Pramono-Suahasil Bahas APBN hingga Obligasi Jakarta, Sinyal Baru Hubungan Pusat-Daerah
Baca dalam 60 detik
- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menerima kunjungan Menteri Keuangan Suahasil Nazara di Balai Kota untuk membahas dukungan APBN bagi pembangunan infrastruktur dan LPDP Jakarta.
- Pertemuan ini juga membahas rencana penerbitan obligasi daerah, meski hasilnya belum diungkap ke publik.
- Kolaborasi pusat-daerah ini menjadi ujian bagi pemerintahan Prabowo dalam menyelaraskan fiskal nasional dengan kebutuhan pembangunan ibu kota.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Menteri Keuangan Suahasil Nazara bertemu di Balai Kota, Jakarta Pusat, Selasa (27/10), membahas dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk sejumlah proyek strategis di ibu kota. Pertemuan ini menjadi sinyal penting bagi arah pembangunan Jakarta ke depan, terutama setelah transisi kepemimpinan di Kementerian Keuangan.
Dalam unggahan di akun Instagram resminya, Pramono menyatakan bahwa diskusi mencakup rencana pembangunan dan perbaikan infrastruktur, mulai dari transportasi publik, hunian, hingga renovasi gedung sekolah. Dukungan APBN melalui Kementerian Keuangan disebut menjadi salah satu pilar pembiayaan yang diharapkan bisa mempercepat realisasi proyek-proyek tersebut.
Selain infrastruktur, pertemuan itu juga membahas program beasiswa LPDP Jakarta yang direncanakan mulai berjalan tahun depan. Program ini digagas untuk memberi kesempatan bagi mahasiswa asal Jakarta menempuh pendidikan S2 dan S3 di luar negeri. Sejak kemunculannya pada 2011, LPDP berada di bawah tanggung jawab Menteri Keuangan, sehingga sinergi dengan pemerintah daerah menjadi krusial.
Yang tak kalah menarik, pertemuan ini sejatinya sempat dijadwalkan pada Senin (26/10). Saat itu, Pramono menyebut akan membahas penerbitan obligasi Jakarta bersama Menteri Keuangan. Namun, dalam unggahan terbaru, hasil spesifik soal obligasi tidak diungkap. Padahal, wacana obligasi daerah telah menjadi diskusi panjang antara Pemprov DKI dan Kemenkeu.
Sebelumnya, eks Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sempat memberi lampu hijau bagi Jakarta untuk menerbitkan obligasi, tetapi sekaligus mempertanyakan urgensinya. "Kalau mau terbitin, terbitin saja. Itu kan otonomi sendiri," ujarnya awal September lalu. Namun, ia juga menyindir, "Kalau uangnya kebanyakan, buat apa ngutang?" Pernyataan itu mencerminkan dilema klasik: di satu sisi, obligasi bisa menjadi alternatif pembiayaan infrastruktur; di sisi lain, ada kekhawatiran soal beban utang daerah.
Di bawah kepemimpinan Suahasil Nazara yang dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 14 September, pembahasan obligasi tampaknya masih berlanjut. Suahasil dikenal sebagai birokrat fiskal berpengalaman, dan pertemuannya dengan Pramono bisa menjadi penanda bahwa pemerintah pusat ingin memastikan setiap instrumen pembiayaan daerah selaras dengan kebijakan fiskal nasional. Jakarta sebagai barometer ekonomi nasional tentu menjadi perhatian khusus.
Bagi warga Jakarta, dukungan APBN untuk transportasi publik dan hunian layak menjadi angin segar di tengah kemacetan dan kesenjangan perumahan yang belum tuntas. Sementara LPDP Jakarta menjanjikan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, meski perlu diiringi transparansi seleksi agar tidak sekadar menjadi program simbolik.
Ke depan, publik akan menantikan apakah obligasi Jakarta benar-benar direalisasikan atau justru ditinggalkan. Keputusan itu tidak hanya berdampak pada keuangan daerah, tetapi juga menjadi preseden bagi provinsi lain yang ingin mengeksplorasi pembiayaan kreatif. Jika Jakarta berhasil, model ini bisa direplikasi; jika gagal, bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya disiplin fiskal. Pertanyaannya, akankah Suahasil memberikan restu yang lebih tegas daripada pendahulunya?



