Modal Rp6 Juta, Stitch Lab ATX Jadi Bisnis Kursus Menjahit yang Laris di Austin
Baca dalam 60 detik
- Eric Lugo merintis Stitch Lab ATX dengan delapan mesin jahit bekas senilai total 375 dolar AS, dan dalam hitungan minggu berubah dari proyek sampingan menjadi sumber penghasilan utama.
- Kelas menjahit yang ia tawarkan kini mencapai dua lusin per bulan dengan tarif 65–85 dolar AS per sesi, seiring melonjaknya minat warga Amerika pada hobi praktis dan kegiatan sosial tatap muka.
- Lugo berencana menambah instruktur dan memperluas jangkauan ke New York, California, hingga Mexico City, meski tetap mempertahankan format kelas kecil.

Eric Lugo memulai Stitch Lab ATX pada Mei 2025 sebagai proyek sambilan. Namun sebelum bulan itu berakhir, ia kehilangan pekerjaan tetapnya sebagai pembukuan di sebuah firma humas lokal, dan dalam hitungan menit memutuskan untuk menekuni usaha kursus menjahit itu sepenuhnya. Kini, pada usia 29 tahun, pria asal Austin, Texas, tersebut menjalankan studio yang rutin menggelar sekitar dua lusin kelas per bulan, dengan sebagian besar sesi terjual habis sejak dibuka sebulan sebelumnya.
Keputusan Lugo mencerminkan pergeseran yang lebih luas: masyarakat Amerika kian menggelontorkan uang untuk hobi di tengah tekanan biaya hidup. Analisis data kartu Bank of America mencatat belanja pada kategori hobi—dari toko kerajinan hingga perlengkapan luar ruang—naik 7,9 persen pada Agustus 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Fenomena yang oleh bank itu disebut "funflation" ini menjadi lahan subur bagi usaha kecil yang menawarkan pengalaman langsung, bukan sekadar barang.
Bagi Lugo, modal awal yang dikeluarkan relatif kecil. Ia membeli delapan mesin jahit bekas melalui Facebook Marketplace dengan total 375 dolar AS, lalu memanfaatkan gudang milik seorang teman yang kosong selepas jam kerja. Sebelum membuka kelas perdana, ia mengumpulkan kerabat dan sahabat untuk menguji kurikulumnya. Ketika tawaran menguat pada September 2025, ia mulai menggandeng bisnis lokal untuk menggelar acara pop-up, termasuk sesi menjahit sambil menikmati minuman di sebuah tempat pembuatan bir, dan aktif memasarkan diri lewat TikTok.
Stitch Lab ATX tidak hanya menjual keterampilan menjahit. Lugo membangun ruang yang ia sebut sebagai "zona tanpa penghakiman", tempat orang bisa belajar tanpa rasa malu, terutama bagi komunitas Latin dan warga kulit berwarna. "Saya rasa komunitas sangat dibutuhkan, apalagi di tengah situasi dunia saat ini," ujarnya seperti dikutip CNBC Make It. Pendekatan ini sejalan dengan kebangkitan "hobi nenek" seperti merajut dan scrapbooking, yang diminati generasi muda sebagai pelarian dari layar ponsel.
Keberhasilan Lugo juga ditopang oleh model bisnis yang luwes. Selain kelas reguler, ia menerima pesanan kelas privat untuk acara seperti pesta lajang atau retret perusahaan, rata-rata satu kali per bulan. Sejak Agustus, ia meluncurkan program Sew It Forward, di mana peserta dapat memenangkan mesin jahit baru, perlengkapan, dan kelas gratis dengan menceritakan alasan mereka ingin belajar menjahit di media sosial. "Saya bersyukur atas dukungan yang saya terima, dan sekarang saya ingin mengembalikannya kepada komunitas," kata Lugo.
Rencana ekspansi mulai terwujud. Lugo baru saja merekrut dua instruktur paruh waktu untuk menambah kapasitas hingga 30 lokakarya per bulan. Meski begitu, ia berkomitmen menjaga kelas tetap intim agar bantuan personal dan interaksi sosial tetap terjaga. Dalam jangka panjang, ia membidik New York City, sejumlah kota di California, bahkan Mexico City. "Saya hanya ingin terus melakukan apa yang saya lakukan di seluruh dunia," ujarnya.
Bagi pasar Indonesia, kisah Stitch Lab ATX menawarkan cermin bagi pelaku usaha mikro dan komunitas kreatif. Dengan biaya modal yang rendah dan permintaan yang tumbuh terhadap pengalaman tatap muka, kursus keterampilan seperti menjahit, merajut, atau kerajinan tangan berpotensi menjadi model usaha yang tahan banting, terutama di kota-kota besar dengan ruang komunitas yang terbatas. Pertanyaannya, apakah ekosistem lokal—dari ketersediaan ruang hingga daya beli—siap menampung gelombang minat serupa, atau justru akan tersandung pada biaya sewa dan akses pasar digital?



