Terlalu Sering Bercinta Justru Bikin Sulit Hamil, Kisah Pasangan Ini Jadi Pelajaran
Baca dalam 60 detik
- Pasangan Ines dan Ross mengaku ditegur dokter fertilitas karena frekuensi hubungan seksual mereka yang dinilai berlebihan.
- Kasus ini menyoroti pentingnya edukasi kesehatan reproduksi, termasuk mitos bahwa makin sering bercinta makin cepat hamil.
- Pakar menekankan kualitas dan waktu ovulasi lebih menentukan keberhasilan konsepsi dibandingkan kuantitas semata.

Keinginan memiliki anak sering kali mendorong pasangan untuk meningkatkan frekuensi hubungan seksual. Namun, sebuah kisah dari pasangan di Inggris menunjukkan bahwa terlalu sering bercinta justru bisa menjadi bumerang. Ines (36) dan Ross (28) mengaku mendapat teguran dari dokter fertilitas karena melakukan hubungan intim empat hingga lima kali sehari saat program kehamilan.
Kisah ini pertama kali diungkap dalam rubrik konsultasi seks sebuah media Inggris. Pasangan yang menikah setelah berpacaran selama empat bulan itu memang memiliki dorongan seksual tinggi. Namun, ketika mereka memutuskan untuk memiliki anak, dokter justru menyarankan agar mereka mengurangi frekuensi. Menurut dokter, hubungan seks setiap dua hari sekali memberi waktu bagi sperma untuk berkembang dengan baik.
Kasus ini bukan sekadar cerita unik. Di Indonesia, pemahaman keliru tentang hubungan antara frekuensi seks dan peluang kehamilan masih sering ditemui. Banyak pasangan yang belum memahami bahwa kualitas dan waktu ovulasi lebih menentukan dibandingkan kuantitas. Edukasi kesehatan reproduksi pun dinilai masih belum memadai, terutama di daerah.
Dalam dunia medis, hubungan seks yang terlalu sering dapat menurunkan kualitas sperma karena cadangan di testis belum sepenuhnya pulih. Meski demikian, tidak ada patokan universal. Setiap pasangan memiliki kondisi biologis yang berbeda. Yang terpenting adalah memantau masa subur dan menjaga kesehatan reproduksi secara keseluruhan.
Kisah Ines dan Ross juga menyoroti dinamika psikologis setelah kehamilan. Setelah mengalami keguguran, mereka mengaku hubungan seks berubah dari eksperimen menjadi bentuk kenyamanan. Kini, dengan seorang bayi berusia 10 bulan, mereka lebih sering melakukan hubungan intim secara singkat namun tetap intim. Ross bahkan berhenti memprakarsai seks untuk mengurangi tekanan pada Ines.
"Kami tidak punya waktu untuk foreplay dua jam. Sekarang lebih seperti sprint, tapi selalu intim," ujar Ross, seperti dikutip dari pengakuannya.
Perubahan ini menunjukkan bahwa keintiman tidak selalu identik dengan frekuensi. Komunikasi dan saling pengertian menjadi kunci menjaga keharmonisan rumah tangga. Banyak pasangan di Indonesia mungkin mengalami hal serupa, namun enggan membicarakannya secara terbuka karena tabu.
Penting bagi pasangan yang sedang program hamil untuk berkonsultasi dengan dokter. Jangan ragu bertanya tentang frekuensi yang tepat, posisi, hingga gaya hidup. Mitos bahwa "makin sering, makin cepat hamil" perlu diluruskan. Kesehatan reproduksi adalah kombinasi antara faktor medis, psikologis, dan gaya hidup.
Ke depan, edukasi seksual yang komprehensif dan berbasis bukti perlu digalakkan, terutama melalui layanan kesehatan primer. Apakah pasangan di Indonesia siap membuka diri dan mencari informasi yang akurat?



