Tonali dan Fernandes Pikat De Zerbi, Sarr Terancam Tak Punya Masa Depan di Spurs
Baca dalam 60 detik
- Duet Sandro Tonali dan Mateus Fernandes tampil impresif saat Tottenham mengalahkan Chelsea 2-0, memperlihatkan kualitas sebagai fondasi lini tengah baru.
- Performa apik keduanya membuat Pape Matar Sarr semakin tersisih, terlebih selama dipinjamkan ke Juventus, statistiknya jauh di bawah standar.
- Manajemen Spurs didesak bersikap tegas dengan menjual Sarr secara permanen demi memberi ruang bagi proyek jangka panjang De Zerbi.

Kemenangan 2-0 Tottenham Hotspur atas Chelsea di Stamford Bridge pada Sabtu (lalu) bukan sekadar tiga poin. Bagi Roberto De Zerbi, laga itu menjadi pembuktian bahwa duet Sandro Tonali dan Mateus Fernandes di jantung lini tengah layak dijadikan pondasi utama The Lilywhites untuk sisa musim 2026/27.
Keduanya memang didatangkan dengan harga selangit: Fernandes dari West Ham United dengan mahar yang bisa mencapai £85 juta, sementara Tonali ditebus £100 juta. Tekanan untuk membuktikan nilai investasi itu langsung terjawab. Fernandes menjadi pemain dengan kontribusi defensif terbanyak di lapangan (14), termasuk lima tekel dan enam perebutan bola. Ia juga menyentuh bola 124 kali—terbanyak di antara semua pemain—dengan akurasi umpan 92% dan menciptakan dua peluang.
Tonali tak kalah menonjol. Gelandang asal Italia itu menempuh jarak 11,7 km, tertinggi di pertandingan, sembari mencatat empat tekel dan tujuh recovery. Kombinasi keduanya membantu Spurs mencatat clean sheet ketiga musim ini. De Zerbi sendiri telah mencoba empat pasangan berbeda di poros tengah sejak awal musim, tetapi duet Tonali-Fernandes jelas paling efektif.
Konsekuensinya, pemain lain yang masih terikat kontrak harus rela menghadapi masa depan tak pasti. Nama Pape Matar Sarr berada di urutan teratas. Gelandang Senegal itu didatangkan dari Metz pada 2022 dengan harga sekitar £15 juta dan telah mencatat 141 penampilan dalam empat tahun. Namun, ia dipinjamkan ke Juventus pada musim panas lalu—dengan opsi pembelian—setelah De Zerbi melakukan perombakan besar-besaran.
Selama di Turin, Sarr hanya dua kali menjadi starter di liga. Statistiknya kian mempertegas kesenjangan: rata-rata hanya 0,3 dribel sukses per 90 menit dan 4,1 kontribusi defensif per 90 menit. Sementara Tonali dan Fernandes rata-rata mencetak lebih dari 10,3 kontribusi defensif per 90 menit di Premier League musim ini. Angka itu menunjukkan bahwa Sarr kesulitan menggerakkan bola dari posisi dalam—sesuatu yang justru menjadi keunggulan utama duet mahal Spurs.
“Jika De Zerbi ingin sukses dan membawa klub kembali ke papan atas, manajemen harus berani mengambil keputusan brutal. Menjual Sarr secara permanen adalah langkah yang kini perlu diambil,” demikian penilaian yang beredar di kalangan pengamat.
Bagi Tottenham, keputusan ini bukan sekadar soal kualitas individu. Dengan ambisi kembali ke kompetisi Eropa dan tekanan finansial dari belanja besar, mereka tak bisa menampung pemain yang kontribusinya jauh di bawah standar. Melepas Sarr secara permanen—baik ke Juventus maupun klub lain—akan memberi ruang bagi De Zerbi untuk terus membangun skuad sesuai visinya.
Namun, tetap ada risiko: jika Sarr justru bersinar di tempat lain, Spurs bisa menyesal. Tapi dengan performa Tonali dan Fernandes yang kian solid, manajemen tampaknya tak punya alasan untuk ragu. Pertanyaannya kini: apakah Spurs akan bergerak cepat di bursa transfer berikutnya, atau justru menunda dan membiarkan Sarr menjadi beban gaji?



