Russell Enggan Pikirkan Posisi Runner-up: 'P2, P3, P5 Bukan Juara'
Baca dalam 60 detik
- George Russell menegaskan bahwa finis kedua di klasemen pembalap tidak berarti apa-apa baginya, karena target utamanya adalah gelar konstruktor bersama Mercedes.
- Penalti lima detik di GP Amerika Serikat membuat Russell terpuruk ke posisi kedelapan, sementara rekan setimnya Kimi Antonelli memenangi balapan dan hampir mengunci titel.
- Persaingan di belakang Antonelli memanas: hanya satu poin memisahkan Russell dari Lewis Hamilton, dengan Max Verstappen dan Charles Leclerc juga mendekat.

George Russell tidak ambil pusing dengan posisinya sebagai runner-up sementara di klasemen pembalap Formula 1 2025. Pembalap Mercedes itu menegaskan bahwa finis kedua di kejuaraan individu bukanlah tujuan utamanya, terlebih setelah ia gagal finis di urutan kedelapan pada Grand Prix Amerika Serikat di Circuit of the Americas, Minggu (19/10/2025).
Dalam balapan yang dimenangi rekan setimnya, Kimi Antonelli, Russell harus menerima penalti lima detik karena dianggap meninggalkan lintasan dan mengambil keuntungan saat bertarung dengan Oscar Piastri dari McLaren. Akibatnya, ia harus puas finis di posisi kedelapan dan kehilangan poin berharga. Kini, hanya satu poin yang memisahkannya dari Lewis Hamilton di posisi ketiga, sementara Max Verstappen dan Charles Leclerc masing-masing tertinggal enam dan sembilan poin di urutan keempat dan kelima.
Ketika ditanya seberapa penting mempertahankan posisi kedua, Russell dengan tegas menyatakan fokusnya adalah gelar konstruktor. "Bagi saya, yang terpenting adalah kami menang konstruktor. Untuk tim, saya tentu ingin menjadi yang terbaik di antara sisanya, tetapi P2, P3, P5 bukanlah juara, jadi itu tidak berarti apa-apa," ujarnya seperti dikutip Motorsport.com.
Russell juga mengungkapkan fluktuasi mentalnya sepanjang musim ini. Ia mengaku sempat kehilangan tidur karena performa yang kurang memuaskan, terutama ketika tertinggal jauh di awal musim. "Awal tahun, ketika saya tertinggal banyak poin, yang membuat saya terjaga adalah kurangnya performa dan memikirkan bagaimana meningkatkan performa, apa yang saya butuhkan dari mobil, dan apa yang mobil butuhkan dari gaya mengemudi saya," tuturnya.
Perjalanan musim ini memang penuh liku bagi Russell. Ia sempat memangkas defisit 70 poin menjadi hanya 25 poin setelah Silverstone, namun kemudian gap melebar lagi. Momen di Baku sempat memberi harapan, tetapi serangkaian nasib buruk—termasuk penalti grid di Singapura—kembali menghambat laju. "Musim ini memang tidak ditakdirkan untuk saya. Saya tidak merasa pahit. Saya akan melihat kembali area di mana saya bisa berbuat lebih baik, bukan hal-hal di luar kendali yang merugikan saya," ucapnya.
"Saya tidak merasa pahit. Saya akan melihat kembali area di mana saya bisa berbuat lebih baik, bukan hal-hal di luar kendali yang merugikan saya."
— George Russell
Meski demikian, Russell menyadari bahwa nasib buruk bukan satu-satunya faktor. Ia mengakui bahwa performanya sendiri belum mencapai standar yang ia yakini mampu. "Sama banyaknya nasib buruk yang menimpa saya, sama banyaknya pula performa saya yang belum sesuai standar. Itulah kenyataannya," akunya.
Dengan empat balapan tersisa, persaingan di klasemen pembalap semakin ketat. Russell mungkin tidak ambil pusing dengan posisi runner-up, tetapi Mercedes tetap membutuhkan poin maksimal untuk mengamankan gelar konstruktor. Sementara itu, rekan setimnya, Antonelli, tinggal selangkah lagi menuju gelar juara dunia. Akankah Russell mampu mengalihkan fokusnya untuk membantu tim mencapai target utama, atau justru posisinya di klasemen individu akan terus tergerus oleh para pesaing? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: bagi Russell, gelar konstruktor adalah segalanya.



