam saat berhadapan langsung dengan penyelenggara. “Banyak pembalap menyampaikan pendapat yang sama kerasnya, bahkan lebih keras, di luar pertemuan. Tapi begitu masuk ruang rapat, mereka bungkam,” ujar Tardozzi dengan nada tegas.
Tekanan terhadap penyelenggara sebenarnya bukan hal baru. Konflik bersenjata di Timur Tengah antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran masih berkecamuk, membuat sejumlah event olahraga di kawasan itu terancam. Contohnya, Dakar Rally 2027 dipastikan batal digelar di Arab Saudi. Liberty Media selaku pemilik MotoGP dan Formula 1 pun bersikeras melanjutkan balapan di Qatar dan Abu Dhabi dengan alasan komitmen kontrak.
Di sinilah dilema etis dan komersial bertemu. Di satu sisi, pembalap berhak atas rasa aman. Di sisi lain, tim dan penyelenggara terikat perjanjian yang mengatur partisipasi. Tardozzi menjelaskan bahwa pembalap adalah karyawan tim, sehingga keputusan akhir mengenai kehadiran ada di tangan tim dan pabrikan. “Penyelenggara mendengarkan pendapat pembalap, tetapi hubungan kontraktualnya adalah dengan tim. Jadi, saat mengambil keputusan, mereka harus berkonsultasi dengan tim,” imbuhnya.
“Marc hanya meminta rencana keselamatan organisasi, tidak lebih. Dia tidak mengatakan ‘saya tidak mau pergi’,” kata Tardozzi menirukan sikap Marquez.
Pendapat senada datang dari Uccio Salucci, kepala tim VR46. Ia menegaskan bahwa pembalap, mekanik, dan staf teknis bebas menentukan sikap, tetapi tanggung jawab apakah seorang karyawan berangkat atau tidak tetap berada di tim dan pabrikan. Pernyataan ini mempertegas bahwa keputusan final bukan berada di tangan individu pembalap.
Bagi Marquez, sorotan ini bukan yang pertama. Beberapa waktu terakhir ia sempat berselisih dengan penyelenggara, termasuk menolak ikut balapan ekshibisi kart di Motegi dan menentang perubahan format akhir pekan untuk 2027. Sikap kritisnya memang kerap membuatnya menjadi pusat perhatian, tetapi Tardozzi menilai hal itu wajar karena Marquez adalah sosok paling karismatik di paddock.
Yang menarik, Marquez sendiri enggan berkomentar panjang. Kamis lalu ia hanya mengatakan, “Untuk soal itu, saya memilih tidak berpendapat dulu.” Namun, sikap diamnya justru memicu spekulasi. Tardozzi pun menegaskan bahwa Marquez tidak pernah menolak, melainkan mencari jalan tengah agar balapan tetap berlangsung dengan protokol keselamatan yang memadai.
Jika jaminan keselamatan terpenuhi, termasuk rencana evakuasi dan antisipasi keadaan darurat, Tardozzi memastikan tim Ducati siap berangkat. “Tentu ada situasi yang membuat Anda berpikir sebaiknya tidak pergi. Tapi jika syarat keselamatan terpenuhi, kami akan pergi,” tutupnya.
Pertanyaannya kini: akankah penyelenggara MotoGP memberikan jaminan tertulis yang diminta para pembalap, atau justru memaksakan balapan dengan mengandalkan komitmen kontrak? Jawabannya akan menentukan tidak hanya kelangsungan GP Qatar, tetapi juga tingkat kepercayaan pembalap terhadap manajemen seri di masa depan.



