Bank Dunia: Modal Melimpah, Tapi AI Picu Kenaikan Biaya Pinjaman Global
Baca dalam 60 detik
- Presiden Bank Dunia Ajay Banga menegaskan ketersediaan modal bukan masalah utama di tengah kekhawatiran lonjakan suku bunga akibat permintaan AI.
- Bank Dunia memobilisasi $112 miliar tahun lalu, tiga kali lipat dari tiga tahun sebelumnya, dengan fokus pada infrastruktur di pasar berkembang.
- Banga mengakui AI akan transformatif dan menguntungkan, tetapi memperingatkan adanya 'bumps in the road' yang tidak terduga.

Presiden Bank Dunia Ajay Banga menyatakan bahwa kekhawatiran tentang kelangkaan modal global tidak berdasar. Dalam wawancara dengan CNBC, Selasa (27/10/2026), ia menegaskan bahwa ketersediaan dana bukanlah persoalan mendesak, meskipun permintaan yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI) telah meningkatkan biaya pinjaman di seluruh dunia.
Pernyataan Banga muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa adopsi AI secara masif akan menyerap modal dalam jumlah besar, sehingga mendorong suku bunga lebih tinggi dan mempersulit pembiayaan bagi negara berkembang. Namun, Bank Dunia mencatat telah memobilisasi $112 miliar pada tahun lalu, sekitar tiga kali lipat dari jumlah tiga tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa aliran dana ke pasar berkembang tetap kuat.
Banga mengakui bahwa investor mungkin cemas terhadap praktik pembiayaan sirkular dan model bisnis yang terkait dengan AI. Meski demikian, ia menilai pasar berkembang tidak mengalami keraguan serupa karena investasi di kawasan ini lebih berfokus pada infrastruktur fisik seperti jembatan dan jalan. "Negara-negara berkembang juga melihat pemanfaatan AI dalam skala lebih kecil," ujarnya, seraya menambahkan bahwa negara maju justru membutuhkan pendanaan untuk kasus penggunaan besar, yang ia sebut sebagai kebutuhan yang "sangat berlawanan".
Lebih lanjut, Banga menekankan bahwa modal swasta yang dikelola lembaga keuangan internasional tersebut tidak mengalir ke pemerintah. Dengan demikian, Bank Dunia dapat menghindari kekhawatiran akan krisis utang yang membayangi beberapa negara akibat kenaikan imbal hasil obligasi. "Secara umum, saya masih percaya bahwa AI akan menjadi transformatif dan menguntungkan," kata Banga. "Tetapi semua orang melihat rintangan di sepanjang jalan, dan tidak ada yang tahu kapan rintangan berikutnya akan datang."
"Secara umum, saya masih percaya bahwa AI akan menjadi transformatif dan menguntungkan. Tetapi semua orang melihat rintangan di sepanjang jalan, dan tidak ada yang tahu kapan rintangan berikutnya akan datang." โ Ajay Banga, Presiden Bank Dunia
Komentar Banga muncul menjelang serangkaian keputusan suku bunga dari bank sentral di berbagai belahan dunia. Para ekonom dan pembuat kebijakan moneter tengah berupaya mengukur dampak adopsi AI yang meluas terhadap permintaan modal dan lapangan kerja. Bank Dunia, yang didirikan pada 1944, bertujuan mengakhiri kemiskinan dan mendukung kemakmuran ekonomi melalui kemitraan dan pendanaan global. Sebelum memimpin Bank Dunia, Banga menjabat sebagai wakil ketua di General Atlantic dan CEO Mastercard.
Bagi Indonesia, pernyataan Banga ini relevan mengingat kebutuhan pembiayaan infrastruktur yang besar dan semakin besarnya peran AI dalam transformasi digital. Meskipun pasar berkembang disebut tidak mengalami keraguan investor, Indonesia tetap perlu waspada terhadap volatilitas arus modal global yang dipengaruhi kebijakan suku bunga negara maju. Pemerintah dan pelaku usaha dalam negeri dapat memanfaatkan momentum ketersediaan modal ini untuk mendanai proyek-proyek strategis, terutama yang mendukung konektivitas dan adopsi teknologi tepat guna.
Ke depan, fokus akan tertuju pada bagaimana bank sentral utama dunia merespons dinamika ini. Jika AI benar-benar mendorong kenaikan biaya pinjaman secara struktural, negara berkembang perlu strategi pembiayaan yang lebih inovatif. Namun, jika kekhawatiran itu berlebihan, peluang emas untuk mempercepat pembangunan masih terbuka lebar. Pertanyaannya, mampukah Indonesia dan negara berkembang lain memanfaatkan kelimpahan modal ini sebelum gelombang berikutnya datang?



