Neuralink Bikin Pasien ALS Ucapkan 'Aku Cinta Kamu' ke Istri Lewat Pikiran, Suaranya Direkonstruksi
Baca dalam 60 detik
- Terry Mandable, penyandang ALS, menjadi peserta ketiga uji coba VOICE Neuralink dan berhasil mengirim pesan cinta ke istrinya hanya dengan sinyal otak.
- Implannya, N1, merekam aktivitas saraf di area motorik bicara melalui sekitar 3.000 kanal, lalu perangkat lunak mengubahnya menjadi teks dan suara sintetis yang menyerupai suara aslinya.
- Terobosan ini membuka jalan bagi komunikasi pasien ALS, meski statusnya masih eksperimental dan belum disetujui FDA.

Terry Mandable, pria penyandang sklerosis lateral amiotrofik (ALS), mengirimkan kalimat “I love you” kepada istrinya tanpa menggerakkan bibir. Otaknya yang bekerja, dan suara yang keluar adalah rekonstruksi digital dari pita suaranya sebelum penyakit itu merampas kemampuan bicaranya. Momen itu terekam dalam video Neuralink bertajuk “Speaking With The Mind” yang dirilis September lalu, dan langsung memantik perhatian publik teknologi medis.
Mandable adalah peserta ketiga dalam uji coba eksperimental VOICE yang digelar Neuralink, perusahaan implan otak milik Elon Musk. Ia didiagnosis ALS tipe bulbar pada 2024. Penyakit ini menyerang neuron motorik sehingga otot-otot bicara melemah, kendati tubuh dan mulutnya masih bisa bergerak. Dalam video tersebut, istrinya tampak terkejut ketika kalimat itu muncul di layar dan terdengar melalui pengeras suara. “Ini mengembalikan sebagian hidupnya yang selama ini hilang,” ujarnya, seperti dikutip dari rekaman yang sama.
Cara kerja perangkat ini cukup rumit. Tim bedah Neuralink menanam chip N1 di korteks motorik yang mengatur produksi bahasa. Elektroda mikroskopis menangkap lonjakan listrik yang timbul ketika pasien berniat mengucapkan kata tertentu. Sinyal itu kemudian diterjemahkan oleh algoritma menjadi teks, dan mesin suara Grok Voice membacakannya dengan timbre yang dipelajari dari rekaman suara Mandable sebelum ALS memburuk. Awalnya, ia berlatih dengan menirukan gerakan mulut; lambat laun, sistem mampu menangkap kata-kata yang hanya dibayangkan.
“Neuralink telah mengembalikan suara saya,” kata Mandable melalui sistem tersebut, seperti ditampilkan dalam video. Ia juga menyebut teknologi ini sebagai “anugerah luar biasa” dalam perjuangannya melawan ALS.
Keberhasilan ini bukan yang pertama bagi Neuralink. Sebelumnya, peserta lain dalam uji VOICE, Kenneth Shock, juga telah mencoba teknologi serupa. Perusahaan juga menjalankan studi PRIME yang lebih menekankan pada kendali kursor komputer, dengan pasien ALS Brad Smith menggunakan kloning suara AI untuk membacakan teks yang diketik. Di luar Neuralink, tim peneliti dari UC Davis pada 2024 mempublikasikan studi di The New England Journal of Medicine yang menunjukkan antarmuka otak-komputer lain mampu menerjemahkan upaya bicara menjadi kata-kata bagi penyandang ALS. Persaingan di bidang brain-computer interface (BCI) pun semakin hangat, dengan sejumlah startup dan laboratorium universitas berlomba mengejar presisi dan keamanan jangka panjang.
Meski demikian, Neuralink menegaskan bahwa perangkatnya masih bersifat investigasional dan belum mendapat izin dari Food and Drug Administration (FDA) maupun otoritas regulasi lain. Hasil pada satu pasien tidak serta-merta berlaku universal. Uji VOICE sendiri dirancang sebagai studi kelayakan awal untuk menilai keamanan dan performa implan N1 pada pasien dengan gangguan bicara berat. Durasi implan, risiko infeksi, dan stabilitas sinyal dalam jangka panjang masih menjadi pertanyaan yang harus dijawab melalui data klinis yang lebih luas.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menyimpan implikasi jangka panjang. Dengan populasi lanjut usia yang terus bertambah, kasus penyakit neurodegeneratif seperti ALS diperkirakan ikut meningkat. Teknologi BCI semacam ini kelak dapat menjadi jembatan komunikasi bagi pasien yang kehilangan kemampuan bicara, asalkan tersedia infrastruktur medis dan tenaga ahli saraf yang memadai. Namun, harga implan dan prosedur bedah otak masih akan menjadi penghalang utama di negara berkembang. Regulator seperti BPOM dan Kementerian Kesehatan perlu menyiapkan kerangka uji klinis dan etika medis jika suatu hari teknologi serupa hendak masuk ke pasar domestik.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah mesin bisa membaca pikiran, melainkan seberapa cepat dan seberapa aman teknologi ini dapat diakses oleh mereka yang benar-benar membutuhkannya. Neuralink berencana memperluas uji VOICE ke lebih banyak peserta tahun ini. Jika hasilnya konsisten, bukan tidak mungkin dalam satu dekade ke depan implan otak menjadi prosedur standar bagi pasien ALS di sejumlah negara maju. Namun, tanpa transparansi data dan pengawasan regulasi yang ketat, janji teknologi penyembuh bisa berubah menjadi eksperimen berisiko tinggi.



