Norris Akui McLaren Kini Tim Tercepat Keempat di F1
Baca dalam 60 detik
- Lando Norris menyebut McLaren telah merosot menjadi tim tercepat keempat setelah finis kelima di GP Amerika Serikat.
- Upgrade mobil diklaim berfungsi, tetapi belum mampu mengatasi kelemahan di tikungan lambat.
- Hasil di Austin membuat McLaren dan Red Bull sama-sama mengoleksi poin di perebutan posisi ketiga konstruktor dengan lima seri tersisa.

Lando Norris tidak lagi menyembunyikan kenyataan pahit yang menimpa McLaren. Setelah finis kelima di Grand Prix Amerika Serikat di Circuit of the Americas, Minggu (20/10/2024), pembalap asal Inggris itu menyatakan bahwa timnya kini berada di urutan keempat dalam hierarki kecepatan Formula 1, jauh dari status juara bertahan yang disandangnya musim lalu.
Norris menuntaskan balapan di belakang Kimi Antonelli, Charles Leclerc, Max Verstappen, dan Lewis Hamilton. Rekan setimnya, Oscar Piastri, finis dua peringkat di bawahnya, yakni posisi ketujuh. Hasil ini kontras dengan performa McLaren kurang dari setahun lalu yang masih bersaing ketat dalam perebutan gelar juara dunia.
Meski demikian, Norris menegaskan bahwa paket pembaruan mobil (upgrade) yang dibawa ke Austin bekerja sesuai harapan. "Semua berjalan sebagaimana mestinya, tetapi tim lain seperti Ferrari juga membawa pembaruan dan terus mengembangkannya. Kami tidak mendapat peningkatan di area yang benar-benar kami butuhkan, terutama di tikungan lambat. Kami jauh dari level yang diharapkan," ujarnya, seperti dikutip Motorsport.com.
Ia menambahkan bahwa masalah utama terletak pada kurangnya cengkeraman bagian belakang mobil di tikungan berkecepatan rendah. "Kami membutuhkan banyak perbaikan di area itu. Sudah lama menjadi kelemahan kami dan tampaknya sulit diatasi," kata Norris. Ketika ditanya apakah McLaren sekarang menjadi mobil tercepat keempat, ia menjawab singkat, "Ya, itu sudah jelas."
Menyadari tidak memiliki pace untuk bersaing di depan, McLaren mengambil strategi nekat satu kali pit stop. Harapannya, kemunculan mobil safety car atau virtual safety car dapat menguntungkan posisi Norris. "Kami mencoba mengambil peluang. Jika ada VSC atau safety car, kami bisa berada di posisi podium. Bahkan sempat terlihat bisa finis kedua. Saya rasa ini balapan yang baik, pace mobil kuat, dan saya memaksimalkan semuanya," tutur Norris.
Strategi tersebut membuat Norris harus bertahan dengan ban hard yang sudah aus di akhir balapan. Ia sempat menahan laju Verstappen selama beberapa putaran sebelum pembalap Red Bull itu, yang sudah dua kali masuk pit, akhirnya melewatinya. "Begitu dia mengaktifkan mode Overtake dan saya harus menggunakan mode Boost untuk bertahan, dia akan lewat dengan mudah. Setelah itu saya terjebak di lalu lintas dengan ban tua, dan semuanya menjadi sulit," jelasnya.
McLaren juga melakukan pertukaran posisi antar pembalap selama balapan. Norris mengklaim dirinya lebih cepat dari Piastri sepanjang akhir pekan, sehingga keputusan untuk menukar posisi dianggap sebagai langkah yang wajar.
Hasil di Austin membawa implikasi besar bagi perebutan gelar konstruktor. McLaren datang ke Amerika Serikat dengan keunggulan tujuh poin atas Red Bull dalam perebutan posisi ketiga. Kini, kedua tim meninggalkan Austin dengan poin yang sama, sementara lima seri tersisa masih akan menentukan siapa yang berhak finis lebih tinggi di klasemen akhir.
Dengan mobil yang masih kesulitan di tikungan lambat dan pembaruan yang belum sepenuhnya menjawab kebutuhan, McLaren menghadapi ujian berat di sisa musim. Akankah mereka mampu membalikkan keadaan dan mempertahankan posisi tiga besar, atau justru terus terpuruk di belakang rival-rival yang semakin kompetitif?



