Lula Kembali ke Kursi Presiden Brasil, Pasar Keuangan Bergolak
Baca dalam 60 detik
- Luiz Inácio Lula da Silva memenangkan putaran kedua pemilihan presiden Brasil dengan 51,8% suara, mengalahkan Senator Flávio Bolsonaro yang meraih 48,2%.
- Kemenangan Lula memicu kekhawatiran pasar terhadap kebijakan fiskal yang lebih longgar, tercermin dari anjloknya ETF Brasil hampir 20%.
- Dengan kongres yang dikuasai oposisi dan utang publik tinggi, Lula dihadapkan pada tantangan berat untuk menstabilkan ekonomi tanpa mengorbankan program sosial.

Luiz Inácio Lula da Silva resmi memenangkan pemilihan presiden Brasil 2026 setelah membalikkan defisit suara pada putaran pertama, sebuah pencapaian bersejarah dalam lanskap politik negara itu. Menurut hasil penghitungan suara dari Pengadilan Pemilihan Tinggi Brasil, Lula meraih 51,8% suara sah, unggul atas Senator Flávio Bolsonaro yang memperoleh 48,2%. Kemenangan ini menandai pertama kalinya sejak Brasil kembali ke sistem pemilu langsung pada 1989, seorang kandidat yang kalah di putaran pertama mampu bangkit dan menang di putaran kedua.
Kemenangan Lula, politisi veteran berusia 80 tahun, tidak serta-merta diterima oleh lawannya. Flavio Bolsonaro, putra mantan Presiden Jair Bolsonaro, menolak mengakui kekalahan dan menyatakan akan mengajukan permohonan pembatalan hasil pemilu. Ia juga memprotes keputusan Hakim Agung Cristiano Zanin yang memperpanjang waktu pemungutan suara selama dua jam, yang dinilainya "tidak dapat diterima". Perpanjangan itu dilakukan setelah tim Lula melaporkan adanya penangguhan transportasi publik di sejumlah wilayah kunci, sementara tim Bolsonaro juga meminta perpanjangan dengan alasan hujan lebat yang menutup sejumlah tempat pemungutan suara di wilayah selatan, basis pendukung sayap kanan.
Kemenangan Lula tidak hanya berdampak pada politik domestik Brasil, tetapi juga menggagalkan pergeseran ke kanan di Amerika Latin yang didukung oleh Presiden AS Donald Trump. Trump sebelumnya menyebut keunggulan Bolsonaro di putaran pertama sebagai "kemenangan yang sangat, sangat besar". Menurut Daniela Portella Sampaio, peneliti senior keamanan Amerika Latin di lembaga think tank Royal United Services Institute (RUSI) yang berbasis di Inggris, pemerintahan Trump tentu lebih menyukai pemimpin Brasil yang sejalan dengan kebijakan luar negeri AS, terutama saat Washington berupaya memproyeksikan kekuatannya di seluruh Amerika. Lula sendiri diketahui pernah berselisih pendapat secara terbuka dengan Trump.
Pasar keuangan Brasil langsung bereaksi negatif terhadap hasil pemilu. Investor khawatir kemenangan Lula akan menghambat agenda reformasi fiskal dan deregulasi yang dijanjikan Bolsonaro. Hal ini tercermin dari anjloknya exchange-traded fund (ETF) iShares MSCI Brazil (EWZ) hampir 20% dalam perdagangan semalam. Sebelumnya, analis memperkirakan reli pasar jika Bolsonaro menang, mengingat ia dianggap lebih mendukung kebijakan penghematan anggaran. Chris Turner, Kepala Pasar Global dan Riset Regional untuk Inggris & Eropa Tengah di ING, sempat memproyeksikan penguatan mata uang dan obligasi Brasil jika Bolsonaro terpilih.
Lula akan memerintah untuk periode 2027-2030 dengan menghadapi Kongres yang dikuasai Partai Liberal (PL) milik Bolsonaro, yang memiliki kursi terbesar dalam beberapa dekade. Tantangan fiskal juga membayangi. Bank Sentral Brasil mencatat utang bruto pemerintah mencapai 82,9% dari PDB pada Agustus 2026, level tertinggi sejak Maret 2021, akibat suku bunga dua digit, biaya layanan utang yang tinggi, dan belanja wajib yang kaku. Alejo Czerwonko, fellow di Atlantic Council, menilai pemerintahan Lula kemungkinan akan melanjutkan pendekatan "bertahap" dengan membangun kerangka fiskal yang ada sambil berupaya mempertahankan investasi publik dan belanja sosial. Sementara itu, analis Goldman Sachs memperkirakan langkah-langkah "moderat" untuk menahan pertumbuhan belanja pemerintah, disertai kenaikan beban pajak yang sudah tinggi, tanpa reformasi struktural besar.
"Pasar obligasi dan mata uang Brasil akan menguat jika Bolsonaro menang," ujar Chris Turner dari ING, seperti dikutip CNBC, sebelum hasil pemilu diumumkan.
Kemenangan Lula mendapat sambutan positif dari sejumlah pemimpin Amerika Latin. Presiden Peru Keiko Fujimori melalui akun X menyebutnya sebagai "hari demokrasi" bagi rakyat Brasil. Presiden Uruguay Orsi Yamandu juga mengucapkan selamat melalui sambungan telepon dan menyebut Lula sebagai "sahabat". Namun, di sisi lain, hasil ini memperpanjang ketidakpastian politik di kawasan, terlebih dengan penolakan Bolsonaro untuk menerima kekalahan. Sebelumnya, pada hari yang sama, pemimpin Serbia Aleksandar Vucic juga mengakui kekalahan dalam pemilihan parlemen dari gerakan oposisi yang dipimpin mahasiswa, mengakhiri 14 tahun kekuasaannya.
Bagi Indonesia, kemenangan Lula di Brasil dapat menjadi cermin bagaimana negara demokrasi besar menghadapi tekanan pasar dan tuntutan stabilitas fiskal. Seperti Brasil, Indonesia juga memiliki utang publik yang cukup tinggi dan pasar keuangan yang sensitif terhadap sentimen global. Kebijakan fiskal yang hati-hati dan komunikasi yang jelas kepada investor menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan pasar. Perubahan kepemimpinan di Brasil juga dapat memengaruhi dinamika kerja sama Selatan-Selatan, termasuk dalam forum BRICS yang diikuti kedua negara.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Lula mampu meyakinkan pasar bahwa Brasil dapat menstabilkan lintasan utangnya tanpa mengorbankan program sosial yang menjadi janji kampanyenya. Dengan Kongres yang dikuasai oposisi, setiap langkah reformasi akan melalui ujian politik yang ketat. Sementara itu, tekanan dari pendukung Bolsonaro yang menolak hasil pemilu berpotensi memicu ketegangan sosial. Bagaimana Lula menavigasi tekanan domestik dan ekspektasi pasar akan menentukan arah ekonomi Brasil lima tahun ke depan.



