Menkes Bantah Isu Sesak Napas: Foto Tabung Oksigen di Palangka Raya Hanya Edukasi
Baca dalam 60 detik
- Budi Gunadi Sadikin menegaskan kondisinya sehat saat meninjau fasilitas oksigen di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
- Foto yang viral disebut sebagai bagian dari kampanye edukasi mitigasi polusi udara akibat karhutla, bukan insiden medis.
- Pemerintah memperkuat layanan Rumah Oksigen dan Bus Oksigen Keliling untuk melindungi warga serta relawan pemadam dari paparan asap.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin membantah kabar yang menyebut dirinya mengalami gangguan pernapasan saat berada di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Foto dirinya tengah menggunakan tabung oksigen yang beredar di media sosial dipastikan bukan potret kondisi darurat, melainkan bagian dari kunjungan kerja untuk memeriksa kesiapan layanan kesehatan lingkungan.
Melalui akun Instagram pribadinya, Budi menuturkan bahwa dirinya sama sekali tidak merasakan sesak pada momen tersebut. Ia bahkan tetap mengenakan masker KN95 selama peninjauan. Menurutnya, tindakan itu sengaja didokumentasikan agar publik memahami cara kerja fasilitas Rumah Oksigen yang disiapkan sebagai antisipasi dampak polusi udara.
Klarifikasi ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran warga Kalimantan Tengah terhadap kualitas udara, terutama pada musim kebakaran hutan dan lahan. Asap karhutla kerap memicu gangguan pernapasan, sehingga keberadaan sarana oksigen menjadi bagian penting dari mitigasi bencana.
Budi menjelaskan, Rumah Oksigen tidak hanya menyediakan tabung oksigen, tetapi juga ruang istirahat dengan sistem penyaringan udara berteknologi high-efficiency particulate air (HEPA). Warga yang mulai merasakan sesak dapat mendatangi fasilitas itu untuk mendapatkan bantuan oksigen di bawah pengawasan tenaga kesehatan. Jika kondisi memerlukan penanganan lanjutan, pasien akan dirujuk ke rumah sakit terdekat.
"Kalau warga mulai sesak, segera ke Rumah Oksigen terdekat," tulis Budi dalam unggahannya.
Selain fasilitas tetap, pemerintah provinsi menyiapkan Bus Oksigen Keliling sebagai layanan bergerak. Inisiatif ini menyasar daerah yang memiliki keterbatasan akses ke pusat layanan kesehatan. Bagi masyarakat di kawasan terdampak asap, kehadiran bus tersebut diharapkan memperpendek waktu respons sebelum kondisi memburuk.
Perhatian khusus diberikan kepada para relawan pemadam kebakaran. Mereka bekerja di garis depan dengan paparan asap pekat yang berisiko menurunkan kadar oksigen dalam darah. Budi menyebut saturasi oksigen para relawan kadang berada di bawah ambang normal, sehingga pemantauan dan bantuan oksigen menjadi krusial.
Imbauan kepada masyarakat pun disampaikan agar tidak mengabaikan gejala sesak napas. Dalam kondisi udara yang tidak sehat, keluhan ringan bisa berkembang cepat menjadi masalah serius. Warga diminta segera mencari pertolongan ke fasilitas kesehatan atau layanan oksigen terdekat begitu gejala muncul.
Kasus ini memperlihatkan bagaimana narasi di media sosial dapat dengan mudah membelokkan fakta di lapangan. Di sisi lain, momen tersebut justru menjadi kanal edukasi mengenai kesiapan infrastruktur kesehatan menghadapi krisis lingkungan. Ke depan, efektivitas Rumah Oksigen dan Bus Oksigen Keliling akan diuji ketika puncak karhutla tiba. Apakah layanan ini mampu menjangkau seluruh wilayah rentan, atau masih diperlukan penambahan armada dan tenaga kesehatan?



